RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – APA yang menjadi headline media massa tidak selalu mencerminkan realitas sesungguhnya. Persepsi yang ada di benak masyarakat dibentuk oleh media massa. Hal ini pula yang terjadi pada publik Amerika. Persepsi mereka tentang ancaman keamanan dalam negeri Negara Paman Sam itu juga sangat bias media, khususnya tentang ancaman terorisme di dalam negeri. Sejak peristiwa 9/11, masyarakat Amerika dilanda islamophobia. Mereka menganggap bahwa istilah radikalisme, ekstremisme bahkan terorisme itu adalah milik Islam.
Namun pada 24 Juni lalu, media berpengaruh AS the New York Times (NYT) merilis sebuah studi yang dilakukan New America, sebuah lembaga survey kredibel yang berpusat di Washington. Dalam laporan itu disebutkan, 14 tahun setelah serangan AlQaeda memang ada serangan-serangan kecil dan sporadis dari kaum ekstremis yang memakan korban tewas di seantero Amerika.
Ketika New America mendalami ideology-ideologi kelompok ini, hasilnya cukup mencengangkan sehingga NYT merasa perlu mengangkatnya sebagai berita penting. Sejak peristiwa 11 September 2001, ternyata kelompok-kelompok supremasist kulit putih (white supremacists), kaum fanatic anti pemerintah dan kaum ekstremist non muslim membunuh hampir dua kali lebih banyak dari pada kelompok jihadis muslim. Sebanyak 48 warga AS dibunuh oleh ekstremist non muslim, termasuk penembakan terakhir di Gereja Charleston. Sementara kelompok militant Islam membunuh 26 orang.
Dalam kasus penembakan di Emmanuel African Methodist Episcopal Church 17 Juni lalu, sang pelaku, Dylann Roof (21) disebut-sebut sebagai penganut white supremacist. Serangan ini hanyalah merupakan satu dari beberapa kekerasan yang dilakukan karena rasa permusuhan terhadap pemerintah, serta didasari teori-teori seperti “kedaulatan warga Negara” yang menolak legitimasi hukum yang berlaku. Serangan-serangan ini telah menghabiskan nyawa para polisi, kelompok minoritas dan kelompok sipil lainnya.
Kaum ekstremis non muslim melakukan 19 kali serangan sejak 9/11. Begitu catatan David Sterman, salah seorang program associate New America, yang kemudian diverifikasi Peter Bergen, seorang pakar ternama AS soal terorisme. Sementara, dalam periode yang sama, kelompok redikal Islam melakukan tujuh serangan.
Angka-angka di atas, tentu merupakan hal yang baru dan mengejutkan bagi publik Amerika. Namun sebetulnya polisi sudah lama mengetahuinua. Sebuah survey terhadap 382 polisi dan sherrif di seluruh negeri AS yang dipublikasikan pekan ini meminta para aparat itu menyebutkan tiga ancaman terbesar kaum ekstremist di wilayah hukum mereka. Sebanyak 74 persen menyebutkan ancaman terbesar datang dari kelompok anti pemerintah, sedangkan 39 persen menyebutkan kekerasan yang diinspirasi oleh AlQaeda. Riset ini dilakukan oleh Charles Kurzman dari Universitas North Carolina, dan David Schanzer dari Universitas Duke. Study ini kemudian dipublikasikan oleh Pusat Segitiga untuk Terorisme dan Keamanan Dalam Nergeri (Triangle Center on Terrorism and Homeland Security), dan oleh Forum Riset Eksekutif Kepolisian (Police Executive Research Forum).
John G. Horgan, peneliti terorisme di University of Massachusetts, Lowell, mengatakan perbedaan antara persepsi publik dengan keadaan sebenarnya ini sudah semakin diketahui oleh para sarjana dan intelektual. “Sekarang ada pemahaman baru bahwa ide tentang ancaman terorisme kaum jihadist di Amerika itu merupakan sesuatu yang dibesar-besarkan. Dan ada keyakinan baru bahwa ancaman dari kaum ekstremis sayap kanan dan kekerasan yang dilakukan kaum antipemerintah, selama ini dianggap remeh,” kata Horgan.
