Penulis: Noor Laila, S. Pd | Guru Kimia SMA Negeri 1 Karang Bintang
RADARINDONESIA.COM, JAKARTA -Dinamika dunia pendidikan tidak pernah ada habisnya, dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan dan sarat dengan inovasi-inovasi baru. Perubahan-perubahan tersebut dimulai dari inovasi dalam jenis kurikulum, strategi pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran sampai media pembelajaran yang digunakan. Tentunya perubahan-perubahan tersebut dilakukan bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas secara khusus dan kemajuan pendidikan nasional secara umum.
Melansir kemendikbud (12/2/2022),
bulan Februari tahun 2022 yang lalu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai salah satu program merdeka belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kurikulum merdeka fokus pada materi yang esensial dan pengembangan karakter profil pelajar pancasila. Kurikulum ini dirancang dengan harapan agar bisa memberi fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk membuat kurikulum operasional satuan pendidikan kontekstual. Tujuannya agar kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik.
Berdasarkan ketetapan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) di atas, mulai awal Tahun Pelajaran 2023/2024 bulan Juli lalu, semua sekolah mulai menerapkan Kurikulum Merdeka untuk jenjang kelas X. Karena ini merupakan hal baru, dan sebagian tenaga pendidik masih adaptasi dengan kurikulum tersebut maka beberapa tenaga pendidik gagap mengaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran.
Banyaknya perubahan drastis yang terjadi dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka menambah kerancuan dalam penerapan, salah satunya perubahan dalam hal administrasi seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjadi modul ajar, silabus yang dulunya disediakan oleh pemerintah secara baku sekarang harus membuat sendiri dengan nama Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Pola Kurikulum Merdeka yang masih terlalu samar ini membuat sebagian tenaga pendidik belum mampu membuat modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan juga belum bisa menerapkannya dengan baik pada proses kegiatan pembelajaran.
Belum selesai dengan dilema kebingungan persiapan administrasi dari Kurikulum merdeka, ditambah lagi dengan salah satu bagian dari Kurikulum Merdeka yang sangat esensial yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang dikenal dengan istilah P5. Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menambah kegalauan dalam diri seorang guru, karena sebagai guru mata pelajaran harus mampu menghubungkan materi ajar dengan program P5.
Mengutip bgpsulawesiutara (10/3/2023), P5 merupakan pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengatasi dan memikirkan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Program ini diharapkan dapat menginspirasi peserta didik untuk berkontribusi bagi lingkungan di sekitarnya. Penguatan P5 bertujuan menjadi sarana optimal dalam upaya mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, serta berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.
Adapun prinsip yang diperlukan dalam program P5 meliputi prinsip holistik, kontekstual, yang berpusat pada peserta didik dan eksploratif.
Kontradiksi yang terjadi antara harapan terhadap penerapan kurikulum merdeka dengan kesiapan sekolah, guru dan peserta didik yang masih sangat minim menyebabkan terjadinya dilema di kalangan satuan pendidikan.
Hal ini tentu menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan. Para tenaga pendidik dan siswa harus segera beradaptasi dengan pola kegiatan pembelajaran yang lebih mengutamakan skill daripada teori atau konsep.
Sedangkan yang kita ketahui bersama, hampir 75% peserta didik di seluruh Indonesia selama ini masih mengandalkan kemampuan kognitif dibandingkan kemampuan psikomotorik dan afektif.
Tidak hanya guru dan peserta didik, para orang tua atau wali peserta didik pun harus proaktif menyesuaikan diri agar bisa memberi dukungan motivasi kepada peserta didik maupun dukungan sarana prasarana terhadap kelancaran program-program yang terdapat di dalam Kurikulum Merdeka.
Dilema kurikulum merdeka yang terjadi harus segera diatasi, sehingga semua elemen bisa segera menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Para tenaga pendidik bisa dilakukan pelatihan tentang kurikulum merdeka secara langsung dari narasumber yang kompeten secara luring sehingga semua pertanyaan bisa mendapatkan solusi tuntas, mengingat pelatihan secara daring banyak memiliki kendala, khususnya sekolah yang berada di daerah.
Pelatihan Kurikulum Merdeka yang dilakukan secara intensif akan memudahkan guru memahami arah dan implementasi kurikulum tersebut. Karena guru sudah memiliki wawasan dan bekal yang cukup berkaitan dengan kurikulum yang akan diterapkan. Tentu memerlukan kerja sama berbagai pihak terkait supaya tujuan yang diharapkan bisa terwujud. [SP]









Comment