Donasi Novel Rusia: Antara Literasi, Soft Power, dan Kewaspadaan Budaya

Opini360 Views

 

Penulis: Mirna Rozati, S.Hum | Praktisi Sastra dan Budaya

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, antaranews (27/7/25) memberitakan bahwa Rusia mendonasikan puluhan novel klasik ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bagi banyak orang, ini tentu kabar baik – koleksi literasi nasional bertambah, masyarakat Indonesia berkesempatan lebih luas menikmati karya-karya sastra dunia. Apalagi, novel Rusia dikenal kaya akan nilai estetika dan kedalaman psikologis.

Namun, di balik kabar positif tersebut, ada pertanyaan yang layak diajukan – apakah donasi ini murni demi literasi, atau ada agenda lain yang lebih dalam?

Novel Rusia: Cermin Filsafat dan Sejarah

Sastra Rusia dikenal luas sebagai salah satu tradisi terkuat di dunia. Nama-nama seperti Fyodor Dostoevsky, Leo Tolstoy, hingga Anton Chekhov melahirkan karya yang bukan hanya bercerita, tetapi juga menggali sisi terdalam manusia. Novel-novel Rusia sering mengangkat pertanyaan-pertanyaan mendasar: apa arti kebebasan? apakah moralitas lahir dari agama atau dari nurani? bagaimana menghadapi penderitaan?

Dalam karya Dostoevsky, misalnya, iman dan ateisme dipertarungkan dalam batin tokohnya. Tolstoy menulis tentang makna hidup dan kritik terhadap institusi agama. Chekhov merekam ironi kehidupan sehari-hari dan tragedi kecil manusia modern. Dengan kata lain, novel Rusia tidak netral: ia sarat gagasan, membawa worldview yang lahir dari sejarah Eropa Timur dan pengaruh filsafat Barat.

Perspektif Islam: Hadharah vs Madaniah

Di sinilah pentingnya membedakan antara madaniah dan hadharah dalam pandangan Islam kafah.

* Madaniah adalah produk material yang bersifat netral—seperti teknologi, metode penelitian, atau alat transportasi.
* Hadharah adalah produk budaya yang lahir dari akidah tertentu dan mengandung ide, nilai, serta pandangan hidup.

Novel jelas masuk kategori hadharah. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi wadah ideologi. Membaca novel Rusia berarti berhadapan dengan gagasan tentang manusia, moral, kebebasan, dan agama—yang sering berbeda dengan pandangan Islam. Karena itu, umat Islam boleh membaca, tetapi tidak boleh meminjam nilai-nilai itu sebagai pedoman hidup.

Motif Rusia: Literasi atau Soft Power?

Dari sisi geopolitik, donasi ini patut dibaca lebih hati-hati. Rusia tengah menghadapi isolasi dari Barat akibat konflik global. Dalam situasi seperti itu, mereka berusaha membangun citra sebagai bangsa berperadaban tinggi, memiliki warisan budaya yang mendunia. Donasi novel menjadi bagian dari strategi soft power—cara memperluas pengaruh tanpa senjata, melalui seni, budaya, dan literasi.

Sastra dipakai untuk menciptakan kedekatan emosional. Dengan mengenalkan karya-karya klasiknya, Rusia mengirim pesan halus: “Kami adalah bangsa yang layak dihargai, kami punya peradaban alternatif selain Barat.” Ini bentuk diplomasi budaya yang sering luput dari perhatian publik, tetapi justru efektif untuk menanamkan simpati.

Mekanisme Budaya: Infiltrasi – Akulturasi – Asimilasi

Sejarah membuktikan bahwa pengaruh budaya asing tidak selalu datang secara frontal. Ia kerap masuk lewat jalur yang halus:

1. Infiltrasi – gagasan sekuler-humanis hadir lewat bacaan atau hiburan. Karena dibungkus estetika, ia terasa aman.

2. Akulturasi – masyarakat mulai menggabungkan sebagian nilai asing ke dalam karya atau kebiasaan lokal. Misalnya, tema eksistensialisme perlahan hadir dalam karya sastra Indonesia.

