Fenomena pada Generasi Muda di Indonesia: Nikah dulu atau Mapan dulu?

Opini184 Views

Penulis: Nadya Malika | Mahasiswi semester 3 Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perdebatan mengenai “Nikah dulu atau mapan dulu” mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda di Indonesia. Sebagian orang memandang pernikahan adalah ibadah dan kebutuhan emosional, sedangkan kemapanan sering dikaitkan dengan kesiapan finansial dan stabilitas hidup.

Perbedaan sudut pandang ini membuat keputusan untuk menikah di usia muda menjadi persoalan yang tidak sederhana dan sangat kontekstual.

Mana yang lebih ideal, nikah dulu atau mapan dulu?

Bagi sebagian orang menikah terlebih dahulu dianggap lebih ideal karena menikah adalah langkah awal untuk membangun kehidupan bersama. Pasangan belajar saling memahami, bekerja sama, dan bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Sementara mereka meyakini bahwa kemapanan dapat diraih secara bertahap setelah menikah, melalui kerja sama dan saling mendukung antara pasangan.

Pandangan ini juga di dukung oleh nilai agama yang menekankan bahwa pernikahan membuka pintu rezeki dan menjaga seseorang dari perbuatan menyimpang.

Menurut Azkiave seorang konten kreator dakwah, Nikah muda di umur 19 tahun membantu dia untuk membangun karir karena dia terbiasa menghadapi ketidakpastian dari banyaknya keputusan anti mainstream yang dia ambil salah satunya yaitu menikah muda.

Pendapat ini memicu kontroversial karena banyak orang yang pro dan kontra terhadap pendapatnya.

Banyak generasi muda yang kontra terhadap pendapatnya karena untuk menikah di usia muda tidak mudah. Bagi sebagian orang yang kontra terhadap pendapatnya mengatakan bahwa Azkiave mencapai kemapanan lebih awal, namun tidak semua orang memiliki kondisi dan kesempatan yang sama di usia 19 tahun.

Kemapanan sebaiknya dicapai sebelum menikah. Karena kecukupan finansial sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mengurangi konflik rumah tangga, dan memberikan rasa aman bagi pasangan.

Dalam realitas sosial saat ini, tuntutan biaya hidup yang tinggi menjadikan finansial sebagai pertimbangan utama dalam kesiapan menikah.

Pada akhirnya, pilihan antara menikah dulu atau mapan dulu tidak dapat digeneralisasi. Setiap orang memiliki kondisi, latar belakang, dan kesiapan yang berbeda, baik secara emosional, mental, maupun ekonomi.

Oleh karena itu, keputusan menikah seharusnya diambil secara bijak melalui pertimbangan yang matang dan komunikasi yang baik antara pasangan, bukan semata-mata karena tekanan sosial atau tuntutan lingkungan.[]

Comment