Calon Dokter Spesialis Rentan Depresi, Dampak dari Beban Pendidikan Yang Berat?

Opini67 Views

 

Penulis: Yolanda Anjani | Mahasiswa, Aktivis Dakwah

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Belakangan ini berita mengenai banyaknya calon dokter spesialis yang mengalami gejala depresi pada hasil skrining oleh kemenkes menjadi bahan obrolan publik. Hasil skrining dari 12.000 PPDS, tercatat bahwa 2.716 PPDS mengalami gejala depresi.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan seperti ditulis laman disway.id (21/4/2024) mengungkapkan bahwa sebanyak 22,4 persen mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Indonesia mengalami depresi.

“Kesulitannya itu karena kita full kerja dan harus membagi waktu untuk belajar juga. Sedangkan ilmu yang dipelajari itu sudah ilmu yang lebih spesifik dan lebih tinggi, jadi lebih berat,” ungkapnya.

“Disambi dengan pekerjaan sehari-hari, pelayanan untuk rumah sakit ya itu capek. Berat dan capek,” tambah Mahasiswi dari UNAIR yang menolak untuk disebutkan namanya.

Meskipun demikian, ia menyebut masih banyak hal yang membuatnya bertahan, salah satunya passion.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi, mengatakan bahwa PPDS menjalankan pelayanan dan juga mendapatkan pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah tugas ilmiah, bimbingan, dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan ke pasien.

Adib juga menyatakan bahwa seharusnya PPDS mendapatkan hak insentif. Karena PPDS bergerak sebagai tenaga medis, tenaga kesehatan yang berada pada institusi pelayanan.

Pemberian insentif terhadap PPDS sudah diatur dalam Undang-Undang Pendidikan Kedokteran Tahun 2013, disebutkan secara jelas pada pasal 31. Dimana PPDS tidak hanya berhak mendapatkan insentif, tapi juga memperoleh perlindungan hukum dan waktu istirahat.

Dikutip dari liputan6.com (19/04/24), dan dinyatakan oleh Tommy Dharmawan, sebagai Ketua Junior Doctors Network (JDN) Indonesia bahwa faktor-faktor yang menyebabkan PPDS mengalami rentan depresi ini selain dari tidak adanya gaji sebagai tenaga medis ketika sedang menempuh pendidikan, dikarenakan beban kerja PPDS yang menumpuk, dan juga beban administrasi yang diberikan kepada mereka.

Terlalu tingginya fokus pada kehidupan dunia dan perasaan kurang dalam apa pun yang nyata atau dirasakan, pasti akan berdampak buruk pada kesehatan mental. Perlu memperkuat akidah dengan memiliki atau memahami tujuan hidup untuk apa kita diciptakan.

Selain itu sistem dalam kehidupan kita juga berpengaruh sehingga memberi dampak pada kehidupan setiap masyarakatnya. Bagaimana sistem ekonominya, sosial, bahkan juga sistem pendidikannya.

Sistem pendidikan dalam kapitalisme ini terfokus pada bisnis dan korporasi. Dengan sistem seperti ini menjadikan pelajar didedikasikan untuk dunia kerja, perkembangan industri, dan korporasi.

Tekanan menjadi tenaga medis, pendidikan yang mahal, perundungan di lingkungan kedokteran, dan faktor lain menjadikan masalah semakin kompleks sehingga berdampak pada calon dokter spesialis rentan mengalami depresi.

Kita membutuhkan sistem pendidikan yang shahih di bawah naungan islam yang menerapkan syariat secara kaffah (menyeluruh). Dasar sistem pendidikan islam adalah akidah. Sehingga menghasilkan output pelajar yang kokoh dengan keimanannya dan insyaAllah akan jauh dari gejala-gejala ganggungan kejiwaaan atau depresi dan lainnya.

Pemikiran (fikrah) pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapan (thariqoh)-nya, yakni sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah islam. (muslimahnews.net)

Kisah-kisah para ilmuwan di masa kekhalifahan dapat menjadi contoh nyata. Misalnya pada masa Abbasiyah, ada Al-Khawarizmi yang dikenal sebagai ilmuwan muslim berjasa dalam ilmu matematika. Ada juga Ibnu Sina, yang dikenal sebagai The Father of Farmacology (bapak Farmakologi).

Beliau memiliki kecerdasan luar biasa, bahkan menjadi dokter pertama yang memperkenalkan eksperimen dan hitungan cermat berbagai jenis penyakit menular.

Pendidikan di masa keemasan islam sangatlah gemilang. Maka hal ini dirindukan oleh semua khalayak karena sudah terbukti nyata dengan memberikan perubahan pada masa kini. Wallahu ’alam bishawab.[]

Comment