3. Asimilasi – dalam jangka panjang, worldview Islam tergeser. Standar kebenaran tak lagi merujuk pada wahyu, tetapi pada akal dan nurani manusia.

Proses ini ibarat tetesan air yang perlahan melubangi batu. Ia tidak terasa seketika, tapi dampaknya nyata bila berlangsung terus-menerus.

Pelajaran dari Sejarah Islam

Umat Islam sebenarnya punya pengalaman panjang dalam menghadapi arus budaya asing. Pada masa Abbasiyah, banyak karya Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sains dan matematika diambil, tetapi filsafat yang bertentangan dengan akidah dikritisi bahkan dibantah.

Sebaliknya, pada masa akhir Utsmaniyah, tsaqafah Barat diterima tanpa filter. Hasilnya, identitas Islam melemah, hingga kolonialisme ideologis dan politik menguasai negeri-negeri muslim.

Pelajarannya jelas: keterbukaan tidak boleh berarti kehilangan jati diri. Islam mendorong interaksi budaya, tetapi selalu dengan filter akidah.

Potensi Ketegangan Nilai

Novel Rusia sering menampilkan nilai yang potensial berbenturan dengan Islam:

* Moralitas: dipandang sebagai hasil nurani manusia, bukan wahyu.
* Kebebasan: diposisikan mutlak, tanpa keterikatan syariat.
* Relasi gender dan cinta: kadang lepas dari batasan agama.
* Iman dan Tuhan: diperdebatkan, bahkan dipertanyakan.

Tentu, ini bukan berarti umat Islam dilarang membaca. Tetapi harus ada kesadaran: bagian mana yang sekadar bahan renungan, dan bagian mana yang tidak sesuai dengan prinsip akidah.

Perspektif Islam Menghadapi Budaya Asing

Lalu bagaimana seharusnya negara Islam menyikapi fenomena seperti ini? Ada beberapa prinsip yang bisa digarisbawahi:

1. Tabayyun (klarifikasi) – setiap donasi atau interaksi budaya harus dipahami motifnya. Apakah sekadar memperkaya literasi, atau ada agenda pengaruh?

2. Kurasi – karya asing bisa diterima, tetapi harus diberi catatan kritis. Dengan begitu, pembaca tidak menelan bulat-bulat gagasan yang bertentangan dengan Islam.

3. Penguatan tsaqafah Islam masyarakat tidak boleh hanya dijejali karya asing. Harus ada karya sastra dan intelektual Islam yang kokoh, agar umat punya rujukan utama.

Dengan mekanisme ini, negara Islam tidak menutup diri dari interaksi budaya. Sebaliknya, ia justru mampu berdialog dengan dunia, tetapi tetap menjaga akidah sebagai standar hidup yang semua itu dijamin dengan penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam.

Sistem pendidikan Islam ini akan berupaya menguatkan akidah peserta didik mulai dari jenjang sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah atas.

Sehingga ketika mereka pada jenjang yang lebih tinggi atau setingkat perguruan tinggi dan berinteraksi dengan pemahaman-pemahaman yang tidak berasal dari tsaqafah Islam, mereka telah memiliki tameng yang kuat untuk melindungi akidahnya dan tidak mudah terpengaruh dengan tsaqafah asing.

Penutup

Donasi novel Rusia tentu menambah koleksi bacaan bangsa. Namun, literasi tidak pernah netral. Setiap karya membawa nilai, ideologi, dan cara pandang. Maka, umat Islam tidak boleh memandangnya sekadar hiburan. Perlu kesadaran kritis: menyambut keterbukaan budaya, tapi tetap menempatkan akidah sebagai filter utama.

Sejarah menunjukkan, peradaban Islam pernah unggul justru karena mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan identitas. Maka, membaca novel Rusia bisa menjadi perjalanan memahami dunia. Namun, menjaga tsaqafah Islam adalah cara memastikan kita tidak kehilangan arah.[]

Comment