Djumriah Lina Johan : Yang Kasih Hidup Kamu Siapa?

Berita2989 Views
Add caption
RADARINDONESIANEWS,COM – “Duit itu datang dari siapa? Siapa yang bayar gajimu? Allah! Bumi punya Allah, langit punya Allah, lillahinasti samawati wama fil Ardh, semua yang di Bumi, semua yang di jangit punya Allah. Karena itu, jangan sombong, jangan angkuh.” – Ustadz Abdul Somad.
Sungguh benar apa yang disampaikan oleh ustadz Abdul Somad. Bahwa milik Allah lah apa-apa yang ada di bumi dan langit. Lalu mengapa manusia bersikap sombong dengan mengatakan “Yang gaji kamu siapa?” 
Kata-kata yang sempat menjadi trending topic di Indonesia bahkan dunia ini berawal dari perkataan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara yang menyindir salah satu aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) di kementeriannya. 
Dilansir CNN Indonesia, bahwa sebelumnya Rudiantara meminta ratusan pegawai Kemenkominfo memilih stiker sosialisasi Pemilu 2019 yang akan ditempel di komplek kementerian tersebut. Ada dua desain stiker. Stiker pertama berwarna dasar merah, Rudiantara menamainya nomor satu. Sementara desain kedua berwarna dominan putih, ia menamainya nomor 2. 
Kemudian peserta menjadi riuh dan memilih nomor 2. Rudiantara pun memilih seorang perwakilan pegawai yang memilih nomor 2 dan menanyakan alasannya. “Bismillahirrahmanirrahim, mungkin terkait keyakinan saja, Pak. Keyakinan atas visi-misi yang disampaikan nomor dua, yakin saja,” ucap pegawai tersebut lugas. 
Rudiantara pun mementahkan jawaban itu. Ia mengatakan ia bertanya soal desain stiker, bukan pilihan di Pilpres 2019. Namun, saat pegawai pemilih desain nomor dua berjalan ke tempat duduk, Rudiantara berteriak memanggilnya lagi. “Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Hah?” ujar Rudiantara dengan suara meninggi. Beliau pun melanjutkan, “Bukan yang keyakinan ibu? Ya sudah makasih.” 
Problematika ini sebenarnya malah semakin menelanjangi cara berfikir sekularisme yang telah menjamur dan berkembang biak di dalam kepala para pejabat serta sebagian umat di negeri ini. Sebab, pernyataan tersebut menyiratkan bagaimana pemikiran beliau yang sebenarnya dalam memahami konsep hidup dan rezeki. 
Sekulerisme dengan pemahaman jalan tengahnya, meminggirkan perkara agama dari sudut-sudut pemerintahan. Seakan-akan agama adalah virus yang harus dijauhkan. Dan hanya bisa mengatur perkara ibadah mahdhoh. 
Inilah yang akhirnya memberikan dampak yang luar biasa pada umat yaitu terhalanginya cara berpikir dan cara pandang umat untuk tunduk pada hukum-hukum Allah swt. Bahkan umat terjerumus pada kehidupan yang jauh dari keberkahan. 
Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan pemahaman umat agar tidak terjadi kesalahan pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Allah swt berfirman dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu” 
Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa tidak ada tujuan lain dari penciptaan manusia selain untuk beribadah kepada Allah. Sehingga, wajib bagi manusia untuk taat dan berserah diri secara sempurna kepada Allah swt. Dalam hal ini berarti taat dan patuh pada hukum-hukum Allah mulai dari perkara ibadah mahdhoh hingga tata kelola negara dan pemerintahan. 
Terkait rezeki, Allah swt berfirman : 

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا 
“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS. Hud ayat 6) 
Semua makhluk hidup telah Allah jamin rezekinya sehingga tidak ada keraguan sedikitpun bagi kaum muslimin bahwa setiap dari diri mereka memiliki rezekinya masing-masing. Anggapan rezeki yang dalam hal ini adalah gaji, merupakan pemberian dari bos, presiden, menteri, dan lain-lain adalah salah besar. Semua itu dari Allah. 
Dengan demikian, jika Allah swt lah yang memberi rezeki, maka sudah sepantasnya umat bersyukur dengan memperjuangkan kebangkitan Islam agar hukum-hukum Allah diterapkan secara sempurna. Dan agar tidak ada lagi orang-orang sombong yang menyatakan “Yang gaji kamu siapa?” Wallahu ‘alam bi ash shawab.[]

Penulis adalah Fasilitator Komunitas Hijrah LINK “Learn Islam Needs a Knowledge) 

Comment