Penulis: Fauziah, S.Pd | Guru & Aktivis Dakwah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sebagaimana diberitakan Kompas.com (10/10/2025), kisah seorang perempuan bernama Rut Helga (31) viral di media sosial setelah ia mengunggah empat salindia di akun Instagram @ruthhelga pada 17 Juli 2025.
Dalam unggahan itu, ia “meminjamkan” sosok ayahnya kepada warganet yang merasa kehilangan figur ayah atau mengalami fatherless. Hingga Senin (18/8/2025), konten tersebut telah disukai lebih dari 32.400 akun, dibagikan 1.213 kali, dan dikomentari 959 pengguna.
Fenomena ini memperlihatkan betapa banyak orang yang tumbuh tanpa peran ayah yang hadir secara emosional.
Masih dari laporan Kompas.com (10/10/2025), survei kualitatif terhadap 16 psikolog klinis di 16 kota di Indonesia menunjukkan bahwa dampak fatherless paling umum berupa rasa minder dan emosi yang labil (disebut sembilan psikolog), kenakalan remaja (tujuh psikolog), kesulitan berinteraksi sosial (lima psikolog), serta rendahnya motivasi akademik (empat psikolog).
Sementara itu, data yang dipublikasikan Harian Kompas (8/10/2025) menunjukkan kenyataan mengejutkan: sekitar 20,1 persen anak Indonesia, atau 15,9 juta anak, tumbuh tanpa pengasuhan ayah.
Temuan serupa juga dilaporkan Tagar.co (08/10/2025) dan Voi.id (11/10/2025) yang menegaskan bahwa jutaan anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless baik secara biologis maupun psikis.
Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi potret nyata persoalan mendalam dalam struktur keluarga dan budaya kerja yang menempatkan ayah sebatas pencari nafkah, bukan teladan emosional dan spiritual di rumah.
Kondisi ini sejatinya merupakan buah dari sistem kapitalistik-sekuler yang menjadikan ekonomi sebagai poros kehidupan. Sistem ini membuat ayah terjebak dalam rutinitas kerja panjang demi memenuhi kebutuhan keluarga, karena negara tidak menjamin akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan warganya. Akibatnya, peran ayah di rumah makin terpinggirkan.
Setelah seharian bekerja, banyak ayah pulang dalam keadaan lelah, hanya ingin beristirahat tanpa sempat berinteraksi dengan anak. Bahkan ibadah pun sering terabaikan karena tekanan ekonomi dan beban kerja.
Dalam pandangan hidup sekuler, tugas ayah dianggap sebatas mencari nafkah, sementara pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu. Pola pikir seperti ini melahirkan generasi tanpa bimbingan langsung dari figur ayah—tanpa sosok yang memberi keteladanan, arah, dan batas.
Tidak heran jika berbagai kenakalan remaja muncul sebagai dampak lanjutan dari fenomena ini. Anak-anak tumbuh tanpa figur yang mereka segani, tanpa sosok pemimpin di rumah yang membimbing mereka mengenal tanggung jawab dan nilai moral. Mereka akhirnya mencari figur di luar rumah—sering kali pada lingkungan atau media yang justru menjerumuskan.
Berbeda dengan pandangan Islam. Dalam Islam, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran penting dan saling melengkapi. Ayah berfungsi sebagai pencari nafkah sekaligus pendidik utama dalam keluarga—sebagaimana dicontohkan dalam kisah Luqman al-Hakim—sedangkan ibu berperan dalam pengasuhan, penyusuan, dan pengelolaan rumah tangga.
Negara dalam sistem Islam juga hadir untuk menjamin kesejahteraan keluarga, dengan membuka lapangan kerja yang layak, memberikan jaminan pendidikan dan kesehatan, serta memastikan setiap ayah memiliki waktu berkualitas bersama anak-anaknya.
Dengan begitu, peran ayah sebagai pendidik emosional dan spiritual dapat berjalan optimal. Sebagaimana difirmankan Allah Ta‘ala dalam Al-Qur’an:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa [4]: 34).
Ayat ini menegaskan fungsi ayah sebagai pemimpin, pelindung, dan pendidik keluarga—bukan sekadar penanggung jawab finansial. Islam mempersiapkan laki-laki sejak dini agar siap menjalankan peran sebagai ayah dengan tanggung jawab moral dan spiritual yang kuat.
Dalam sejarah peradaban Islam, banyak tokoh besar lahir dari keluarga yang peran ayahnya berjalan utuh: Abdullah bin Umar ra., Abdullah bin Zubair ra., Abdullah bin Abbas ra., Usamah bin Zaid ra., hingga Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih.
Mereka bukan hanya hasil asuhan ibu yang luar biasa, tetapi juga buah didikan ayah yang kokoh dalam iman, disiplin, dan kasih sayang.
Karena itu, membangun kembali peran ayah bukan sekadar urusan keluarga, tetapi bagian dari membenahi sistem kehidupan.
Selama sistem kapitalistik-sekuler masih menempatkan manusia sebagai roda ekonomi, maka fatherless akan terus menjadi luka sosial yang diwariskan lintas generasi.[]














Comment