Dari Korban Menjadi Pelaku, Bullying Semakin Meresahkan

Opini321 Views

Penulis: Nurul Soraya Saragih | Aktivis Muslimah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belakangan ini, publik dikejutkan dengan tindak seorang pelajar yang melakukan pembakaran di tempat ia menuntut ilmu. Seperti kejadian di Aceh, dilansir oleh Liputan 6, seorang santri membakar asramanya pada Jum’at dini hari (30/10/2025).

Kerugian materi seperti ditulis kompas.com, ditaksir mencapai 2 Miliar. Belum hilang ketercengangan publik terhadap kejadian itu, seorang siswa SMA 72 Jakarta juga melakukan peledakan di sekolahnya dengan menggunakan bom rakitan di saat pelaksanakan shalat Jum’at di masjid sekolah. Tidak ada korban jiwa, namun puluhan siswa mengalami luka-luka.

Tindak kejahatan yang terjadi di negeri ini semakin hari semakin mengkhawatirkan saja. Begitu banyak kasus muncul di berbagai media yang membuat publik tercengang, miris, dan tak habis pikir.

Rasa aman yang harus nya di rasakan oleh masyarakat makin terkikis. Rentetan kejahatan demi kejahatan seperti dianggap hal yang biasa sehingga begitu mudah menyakiti sesama. P

ihak yang terzalimi juga sering kali tidak mendapatkan keadilan sehingga menuntut balas dengan caranya sendiri. Hingga melakukan hal diluar batas aturan dan norma agama.

Kasus pembakaran asrama dan peledakan sekolah, motifnya disebabkan karena pelaku sering mendapat perundungan oleh temannya. Banyak kasus perundungan yang menjadi PR bagi negeri, mulai dan ranah pertemanan, ruang publik, instansi resmi bahkan seperti instansi pendidikan.

Bullying bak fenomena gunung es. Sebab seringkali para korban tidak mengungkapkan dengan alasan berbagai hal. Kalaupun diungkapkan, seringkali korban susah mendapatkan perlindungan dan keadilan.

Dalam sistem saat ini, sulit mencari perlindungan dan keadilan untuk korban bullying. Apalagi tidak mendapat support sistem dari keluarga terdekat. Membuat korban memilih untuk memendamnya sendiri, tidak sedikit yang berakhir bunuh diri, maupun menyakiti pelaku. Termasuk kasus di atas. Bahkan sampai melibatkan banyak pihak pun menjadi korban.

Kasus-kasus yang terjadi tidak terlepas dari abainya pemerintah menjalankan perannya. Permasalahan yang terjadi karena rusaknya sistem dalam kehidupan yang mengatur masyarakat. Mulai dari ranah keluarga.

Karena biasanya anak korban bullying susah lepas dari bully karena kurangnya support dan perhatian keluarga. Lingkungan yang abai, serta aturan yang tidak menjamin keamanan setiap individu.

Juga menginspirasi pelaku dengan akses tontonan yang tidak bermoral yang mudah diakses. Gaya hidup yang bebas yang akhirnya jika memiliki sedikit power saja, sudah langsung suka menindas.

Islam sangat memperhatikan segala aspek khususnya aspek pergaulan dan bermuamalah. Ketakwaan individu menuntun setiap orang untuk menjaga sikap sesuai aturan syariat.

Memuliakan setiap orang seperti memuliakan dirinya. Islam juga menjaga aspek akal, tidak membiarkan tontonan-tontonan yang memotivasi seseorang untuk bertindak menyakiti orang lain. Sehingga terbentuklah interaksi masyarakat yang aman dan saling mendukung.[]

Comment