Penulis: Khaeriyah Nasruddin | Mahasiswi Pascasarjana UIN Alaudin Makassar
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aksi biadab kembali dipertontonkan Israel. Kali ini, para jurnalis menjadi sasaran pembunuhan.
Al Jazeera seperti dikutip Kompas.com (12/8/2025) melaporkan empat jurnalis yang tewas adalah koresponden Mohammed Qreiqeh, juru kamera Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa. Serangan itu menghantam tenda yang digunakan jurnalis di luar gerbang utama rumah sakit.
Sejak 22 bulan terakhir, total 200 pekerja media tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza, menurut laporan CNN Indonesia (12/8/2025). Sementara itu, Committee to Protect Journalists (CPJ) seperti dikutip Humanonline.com (15/8/2025) menyebut sedikitnya 186 jurnalis gugur dalam konflik ini — angka tertinggi sepanjang sejarah peliputan perang modern.
Israel beralasan para jurnalis dianggap anggota kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Hamas. Klaim itu menjadi dalih untuk membunuh mereka. Faktanya, bukan hanya jurnalis, tetapi juga dokter, relawan kemanusiaan, dan warga sipil menjadi korban.
Kejadian ini menuai kecaman dari PBB, lembaga internasional, hingga tokoh dunia. Pembunuhan jurnalis sejatinya bertujuan membungkam media agar tidak menyiarkan genosida di Gaza. Lebih jauh, ini adalah strategi sistematis untuk memutus akses publik terhadap kejahatan Israel, melemahkan suara kemanusiaan, sekaligus menciptakan ruang propaganda.
Membunuh jurnalis berarti bukan hanya menghilangkan nyawa, tetapi juga memadamkan suara perjuangan rakyat Gaza. Israel jelas menunjukkan sikap brutal dan tidak peduli pada hukum internasional.
Namun di sisi lain, penguasa negeri-negeri muslim masih memilih diam. Mereka tak kunjung mengirimkan pasukan untuk membela rakyat Palestina. Diamnya para pemimpin Muslim menjadi bukti nyata pengkhianatan. Padahal, seandainya bersatu, negara-negara muslim mampu menghadapi Israel yang kecil secara geografis maupun populasi.
Sayangnya, persaudaraan umat Islam yang diwariskan Rasulullah kian terkikis oleh sekat nasionalisme. Batas negara menjadi tembok penghalang kepedulian. Konflik di luar wilayah dianggap bukan urusan. Cukup dengan kecaman atau pernyataan simpati, tanggung jawab dianggap selesai.
Inilah wajah umat Islam hari ini: tercerai-berai, sibuk dengan kepentingan masing-masing, hingga membiarkan darah saudara mereka terus ditumpahkan. Nasionalisme dan cinta dunia telah menyandera penguasa-penguasa muslim. Tak heran bila penduduk Gaza sering mengucap, “Cukuplah Allah sebagai penolong kami,” sebab saudara seimannya yang memiliki kekuasaan masih berdiam diri.
Padahal, pembunuhan terhadap para jurnalis dan rakyat sipil justru menunjukkan ketidakberdayaan Israel menghadapi perlawanan rakyat Gaza secara terhormat. Mereka tak pernah bisa memadamkan perjuangan, sebab rakyat Gaza memahami kemuliaan tanah yang diberkahi Allah dan kewajiban untuk menjaganya.
Sudah saatnya umat Islam membuka mata. Membela Gaza bukan sekadar kewajiban moral, tetapi kewajiban agama. Kesadaran terhadap jihad harus kembali tumbuh, sebab hanya dengan itu umat memiliki payung politik dan militer yang mampu melindungi diri. Gaza bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan luka seluruh umat Islam.
Luka itu hanya akan sembuh bila umat kembali pada jalan yang Allah tetapkan: berjihad di bawah satu kepemimpinan yang satu di bawah komando seorang khalifah.[]














Comment