RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Semangat perempuan untuk tetap berkarya di tengah peran keluarga dan tantangan zaman kembali mengemuka dalam Diskusi Riang Gembira #Perempuan Hebat di Industri Musik dan Film Jilid 3 Tahun 2025 yang digelar di Aula Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta dari kalangan mahasiswa, komunitas ibu-ibu Jabodetabek, serta masyarakat umum itu berlangsung hangat dan penuh inspirasi. Diskusi dibagi dalam dua sesi.
Sesi pertama menghadirkan tokoh perempuan di industri film, seperti Dr. Yessy Gusman, Vinessa Inez, dan Titin Setiawati—dosen UHAMKA sekaligus Komisioner Lembaga Sensor Film—dengan moderator Ratna Listy. Antusiasme peserta yang tinggi membuat sesi pertama berlangsung lebih lama dari jadwal.
Namun demikian, semangat peserta tetap terjaga saat memasuki sesi kedua yang menyoroti kiprah perempuan di industri musik. Sesi ini menghadirkan musisi saksofon dan flute kelas dunia Yuyun George, serta akademisi Tellys Corliana, Dekan FISIP UHAMKA. Diskusi dipandu oleh desainer busana muslim Nina Nugroho.
Tellys Corliana membuka sesi dengan refleksi tentang perjalanan panjangnya sebagai dosen, dekan, sekaligus ibu. Dengan nada tenang, ia menegaskan bahwa kiprah perempuan di ruang publik bukanlah bentuk pengabaian terhadap keluarga.
“Saya jarang di rumah pada siang hari, tetapi anak-anak melihat langsung bahwa perempuan bisa berperan lebih luas,” ujar Tellys.
Dukungan suami dan anak-anak, menurutnya, menjadi kekuatan utama yang membuatnya mampu bertahan dan berkembang selama lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan.
Ia menambahkan, keberadaannya di luar rumah justru menjadi teladan bahwa perempuan dapat mandiri dan berkontribusi nyata bagi masyarakat tanpa meninggalkan nilai keluarga.
Kisah inspiratif juga datang dari Yuyun George. Musisi yang telah puluhan tahun menekuni dunia musik ini mengaku jatuh cinta pada musik sejak usia belia. Saksofon baginya bukan sekadar alat musik, melainkan bagian dari jiwa.
“Musik itu separuh jiwa saya,” tuturnya.
Di tengah dominasi laki-laki di industri musik, Yuyun mengaku sempat diragukan.
Namun, ia memilih menjadikan kritik sebagai pemacu untuk terus profesional dan konsisten. Dukungan keluarga, termasuk studio kecil di rumah, menjadi energi yang membuatnya tetap berkarya hingga kini.
Sisi lain peran perempuan juga tercermin dari kisah penyanyi muda Jane Callista. Ia menyebut ibunya bukan hanya orang tua, tetapi juga sahabat dan penjaga arah hidup.
Jane mengungkapkan bahwa orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan karier, melainkan memberi ruang bagi bakat yang tumbuh secara alami.
“Di depan Mama memberi contoh, di belakang Mama menjaga,” ujarnya.
Dukungan tersebut, kata Jane, membuatnya berani melangkah dan memaknai musik sebagai sarana memberi manfaat bagi orang lain.
Diskusi ini juga menyoroti tantangan era digital. Para pembicara sepakat bahwa teknologi membuka ruang baru bagi perempuan untuk berkarya, namun sekaligus menghadirkan risiko, terutama kekerasan dan tekanan di media sosial. Literasi digital dinilai menjadi bekal penting agar teknologi tetap menjadi alat pemberdayaan, bukan jebakan.
Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan RI, UHAMKA, FISIP UHAMKA, serta sejumlah komunitas dan pelaku industri kreatif ini bukan sekadar forum berbagi pengalaman. Lebih dari itu, diskusi menjadi ruang refleksi tentang keteladanan perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
Di akhir acara, mengemuka pesan bahwa setiap perempuan memiliki talenta yang dititipkan Tuhan. Ketika talenta itu dijalani dengan kesungguhan dan niat baik, ia akan tumbuh menjadi inspirasi—bagi keluarga, lingkungan sekitar, dan generasi masa depan.[]













Comment