RADARINDONESIANEWS.COM — Dampak psikologis penyintas banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai sama beratnya dengan kerusakan fisik yang terlihat di permukaan.
Hal itu disampaikan Psikolog dan Associate Professor Universitas Paramadina, Dr. Muhammad Iqbal, Ph.D, setelah melakukan observasi lapangan dan mengkaji kondisi psikologis masyarakat di wilayah terdampak.
Menurut Iqbal, bencana tersebut tidak hanya merenggut ribuan nyawa dan menghancurkan rumah serta infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka emosional mendalam bagi para penyintas.
“Banyak warga kehilangan orang terkasih, harta benda, lahan, ternak, bahkan mata pencaharian. Semua itu menciptakan tekanan psikologis yang sangat besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah gangguan psikologis umum muncul setelah bencana besar, antara lain Acute Stress Reaction, Anxiety Disorders, Prolonged Grief Disorder, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Merujuk penelitian Norris et al. (2002), sekitar 30–50 persen penyintas bencana dapat mengalami gejala PTSD pada tiga bulan pertama. UNICEF juga mencatat anak-anak dan lansia sebagai kelompok paling rentan.
Di lapangan, Iqbal menemukan banyak penyintas mengalami sulit tidur, mimpi buruk, ketakutan terhadap suara hujan, hilang minat beraktivitas, menarik diri dari sosial, hingga gejala depresi.
Trauma Harus Ditangani Serius
Iqbal menegaskan bahwa aspek psikologis harus mendapat perhatian serius pemerintah.
“Bencana menciptakan stressor ekstrem yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Ketika seseorang merasa tidak berdaya dan situasi tidak terkendali, muncullah kecemasan, ketegangan, dan keputusasaan,” jelasnya, merujuk teori Lazarus & Folkman (1984).
Ia menambahkan, trauma bukan sekadar kenangan buruk, tetapi pengalaman emosional yang terekam dalam tubuh. “Trauma muncul dalam bentuk hipervigilansi, ketegangan otot, hingga reaksi panik terhadap pemicu tertentu,” katanya mengutip van der Kolk (2014).
Karena itu, menurut Iqbal, pemulihan psikologis tidak bisa dilepaskan dari konteks keluarga, komunitas, kebijakan pemerintah, dan sistem sosial budaya. “Pendekatannya harus berlapis dan komprehensif,” tegasnya.
Perlunya Psychological First Aid (PFA)
Iqbal merekomendasikan pemerintah memperkuat dukungan profesional, salah satunya melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA) yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, relawan, guru, tokoh agama, maupun aparat darurat.
PFA mengedepankan tiga prinsip utama:
1. Protect – menjamin keselamatan fisik dan mengurangi stres tambahan
2. Connect – membangun dukungan sosial dan empati
3. Empower – memulihkan rasa mampu dan kendali diri pada penyintas
“PFA telah terbukti menurunkan risiko trauma jangka panjang dan meningkatkan resiliensi komunitas,” paparnya merujuk penelitian Hobfoll et al. (2007).
Dukungan Psiko-Sosial Berlapis
Iqbal menguraikan bahwa dukungan psikososial harus diberikan melalui empat lapis intervensi:
1. Dukungan Individual dapat dilakukan melalui screening stres dan konseling sederhana, pelatihan grounding dan manajemen emosi serta dukungan spiritual dalam memaknai kehilangan
2. Dukungan Keluarga dalam kaitan aktivitas keluarga seperti storytelling dan relaksasi, edukasi orang tua terkait respon stres pada anak dan penguatan fungsi keluarga sebagai sistem pendukung utama.
3. Dukungan Komunitas berupa pendirian safe space bagi anak dan lansia, kegiatan berbasis nilai budaya dan agama, kolaborasi puskesmas, sekolah, dan lembaga kemanusiaan.
4. Dukungan Sistem dan Pemerintah seperti integrasi layanan kesehatan mental dalam BNPB dan Pemda, pelatihan massal PFA untuk relawan dan guru, penganggaran rehabilitasi psikososial jangka panjang dan membangun Resiliensi Jangka Panjang.
Iqbal menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa penyintas tidak hanya memerlukan bantuan fisik seperti makanan, air, dan tempat tinggal, tetapi juga dukungan emosional, sosial, dan informasi agar dapat kembali pulih dan bangkit.
“Tujuannya bukan hanya memulihkan mereka sementara, tetapi membangun resiliensi jangka panjang. Bencana boleh merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan dan martabat manusia,” imbuhnya.[]









Comment