Gaza Berteriak, Dunia Membisu: Saatnya Umat Islam Bersatu dengan Solusi Hakiki

Opini401 Views

 

Penulis: Sania Nabila Afifah  | Komunitas Perindu Jannah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Serangan brutal Zionis terhadap Gaza terus berlangsung tanpa mengenal batas kemanusiaan. Fakta terbaru menunjukkan, jurnalis dan tenaga medis pun kini menjadi target langsung drone dan rudal. Sebagian dari mereka bahkan gugur saat menyiarkan kondisi Gaza secara live, memperlihatkan kepada dunia kenyataan genosida yang tengah terjadi.

Dalam kondisi serba terbatas, jurnalis Gaza tetap bersuara lantang. Mereka menyeru jurnalis internasional untuk masuk ke Gaza agar dunia tidak hanya mendengar narasi tunggal versi Zionis, tetapi menyaksikan langsung pembantaian sistematis terhadap rakyat sipil—termasuk anak-anak, perempuan, tenaga medis, dan jurnalis.

Namun, apa respons dunia? Meski tragedi ini diketahui luas, dunia internasional nyaris tidak berbuat apa-apa. Lembaga-lembaga internasional hanya mengeluarkan pernyataan kecaman atau seruan gencatan senjata, tanpa keberanian menindak agresor. Lebih ironis lagi, di balik kebisuan itu justru tampak dukungan penuh Amerika Serikat dan sekutu Barat kepada Zionis, baik berupa dana, senjata, maupun payung politik di forum dunia.

Dua Miliar Muslim, Tapi Tak Bersatu

Di tengah keheningan dunia, muncul kenyataan pahit lain: dua miliar kaum Muslim di seluruh dunia belum bersatu untuk melawan kekejian Zionis. Umat Islam memang tersentuh dan marah, tetapi kemarahan itu belum terorganisir menjadi kekuatan nyata.

Para penguasa negeri-negeri Muslim tidak benar-benar memobilisasi kekuatan militer untuk membela Gaza. Mereka sibuk dengan politik domestik, diplomasi semu, dan bantuan kemanusiaan yang sifatnya sementara—bukan langkah strategis yang mampu menghentikan agresi.

Kenapa Solusi Hakiki Belum Terwujud?

Kondisi ini menunjukkan bahwa solusi hakiki belum menjadi kesadaran umum. Ide untuk membebaskan Palestina dengan kekuatan umat Islam belum menjadi opini publik yang dominan. Umat lebih diarahkan pada solusi jangka pendek, seperti bantuan makanan dan obat, atau diplomasi yang berulang kali gagal.

Padahal sejarah membuktikan, penjajahan tidak pernah berhenti hanya dengan kecaman. Zionis tidak akan berhenti karena konferensi atau resolusi PBB. Mereka hanya dapat dihentikan dengan kekuatan nyata yang mampu memaksa.

Solusi dalam Pandangan Islam

Islam memiliki solusi ideologis yang jelas terhadap penindasan semacam ini:

1. Persatuan Umat dalam Satu Kepemimpinan

Kaum Muslim membutuhkan kepemimpinan politik yang menyatukan potensi mereka, bukan penguasa yang terikat kepentingan Barat. Hanya dengan persatuan, kekuatan militer dan politik umat Islam dapat diarahkan untuk menolong Gaza.

2. Jihad sebagai Kewajiban

Dalam Islam, ketika satu wilayah Muslim diserang, membelanya adalah kewajiban seluruh umat Islam. Jihad melawan penjajahan adalah jalan syar’i sekaligus historis yang terbukti mengusir penjajah dari tanah-tanah Muslim.

3. Menghentikan Ketergantungan pada Barat

Umat Islam harus sadar bahwa Barat tidak akan pernah menjadi solusi. Justru merekalah pendukung utama Zionis. Mengharapkan keadilan dari lembaga internasional yang dikuasai Barat hanya akan memperpanjang luka.

4. Membangun Kesadaran Umum
Umat perlu diarahkan bahwa solusi kemanusiaan bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi perubahan mendasar dalam sistem politik dunia Islam. Kesadaran bahwa hanya Islam yang mampu memberi solusi tuntas harus disebarkan hingga menjadi opini umum.

Serangan terhadap jurnalis dan tenaga medis Gaza bukan sekadar pelanggaran hukum internasional, melainkan bagian dari strategi Zionis untuk membungkam suara kebenaran. Dunia menyaksikan, tetapi tidak berbuat apa-apa, karena tunduk pada hegemoni Barat.

Saatnya umat Islam menyadari, hanya dengan kembali kepada Islam secara kaffah—melalui tegaknya kepemimpinan Islam yang menyatukan dan menggerakkan jihad—solusi hakiki bagi Gaza dan Palestina dapat terwujud. Tanpa itu, tragedi demi tragedi akan terus berulang, dan jeritan Gaza akan tetap menjadi siaran live tanpa akhir. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment