Cyclone Senyar Hantam Sumatera: Sejauh Mana Kesiapan Mitigasi Bencana Kita?

Opini205 Views

Penulis: Zahwana Maghfira | Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 26 November lalu, masyarakat di Pulau Sumatera diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Imbauan itu bukan tanpa alasan.

Dalam dua hari berturut-turut, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Sumatera dan memicu anomali badai tropis yang dikenal sebagai Cyclone Senyar, dengan kecepatan angin dilaporkan mencapai 80 kilometer per jam.

Dampaknya segera terasa. Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami banjir, tanah longsor, serta gangguan listrik. Permukiman terendam, akses transportasi terputus, dan warga terpaksa mengungsi.

Dari kejauhan, peristiwa ini tampak sebagai kedahsyatan alam yang sulit dikendalikan. Namun jika dilihat lebih dekat, Cyclone Senyar juga membuka ruang refleksi yang lebih dalam –  sejauh mana kesiapan kita menghadapi bencana hidrometeorologi?

Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Sumatera merupakan wilayah yang secara rutin menghadapi ancaman hujan lebat, banjir, dan longsor setiap tahun. Sayangnya, kesiapsiagaan belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat risiko tersebut.

Sistem peringatan dini belum merata, sosialisasi kepada masyarakat masih terbatas, dan infrastruktur penahan bencana—seperti tanggul serta drainase—di sejumlah daerah belum berfungsi optimal. Akibatnya, ketika cuaca ekstrem datang, dampak yang muncul sering kali lebih besar dari yang seharusnya.

Pengalaman Sumatera Barat menjadi contoh yang terasa dekat. Setelah perlahan bangkit dari bencana Galodo pada 2024, sebagian wilayah kembali menghadapi musibah serupa. Di sejumlah daerah lain di Sumatera, pola yang sama juga terulang: bencana datang saat pemulihan belum sepenuhnya selesai. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali terbuka.

Selain kerusakan fisik, Cyclone Senyar meninggalkan jejak trauma yang tidak ringan. Banyak keluarga kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga. Aktivitas pendidikan dan ekonomi sempat lumpuh, sementara kondisi pengungsian yang terbatas berpotensi memicu tekanan psikologis bagi para penyintas. Dalam konteks ini, bencana tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang daya tahan sosial masyarakat.

Kerentanan tersebut, antara lain, berkaitan dengan minimnya upaya mitigasi yang bersifat menyeluruh. Tidak sedikit warga yang menerima informasi cuaca secara terbatas atau tidak memiliki pengetahuan memadai tentang langkah menghadapi bencana.

Infrastruktur pendukung di beberapa daerah juga belum dalam kondisi ideal. Bahkan, di sejumlah kasus, sistem peringatan dini baru aktif ketika bencana sudah menimbulkan kerusakan.

Situasi ini menunjukkan bahwa mitigasi bukan semata persoalan teknologi atau anggaran, melainkan juga perencanaan dan literasi kebencanaan.

Di sisi lain, distribusi informasi yang belum seimbang turut memperumit keadaan. Ketergantungan pada media sosial sebagai sumber utama informasi sering kali menempatkan masyarakat pada risiko misinformasi.

Ketika informasi tidak akurat atau terlambat, kesempatan untuk bersiap menjadi semakin sempit. Krisis pun membesar, bukan hanya karena cuaca ekstrem, tetapi juga karena lemahnya koordinasi dan kesiapsiagaan.

Mitigasi bencana hidrometeorologi sejatinya dapat dilakukan melalui beberapa langkah yang saling melengkapi. Peningkatan dan perawatan infrastruktur, seperti tanggul, drainase, dan sistem penampungan air, perlu disesuaikan dengan standar risiko wilayah. Edukasi publik juga menjadi kunci, baik melalui sekolah, komunitas, maupun ruang-ruang sosial lainnya.

Selain itu, perluasan sistem peringatan dini dengan informasi yang mudah dipahami masyarakat sangat mendesak. Semua itu memerlukan koordinasi erat antara pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan komunitas lokal.

Di tingkat individu, kesiapsiagaan juga memegang peran penting. Mengenali tanda-tanda cuaca ekstrem, menyiapkan perlengkapan darurat, serta merancang rencana evakuasi keluarga merupakan langkah sederhana yang dapat berdampak besar. Jika dilakukan secara konsisten, upaya ini mampu mengurangi risiko dan kerugian ketika bencana datang.

Cyclone Senyar barangkali bukan yang terakhir. Indonesia akan terus hidup berdampingan dengan potensi cuaca ekstrem. Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi “apa yang dilakukan badai kepada kita”, melainkan “apa yang telah kita siapkan untuk menghadapi badai berikutnya”.

Minimnya mitigasi mencerminkan tantangan dalam perencanaan dan kesadaran bersama. Jika dibiarkan, beban material dan mental dari bencana mendatang akan semakin berat.

Pada akhirnya, Cyclone Senyar menjadi pengingat bahwa alam tidak menunggu kesiapan manusia. Namun manusia selalu memiliki kesempatan untuk belajar dan berbenah.

Mitigasi bencana hidrometeorologi adalah tanggung jawab kolektif—melibatkan negara, komunitas, dan individu.

Dengan infrastruktur yang lebih siap, edukasi yang berkelanjutan, sistem peringatan dini yang inklusif, serta kesadaran bersama, dampak bencana di masa depan dapat ditekan.

Hujan deras mungkin akan terus turun di malam-malam tertentu. Namun dengan kesiapsiagaan yang matang, rasa aman dan ketenangan tetap bisa dijaga.

Pelajaran terpenting dari Cyclone Senyar adalah bahwa tantangan terbesar tidak selalu datang dari badai itu sendiri, melainkan dari sejauh mana kita siap menghadapinya.[]

Comment