Penulis: Dr. Shamsi Ali, LC, M.A, PhD| Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation New York
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia Muslim saat ini berada dalam kondisi yang paradoks. Di satu sisi, Islam berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Angka mualaf meningkat, dan posisi umat Islam semakin menguat, termasuk dalam bidang politik.
Sebagai contoh, Kota New York memiliki populasi Muslim yang signifikan, dan Islam menjadi salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat.
Namun di sisi lain, umat Islam (Ummah) menghadapi berbagai tantangan serius. Islamofobia masih marak di berbagai negara, penderitaan terjadi di wilayah seperti India dan Gaza/Palestina, ditambah konflik internal di dunia Islam, seperti ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Jawabannya adalah Iman dalam Makna yang Sesungguhnya
Jawaban atas berbagai persoalan tersebut terletak pada pemahaman Al-Iman (iman) dalam makna yang sebenarnya. Allah SWT mengingatkan bahwa iman harus berakar kuat di dalam hati dan tercermin dalam perbuatan nyata (QS. Ibrahim [14]: 24–25).
Sayangnya, iman kita sering kali bersifat emosional, tidak memiliki akar yang kuat dan tidak dibuktikan dengan amal nyata. Al-Hasan Al-Basri pernah mengingatkan:
“ليس الإيمان بالتمني ولا بالتحلي ولكن الإيمان ما وقر في القلب وصدقه العمل”
“Iman bukanlah sekadar angan-angan atau hiasan belaka, tetapi iman adalah sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan.”
Dengan kata lain, iman sejati bukan sekadar pengakuan lisan atau tampilan lahiriah, melainkan keyakinan mendalam di dalam hati yang terwujud dalam sikap dan tindakan nyata.
Teladan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan contoh nyata bagaimana iman mampu mengubah individu dan masyarakat. Dalam waktu 13 tahun, beliau berhasil membentuk pribadi-pribadi seperti Bilal bin Rabah dan Umar bin Khattab.
Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, beliau mengubah Yatsrib—sebuah kota yang dipenuhi konflik dan peperangan—menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, sebuah masyarakat yang tercerahkan dan beradab.
Masyarakat Madinah dibangun di atas konstitusi yang kokoh, yakni Piagam Madinah, yang menjunjung tinggi martabat manusia serta menegakkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dampak Positif Iman
Iman bukan sekadar perasaan atau emosi di dalam hati, melainkan harus melahirkan dampak positif dalam kehidupan. Berikut beberapa dampak positif iman:
Membentuk Akal dan Hati
Iman membimbing manusia memahami tujuan hidup, mengenal Sang Pencipta, serta memahami fitrah dasar manusia. Iman menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan.
Ketenangan Jiwa
Iman mengurangi rasa takut dan kesedihan, serta menghadirkan ketenangan dan kedamaian batin (QS. Al-Baqarah [2]: 38; Yunus [10]: 62). Inilah jawaban atas salah satu krisis besar dunia modern.
Kejelasan Arah Hidup
Iman memberikan arah yang jelas, sehingga mengurangi kebingungan dan frustrasi dalam menjalani kehidupan.
Kekuatan dan Keteguhan
Iman menanamkan harapan, visi yang jelas, serta keyakinan akan keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat (QS. Al-Maidah [5]: 35).
Rasa Tanggung Jawab
Iman mengajarkan bahwa kehidupan adalah amanah, sehingga mendorong sikap bertanggung jawab dan akuntabilitas.
Dampak Sosial
Iman juga mampu mentransformasi masyarakat. Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-A’raf [7]: 96 bahwa jika suatu negeri beriman dan bertakwa, maka Allah akan melimpahkan barakah (keberkahan) dan kesejahteraan kepada mereka.
Umat Islam saat ini membutuhkan penyembuhan. Kita sedang menghadapi penyakit yang berpotensi melemahkan dan menghancurkan Ummah.
Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh-jauh hari: “Akan datang suatu masa ketika bangsa-bangsa lain saling memanggil untuk menyerang kalian, sebagaimana orang-orang yang mengundang untuk makan dari satu hidangan.”
Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, tetapi kalian seperti buih di atas air. Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menanamkan wahn di dalam hati kalian.”
Para sahabat bertanya, “Apakah itu wahn, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
Mari kita kembali kepada pemahaman iman yang sejati sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan bersama-sama melakukan transformasi individu dan sosial demi menghadirkan perubahan positif bagi diri kita dan dunia.[]











Comment