Darurat Kekeringan: Sistem Kapitalisme Sumber Bencana

Opini1338 Views

 

Oleh: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T, Dosen Teknik Sipil dan Pemerhati Sosial

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Para ilmuwan seperti dikutip bbc.com, (26/8/2022) mengatakan bahwa dunia sedang mengalami kekeringan paling meluas dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan sejumlah wilayah memecahkan rekor. Kekeringan “kilat” yang terjadi secara tiba-tiba juga menjadi lebih umum.

Bahkan sekitar 2,7 milyar orang atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah di tahun 2025 jika iklim terus berubah. Krisis iklim global kini menghantui, tak terkecuali di Indonesia. Seperti yang terjadi pada beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengalami kekeringan parah.

Seperti dikutip dari laman pusatkrisis.kemkes.go.id per 3 Agustus 2022, bencana kekeringan terjadi di 5 kecamatan yakni Batu Layar, Gerung, Kuripan, Lembar, Sekotong, Lombok Barat, NTB.

Dilansir dari antaranews.com (22/8/200), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa memasuki periode puncak musim kemarau di 2022, masyarakat perlu mewaspadai ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga suhu dingin yang dapat mengganggu aktivitas.

Bencana alam yang menimpa negeri ini bahkan dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dampak dari kekeringan bukan saja perkara kekurangan air, tetapi menimbulkan problem yang sangat kompleks. Bahkan kematian di beberapa negara yang mengalami kekeringan cukup parah, misal di India, Afrika, dan negara-negara yang secara klimatologi memiliki curah hujan rendah.

Mari sejenak menilik kondisi Indonesia yang merupakan negara peringkat ketiga paru-paru dunia. Seperti diwartakan detik.com (9/11/2021), World Resources Institute (WRI) mengungkapkan bahwa sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Pada awal 1990-an, luasnya ditaksir mencapai 4,25 juta hektar. Selanjutnya, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KLHK), luas hutan Indonesia mencapai 94,1 juta hektar atau 50,1 persen dari total daratan pada 2019.

Namun, apa yang terjadi saat ini? Bencana kekeringan mengintai di beberapa wilayah. Seperti yang terjadi di salah satu kecamatan yakni Cibarusah, Bekasi, Jawa-Barat pada tanggal 16 September 2022. Terjadi kekeringan sejak 14 September 2022 pagi. Akibat kejadian tersebut sekitar 297 unit rumah terdampak kekurangan air bersih.

Sebuah ironi yang suka atau tidak, kini sedang terjadi. Sebenarnya bukan hal baru, sebab beberapa tahun belakangan indikasi kekeringan sudah terlihat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah pure disebabkan oleh kondisi alam?

Pengelolaan Berbasis Kapitalistik

Sistem kapitalisme adalah sebuah sistem yang berpijak pada sistem ekonomi liberal kapitalis. Semua hal disandarkan pada nilai materi, dengan cara mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bahkan, kerusakan alam menjadi hal yang lumrah terjadi karena pengelolaannya berbasis manfaat. Artinya, jika tidak memberi manfaat secara finansial, maka tidak dilakukan. Hanya mengeksploitasi alam begitu rupa, agar cuan lebih banyak didapatkan.

Jika dicermati, penyebab bencana kekeringan sangat kompleks. Salah satu diantaranya adalah deforestasi besar-besaran. Alih fungsi lahan yang terus menerus dilakukan, membuat cadangan air menjadi berkurang. Sehingga, ketika curah hujan rendah atau memasuki musim kemarau, tanah menjadi merekah karena suhu panas. Pun ketika musim hujan, air hanya sekadar membasahi tanah, tidak ter-infiltrasi hingga ke lapisan cadangan air tanah.

