Gaza Hingga Sudan, Umat Islam Hidup dalam Kepungan Penjajah

Opini402 Views

Penulis: Jumratul Sakdiah, S.Pd | Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum usai tragedi kemanusiaan di Gaza, kini dunia Islam kembali diguncang konflik berdarah di Sudan. Ribuan warga sipil terpaksa mengungsi, sementara yang tertinggal menghadapi ancaman pembantaian.

Mereka hidup dalam pengepungan Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok militer yang dituding melakukan kudeta paksa terhadap pemerintahan resmi.

Perebutan kekuasaan ini menjelma menjadi perang saudara yang brutal, menelan banyak korban dan melumpuhkan pasokan makanan. Tak sedikit rakyat yang meregang nyawa karena kelaparan dan malnutrisi.

Sejak meletus pada April 2023, konflik di Sudan telah menewaskan lebih dari 150.000 orang, membuat 14 juta jiwa mengungsi, dan 24 juta lainnya terjerat kelaparan. Angka itu terus meningkat dari waktu ke waktu. Berdasarkan laporan Laboratorium Universitas Yale, Amerika Serikat, melalui foto citra satelit ditemukan 31 titik yang diduga menjadi lokasi pembantaian massal.

Dari angkasa tampak hamparan padang pasir dengan semburat merah yang menandakan genangan darah di sekitar markas militer, universitas, dan rumah sakit di Kota Al-Fashir.

Perang Sudan kini disebut sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terburuk abad ke-21. RSF, yang sebagian besar beranggotakan mantan milisi Janjaweed dan disebut mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab, telah menguasai Al-Fashir sejak 26 Oktober 2025. Sejak itu, kekerasan terus meningkat dan situasi kemanusiaan semakin memburuk, sebagaimana diberitakan Kompas.id pada 5 November 2025.

Ironisnya, dunia tampak bungkam. Belum ada langkah nyata dari lembaga internasional untuk menghentikan kekejaman yang menimpa rakyat di negeri mayoritas Muslim itu. Perebutan kekuasaan menjadi pangkal persoalan, namun di baliknya tersimpan kepentingan ekonomi yang besar.

Sudan merupakan salah satu negara terkaya di benua Afrika, dengan cadangan minyak, gas alam, emas, serta mineral strategis seperti kromium, tembaga, dan tanah subur yang luas.

Sebagaimana dilansir Kumparan.com pada 4 November 2025, Sudan mencetak rekor produksi emas pada 2024 dengan total 64,4 ton dan menghasilkan pendapatan sekitar USD 1,6 miliar. Kekayaan inilah yang menjadikan Sudan sasaran perebutan berbagai kepentingan global. Tak peduli berapa banyak darah tertumpah, kekuasaan dan keuntungan ekonomi menjadi tujuan utama.

Lebih ironis lagi, emas dari Sudan tetap mengalir ke Dubai meski perang masih berkecamuk. Karena itu, istilah “emas berdarah” layak disematkan pada kondisi ini—sebab produksi emas tetap berjalan di tengah genangan darah dan keringat rakyat yang bekerja di bawah todongan senjata.

Tragedi Sudan hanyalah satu potret dari derita umat Islam di bawah hegemoni kapitalisme global. Di berbagai belahan dunia, negeri-negeri Muslim masih hidup dalam penjajahan modern—baik secara militer, ekonomi, maupun politik. Ideologi kapitalisme yang berorientasi pada kekuasaan dan keuntungan menciptakan kehidupan yang penuh konflik dan ketidakadilan.

Sejarah telah membuktikan, perubahan sejati hanya akan terwujud ketika kehidupan diatur dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah ﷺ mencontohkannya saat menata kehidupan masyarakat Madinah.

Sebelum kedatangan beliau, kota itu dilanda pertikaian antar kabilah, bahkan hal sepele bisa memicu peperangan. Namun setelah Islam ditegakkan, Madinah berubah menjadi negeri yang damai dan berperadaban.

Dari kota kecil itulah lahir peradaban besar Islam yang membawa keadilan hingga ke berbagai penjuru dunia, menembus Afrika dan Eropa. Daulah Islam memastikan tidak ada darah tertumpah karena penindasan. Setiap wilayah yang berada di bawah naungan Islam hidup dalam ketenteraman, karena kekuasaan dijalankan sebagai amanah, bukan alat eksploitasi.

Maka, penderitaan yang kini menimpa Sudan, Gaza, dan negeri-negeri Muslim lainnya sejatinya berpangkal pada ketiadaan junnah (perisai) bagi umat Islam—yakni institusi kepemimpinan Islam yang mempersatukan kekuatan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tanpa perisai itu, umat akan terus tercerai-berai dan mudah dikuasai.

Saat persatuan itu kembali terwujud, niscaya penjajahan dan kezaliman akan berakhir, dan bumi Islam kembali berdiri tegak dalam keadilan dan rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a‘lam.[]

Comment