Dariani, S. Pd: Gelora Tauhid Satukan Umat

Berita686 Views
Dariani, S. Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sungguh,
Islam datang sebagai agama yang mulia. Karena kemulian itu pula Islam dapat
merangkul perbedaan individu, masyarakat serta negara menjadi satu kesatuan
yang hakiki. Olehnya itu, Islam sangat menjunjung tinggi kalimat Tauhid sebagai
ruh dari Islam.
Lalu
kemudian, ketika ada segelintir orang yang berani bermain – main dengan kalimat
Tauhid dengan cara membakar, maka sudah sangat wajar jika  umat Islam angkat bicara, bahkan bergerak
untuk memberikan efek jera kepada para pelaku tersebut.
Ya, kejadian pembakaran bendera Tauhid
telah memberikan sinyal kuat tentang persatuan umat. Karena pada dasarnya jiwa Tauhid
takkan pernah pudar dari diri seorang manusia yang mengaku dirinya Islam.
Pembuktian akan cinta umat Islam terhadap Tauhid itu dibuktikan pada awal
Desember, tepatnya 02 Desember 2018, dimana jutaan umat Islam berkumpul bersama
di Monumen Nasional (Monas) dengan menyuarakan tujuan yang sama yaitu bela
Islam.
Sebagaimana dilansir dari media Data.com,
jutaan warga dari berbagai wilayah terus berdatangan sejak semalam tadi ke
Monumen Nasional (Monas). Mereka hendak mengikuti Reuni Akbar. Massa kaum muslim
yang datang lengkap dengan atribut bertuliskan kalimat Tauhid.
Ada yang unik. Diungkapkan oleh Iwan Piliang, bersumber dari jumlah IMEI
telepon genggam peserta Reuni Akbar Mujahid 212 yang didapat dari MSC atau
pusat operatornya masing-masing, data tersebut berisi informasi akurat jika
jumlah peserta Reuni Akbar Mujahid 212 kemarin adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa.
Jadi bukan delapan juta, bukan sepuluh juta, tapi tigabelas juta empatratusan
ribu peserta (Eramuslim, 3/13).
Peristiwa ini memang bukan kali
pertama terjadi. Bahkan dua tahun yang lalu, umat Islam bersatu melakukan
perlawanan atas tindakan penistaan Alquran yang dilakukan oleh pejabat negara
di Pulau Seribu. Bagi umat Islam, Alquran adalah ruh kehidupannya dan taatkala
dinistakan maka tidak ada alasan untuk berdiam diri menyaksikan penistaan
tersebut.
Kini
umat Islam kembali bersatu ketika bendera berlafaskan Tauhid di bakar oleh
salah satu ormas. Bahkan ormas tersebut dengan tegas mengklaim bahwa bendera
yang mereka bakar bukanlah bendera Tauhid melainkan bendera dari salah satu
ormas terlarang.
Sungguh
ironi, sudah salah berdalih pula. Pembelaan ini pun didukung oleh kebijakan
rezim bahkan pelaku pembakar bendera Tauhid tersebut hanya di berikan ganjaran
10 hari penjara dan denda dua ribu rupiah, alangkah sangat disayangkan.
sehingga reuni 212 ini dipenuhi dengan kibaran bendera Tauhid, bendera
Rasulullah SAW, bendera umat Islam.
Reuni
212 ini telah menjadi ajang persatuan umat dari berbagai hal. Bagaimana tidak,
para peserta reuni datang dari berbagai latar belakang yang berbeda mulai dari
kalangan pejabat sampai rakyat biasa. Kaya maupun miskin dan bahkan peserta
reuni ada dari kalangan disabilitas.
Sungguh,
mereka digerakkan dengan satu tujuan dan perasaan serta pemikiran yang sama
yakni membela Islam dan menyuarahkan bendera Al –Liwa, Ar-Rayah adalah bendera
Rasulullah SAW dan bendera kaum muslim diseluruh dunia.
Reuni 212 yang telah dilakukan umat Islam di Monumen Nasional
(MoNas) memberikan sinyal kepada kita bahwa persatuan kaum muslim haruslah
berdasar kalimat Tauhid sehingga mampu mengikat tujuan, perasaan dan pemikiran
yang sama antara sesama peserta. Karena hanya Tauhidlah yang mampu menyatuhkan
mereka. Bukan karena ikatan apapun.
Karena Allah telah memerintahkan umat Islam untuk bersatu.
Karena Islam tidak mampu menjadi kekuatan besar jika di internalnya terpecah
bela. Maka dari itu, Allah sangat mengajurkan Umat Islam untuk selalu bersatu
dangan berpegang teguh kepada agama Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai
…” (QS. Ali-Imran: 103).
Oleh karena itu,
kekuatan iman dan takwa kaum muslim dapat mempersaudarakan diantara mereka.
Kencintaan dan ketakutan kaum muslim harus terpaut kepada Allah SWT. Karena
hakikatnya, seorang muslim hidup di dunia ini hanya mengharapkan ke Ridhaan
Allah sepenuhnya bukan yang lain. Dan kemudian, ketika Allah memerintahkan
untuk bersatu dan tunduk di bawah kalimat Tauhid maka tidak alasan untuk
menolak.
Wallahu a’lam.[]

Oleh: 
(Guru SMPN 3 Asera)

Comment