Bahkan, rawan terjadi banjir karena rusaknya ekosistem di hulu. Selanjutnya tanah longsor pun sering kali terjadi akibat hilangnya tutupan vegetasi. Artinya, ketika deforestasi dilakukan tanpa perbaikan yang balance, maka tunggulah bencana alam terus mengintai. Itulah yang dilakukan oleh sistem saat ini, sistem yang memang menegasikan aturan Sang Pencipta.

Padahal, jika siklus hidrologi yang telah diatur oleh Sang Maha Pengatur berjalan sesuai teori alam, maka air yang ada di planet biru ini tidak akan menjadi bencana. Faktanya, saat musim hujan tiba, terjadi banjir dimana-mana. Sebaliknya, ketika musim kemarau terjadi kekeringan. Inilah buah tata kelola sistem kapitalisme yang memang rusak dari asasnya.

Bencana alam termasuk kekeringan yang melanda dunia saat ini, termasuk negeri kita, bukanlah persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Namun, sistem kapitalisme yang diemban oleh hampir seluruh negara di dunia, telah membuat regulasi yang memang rusak dari akarnya.

Sehingga apa yang kita saksikan dan rasakan saat ini merupakan akumulasi tata kelola yang salah. Manusia dan makhluk hidup lainnya benar-benar sengsara didalam asuhan sistem error ini.

Lihatlah, bagaimana pemerhati lingkungan terus “berteriak” akan rusaknya lingkungan akibat pembangunan ugal-ugalan ala sistem ini. Para intelektual (yang masih punya nurani) terus bersuara lantang akibat kebijakan yang tidak ramah lingkungan, serta orang-orang cerdas yang masih peduli akan nasib bumi dan apa-apa yang ada di atasnya. Namun, karena yang ditawarkan hanyalah solusi pragmatis, sehingga tidak solutif. Bahkan, krisis iklim global makin menggila merengsek hingga ke negeri ini.

Sistem yang Menjaga Alam

Sangat berbeda dengan paradigma yang dibangun dalam sistem Islam. Seluruh kebijakan yang ditempuh penguasa harus sesuai dengan aturan Ilahi. Negara hanya menjadi wakil yang diamanahi mengurus seluruh urusan rakyat.

Sehingga, kebijakan yang diambil haruslah dalam rangka kemaslahatan (kebaikan) rakyat. Bukan sebaliknya, menyengsarakan rakyat.

Terkait kebijakan yang sangat berpotensi menimbulkan bencana atau bahaya, negara melibatkan para ahli untuk menganalisisnya. Tidak akan ada eksploitasi sumber daya alam (SDA) seperti hari ini atas dalih perputaran roda perekonomian atau lebih tepatnya kemajuan pembangunan.

Deforestasi jor-joran yang dilakukan oleh sistem saat ini adalah bukti keserakahan kapitalis atas pengelolaan SDA yang melimpah di negeri ini.

Islam yang diterapkan secara paripurna dan komprehensif sebagaimana dalam rentang sejarah 1400 tahun yang lalu, telah membuktikan kegemilangannya. Peradaban mulia yang mengelola bumi dengan bersandar pada aturan Pencipta.

Jika pun pernah terjadi kemarau panjang, bukan karena faktor manusianya, tetapi karena pure faktor alam. Itupun tidak menimbulkan problem berkepanjangan, sebab diantisipasi sedini mungkin dan negara secara sigap memberi solusi tuntas.

Inilah perbedaan yang sangat fundamental antara pengelolaan negara dalam sistem Islam dan sistem lainnya. Islam berbasis akidah Islam, menyandarkan semua pengaturan hidup berdasarkan syariat Islam.

Aturan dari Sang Pencipta manusia dan seluruh isi semesta. Paling tahu apa yang terbaik buat seluruh makhluk-Nya. Oleh karena itu, jika bumi ini dan seluruh makhluk yang menghuninya akan tetap terjaga dan sejahtera, maka menerapkan aturan Islam kafah adalah satu-satunya solusi cerdas.Wallahua’lam bis showab.[]

Comment