Dua Amalan Mulia, Membangun Ruhani dalam Menghadapi Masalah Kehidupan

Opini272 Views

 

Penulis: Prof. Bustanul Arifin | Disarikan dari Ta’lim Bakda Subuh Prof KH Didin Hafidhuddin, Masjid Al-Hijri 2 UIKA Bogor, Ahad 9 November 2025

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA — Dalam setiap fase kehidupan, manusia tak pernah lepas dari ujian dan persoalan. Namun, Al-Qur’an selalu menghadirkan jalan keluar bagi siapa pun yang ingin memperkuat jiwanya di tengah pusaran dunia yang kian kompleks.

Salah satunya melalui dua amalan mulia yang diuraikan dalam pengajian Tafsir Al-Qur’an oleh KH Didin Hafidhuddin, Ahad, 9 November 2025, di Masjid Al-Hijri 2, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Prof. Dr. KH Didin Hafidhudin, M.Si menafsirkan Surat Al-Muzammil ayat 1–9 yang berisi seruan kepada Nabi Muhammad SAW:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk shalat pada malam hari, kecuali sebagian kecil…”

Ayat ini mengandung pesan mendalam: membangun kekuatan spiritual dimulai dari hubungan pribadi dengan Allah SWT. Rasulullah SAW diperintahkan untuk menegakkan qiyamul lail—shalat malam—dan membaca Al-Qur’an dengan tartil sebagai bekal menghadapi “perkataan yang berat”, yakni tugas keras menyampaikan risalah Islam.

KH Didin Hafidhudin menegaskan, dua amalan inilah—shalat malam dan membaca Al-Qur’an secara tartil—yang dapat menjadi fondasi ruhani bagi setiap Muslim. Keduanya bukan sekadar ritual, melainkan latihan batin yang menguatkan keimanan dan keteguhan dalam menghadapi ujian hidup.

Shalat malam memiliki banyak keutamaan. Ia mempererat hubungan hamba dengan Tuhannya, menjaga diri dari perbuatan buruk, dan menjadi benteng moral di tengah arus globalisasi.

“Anak-anak muda yang terbiasa shalat malam tidak akan mudah hanyut dalam gaya hidup modern yang mengikis nilai-nilai Islam,” tutur KH Didin.

Selain itu, shalat malam juga menjadi sarana taubat, pembersih dosa, bahkan menyehatkan jasmani dan rohani.

Adapun membaca Al-Qur’an dengan tartil melatih kesungguhan dan ketenangan. Allah menjanjikan, siapa yang membacanya dengan penuh penghayatan akan diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang berbobot, bukan kata-kata kosong. Bacaan di malam hari lebih mengesankan karena hati dalam keadaan tenang dan khusyuk.

KH Didin juga mengingatkan pentingnya menanamkan kebiasaan ini sejak muda. “Pendidikan Al-Qur’an bukan hanya menajamkan otak, tapi juga menajamkan hati,” ujarnya. Beliau menguraikan empat cara menumbuhkan karakter tersebut dalam diri generasi muda: pemahaman, pembiasaan, keteladanan, serta penghargaan dan hukuman yang mendidik.

Menjawab pertanyaan tentang istiqamah, KH Didin menyarankan agar shalat malam dijadikan kebutuhan. “Kalau kita terbangun di sepertiga malam, jangan tidur lagi. Bisa jadi Allah sedang ‘membangunkan’ kita untuk bermunajat,” katanya.

Dalam bagian lain, beliau menyinggung ayat lain yang selaras dengan pesan ini, seperti dalam Surat Yunus ayat 57–58 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah syifa’ (obat) bagi penyakit hati dan petunjuk bagi orang beriman. Dengan kata lain, dua amalan tersebut adalah terapi spiritual yang menyehatkan jiwa dan menenangkan batin.

Di akhir ta’lim, KH Didin menutup dengan pesan yang menyejukkan: Islam adalah agama kasih sayang. Seorang Muslim sejati adalah yang membawa keselamatan bagi sesama, menjaga silaturahim, dan memberi tanpa menyakiti.

“Perkataan yang baik lebih utama daripada sedekah yang disertai ucapan yang menyakitkan,” tegasnya, mengutip Surat Al-Baqarah ayat 263.

Dari pengajian pagi itu, tersimpul satu pelajaran penting: kekuatan seorang Muslim bukan hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi dari kedalaman ruhani dan keteduhan sosial yang ia pancarkan.

Dua amalan sederhana—shalat malam dan membaca Al-Qur’an dengan tartil—bisa menjadi sumber energi ruhani yang menguatkan kita menapaki kehidupan yang penuh tantangan ini.[]

Comment