Game Online Bernuansa Kekerasan dan Ancaman bagi Generasi

Opini178 Views

Penulis: Mimin Mintarsih | Aktivis Muslimah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti diberitakan sejumlah media nasional, berbagai kasus kekerasan yang diduga terinspirasi dari game online—mulai dari perundungan, bunuh diri, teror bom di sekolah, hingga pembunuhan—kian menjadi alarm serius bagi masyarakat.

Kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan diduga kuat menjadi salah satu faktor pemicu perilaku agresif hingga tindakan kriminal, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Berbagai penelitian di bidang psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa paparan kekerasan secara berulang, termasuk melalui media digital dan permainan daring, dapat memengaruhi perkembangan emosi serta kontrol diri anak.

Game yang menampilkan pembunuhan, perkelahian, dan kekerasan ekstrem berisiko menurunkan empati, meningkatkan impulsivitas, sekaligus membentuk persepsi keliru bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang wajar atau bahkan solusi atas konflik.

Platform digital pada dasarnya tidak pernah benar-benar netral. Banyak nilai dan pesan yang merusak akhlak dikemas secara menarik melalui permainan digital. Karena itu, fenomena game online bernuansa kekerasan patut menjadi perhatian utama dalam diskursus publik nasional, khususnya terkait masa depan generasi muda.

Seperti dilaporkan MetrotvNews.com, minimnya literasi digital di lingkungan keluarga, ditambah akses gawai yang nyaris tanpa batas, membuat anak dan remaja rentan kehilangan kemampuan membedakan antara dunia virtual dan realitas. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat meniru perilaku yang kerap disaksikan dalam permainan.

Sejumlah kasus kekerasan yang muncul di masyarakat bahkan menunjukkan kemiripan pola tindakan dengan adegan dalam game, sebuah peringatan keras bagi semua pihak.

Dalam perspektif Islam, segala bentuk kekerasan dan penghilangan nyawa manusia merupakan dosa besar. Allah SWT berfirman: “Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 32).

Islam juga menekankan pentingnya menjaga akhlak, mengendalikan hawa nafsu, serta mendidik anak dengan nilai kasih sayang dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa orang tua, pendidik, dan para pemimpin memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk melindungi anak-anak dari pengaruh yang dapat merusak akhlak dan perilaku.

Karena itu, diperlukan langkah nyata dan terukur. Pendidikan di lingkungan keluarga harus menjadi benteng utama dalam membimbing anak menghadapi dunia digital yang kian masif. Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi, membatasi, serta mendampingi anak saat menggunakan gawai dan bermain game.

Di sisi lain, Islam juga mewajibkan negara hadir melindungi generasi muda dari segala bentuk kekerasan. Pemerintah perlu menerapkan regulasi yang tegas terkait klasifikasi usia dan konten game, serta memastikan pengawasan terhadap pengembang dan distribusi permainan digital.

Selain pembatasan, anak-anak juga perlu diarahkan pada kegiatan yang positif dan membangun karakter, seperti olahraga, seni, kajian keagamaan, dan aktivitas sosial.

Dengan demikian, empati, disiplin, serta nilai kemanusiaan dapat tumbuh seimbang dengan kemajuan teknologi.[]

Comment