New America mendefiniskan terorisme secara ketat. Pada 10 Februari, Stephen Craig Hill menembak mati tiga orang muslim Deah Shaddy Barakat, Yusor Mohammad Abu-Salha, dan Razan Mohammad Abu-Salha di Chapel Hill North Carolina. Hill memang seorang ateis yang sering mengumpat Islam dan Kristen. Namun penembakan itu dilandasi masalah parkir mobil. Hill merasa terganggu karena banyak orang sembarangan parkir dekat tempat tinggalnya. Meski mengumpat Islam saat mengeksekusi ketiga muslim ini, New America tidak menggolongkannya sebagai terorisme.
Juga ketika ada pembantaian yang bermotif non ideologis, tidak dimasukkan dalam kriteria ini meski memakan korban jauh lebih banyak daripada serangan yang bermotif ideologis. Misalnya penembakan di bioskop Colorado dan penembakan di sebuah SD di Connecticut pada 2012.
Kalaupun ada serangan oleh non-muslim yang oleh para ekspert dikategorikan sebagai tindakan teroris, tampaknya media hanya memberikan porsi kecil saja, sehingga tidak menjadi memori publik yang bertahan lama.
Misalnya, tahun 2012, seorang neo-Nazi bernama Wade Michael Page memasuki kuil Sikh di Wisconsin dan menembak. Enam orang sikh tewas dan tiga lainnya luka berat. Page bunuh diri, setelah polisi menembak di perutnya. Pelaku adalah anggota kelompok supremasi kulit putih bernama Northern Hammerskin.
Juni 2014, suami istri aktivis radikal anti pemerintah Jerad dan Amanda Miller memasuki restoran pizza di Las Vegas dan menembak mati dua polisi yang tengah bersantap. Kemudian mereka lari menuju Wallmart dan membunuh seorang satpam. Polisi menembak mati Jerad, dan melumpuhkan Amanda. Namun Amanda bunuh diri. Di tubuh mereka melekat symbol swastika dan meninggalkan tulisan : “Ini awal revolusi.”
November 2014, Larry McQuilliams menembaki kantor-kantor pemerintah, kantor polisi dan konsulat Meksiko di Austin, Texas. Tidak ada korban tewas. Polisi segera menembak mati dia sebelum dia menabrakkan mobilnya yang bermuatan tabung propane ke arah kantor polisi. McQuilliams adalah anggota white supremacist.
Dengan kejadian-kejadian di atas, media Amerika tidak menyebut kejadian-kejadian di atas sebagai tidak teorisme. Para komentator media menyebut mereka sebagai penderita gangguan jiwa. “Sejauh menyangkut penyerang non muslim, media Amerika meneliti jauh ke belakang dengan kemungkinan adanya gangguan psikologis yang memaksa orang itu berlaku seperti itu. Namun jika menyangkut muslim, media berasumsi tindakan itu bermotif agama,” kata Abdul Cader Asmal, seorang juru bicara muslim Boston.
Dalam beberapa kesempatan sejak menjabat presiden, Barrack Obama menyerukan lembaga-lembaga pemerintah untuk melakukan riset terhadap gerakan ekstrimisme sayap kanan. Namun usulan itu selalu diblok oleh Partai Republik yang menilai Obama ingin menodai kaum konservatif itu.
Tahun 2009, sebuah laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan bahwa terpilihnya seorang presiden kulit hitam pertama di tengah kesulitan ekonomi AS akan memicu kekerasan dari kaum white supremacist. Namun laporan itu segera ditarik atas tekanan kaum konservatif.
Peristiwa 11 September yang merubuhkan menara symbol kedigdayaan AS dan menelan 3000 nyawa, memang begitu membekas pada jiwa orang Amerika sehingga horror jihad Islam menghantui mereka. Namun, sebetulnya sebelum itu pun prasangka terhadap Islam sudah ada. Pada 1995, gedung federal Oklahoma City hancur dibom. Sebanyak 168 orang tewas, termasuk 19 anak.
Waktu itu publik curiga pelakunya adalah teroris Islam. Ternyata pelakunya adalah Timothy McVeigh, seorang ekstremist anti pemerintah. Peristiwa itu berlangsung 20 tahun lalu, sehingga sudah terlupakan. “Satu pelajaran yang kita lupa sejak pengeboman Oklahoma City 20 tahun lalu, bahwa kekerasan kaum ekstremist bias muncul dalam bentuk dan ukuran apapun. Dan seringkali dia dating dari tempat yang sama sekali tidak anda curigai,” kata Dr. Horgan.[]
Penulis















Comment