Fajar Lebih Dekat dari yang Kamu Kira

Opini180 Views

Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, PhD | Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundation

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ini bukanlah malam panjang yang pertama, dan bukan pula kegelapan pertama yang tampak seolah menjadi akhir dari segalanya. Inilah gambaran Mekah pada malam ketika Nabi Muhammad ﷺ meninggalkannya dalam sunyi, hanya ditemani keyakinan yang tak terlihat. Kaum musyrikin mengira dakwah Islam telah berakhir, padahal justru saat itulah permulaannya.

Demikian pula pada Perang Badar. Jumlah pasukan sedikit, perlengkapan minim, namun langit penuh dengan janji.

Timbangan berpihak, dan sejarah pun mencatat bahwa kebenaran tidak diukur dari banyaknya jumlah, melainkan dari keteguhan sikap.

Lalu datanglah Perang Uhud, membawa luka, tumpahan darah, dan keguncangan hati sebagian orang.

Ada yang berkata, “Inilah akhir segalanya.” Namun sesungguhnya itu hanyalah pelajaran panjang tentang kesabaran dan latihan berat untuk bangkit kembali.

Kemudian Perang Khandaq (Parit). Ketika seluruh kekuatan kekufuran berkumpul dan Madinah dikepung dari segala arah, jantung berdebar dan kaum beriman benar-benar diuji.

Kemenangan saat itu bukan terletak pada kekuatan tangan, melainkan pada keteguhan hati—ketabahan di tengah lapar, kesabaran di tengah rasa takut, dan menggali parit di tanah yang keras dengan hati yang lembut penuh kepercayaan.

Ketika orang-orang munafik berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan apa-apa selain tipuan,” orang-orang beriman menjawab, “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”

Pengepungan pun berubah menjadi angin; koalisi musuh tercerai-berai, dan Islam tetap berdiri tegak.

Apa yang kita saksikan hari ini hanyalah seperti awan musim panas—tampak tebal, namun cepat berlalu. Ketika bangsa Tatar menyapu negeri-negeri Muslim, adakah yang mengira Islam akan sirna?

Justru dari puing-puing itu bangkit para pejuang yang tak tergoyahkan; bangsa Tatar runtuh, dan Islam tetap bertahan.

Bukankah Yerusalem pernah berada dalam cengkeraman selama berabad-abad, hingga orang berkata, “Ia tak akan pernah dibebaskan”?

Lalu datanglah Shalahuddin, bukan dengan pidato gemuruh, melainkan dengan kafilah iman yang panjang, membebaskan tanah suci bahkan sebelum tembok-temboknya dibangun kembali.

Pola ini terus berulang. Kegelapan semakin pekat, benturan kian keras, lalu tiba-tiba… cahaya kembali muncul. Ketahuilah, saat tergelap dalam malam adalah saat paling dekat dengan terbitnya fajar.

Janji kemenangan dari Allah bukanlah sekadar slogan, melainkan sunnatullah yang terus berulang. Setiap upaya untuk mematahkannya selalu gagal, dan setiap generasi yang merasa dirinya adalah generasi terakhir hanyalah satu mata rantai dalam rangkaian panjang sejarah.

Hal yang dituntut dari kita bukan semata-mata mengubah arah sejarah, tetapi tetap teguh bersama kafilah Islam—tidak menyimpang ke jalan-jalan samping yang menggoda, dan tidak meninggalkan kafilah ketika beban terasa berat.

Berjalanlah bersama kafilah, meski lelah, karena hakikatnya bukan terletak pada cepatnya sampai, melainkan pada tidak pernah berbalik arah.

Dan fajar itu lebih dekat dari yang kamu kira!

Inilah tahun perhitungan. Seorang tiran menyerang di satu tempat, lalu diserang di tempat lain. Harga dari darah yang telah tertumpah akan dibayar.

Maka jangan pernah berkata bahwa seorang tiran telah menguasai mereka yang kurang zalim. Katakanlah: inilah tahun perhitungan, dan Tuhanmu tidak pernah lupa!

Selama masih ada tiran yang kejahatannya nyata dan seorang mukmin yang imannya kokoh, keadaan akan berubah, dan bumi pun akan berubah!

Bagi kami, kaum Muslim di Amerika—terutama yang tinggal di New York City, lebih khusus lagi mereka yang mengalami tragedi 11 September dan gelombang Islamofobia setelahnya—sering kali terasa seakan-akan gerakan dakwah telah dikubur.

Islam seolah dimakamkan oleh apa yang disebut “serangan teror,” dengan agama ini dituduh sebagai sumber kekerasan tersebut.

Namun, hanya dalam waktu lebih dari dua dekade, New York City kini dipimpin oleh seorang Muslim.

Bagi banyak orang, hal ini tampak mustahil dan membingungkan. Namun adakah yang mustahil jika Allah menghendakinya?

Kami bersyukur dan bangga bahwa saudara kita, Zohran Mamdani, dilantik sebagai Wali Kota New York hanya sepekan yang lalu.

Maka, wahai sahabatku, yakinlah: inilah tahun perhitungan, dan fajar lebih dekat dari yang kamu kira. Tegakkan kepala, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah!

Selamat menikmati akhir pekan untuk semuanya!

Comment