Gaza: Luka Lama dan Solusi yang Tertunda

Opini988 Views

Penulis: Fara Melyanda A.Md | Ibu Pembelajar

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Krisis kemanusiaan di Gaza kini berada di titik paling tragis dalam sejarah modern. Di tengah blokade dan serangan tanpa henti, kelaparan berubah menjadi senjata yang lebih mematikan daripada peluru dan bom.

Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam keceriaan justru meregang nyawa karena tubuh mereka tak lagi mampu menahan derita perut kosong. Setiap hari, nyawa tak berdosa melayang dalam sunyi dan nestapa.

CNNIndonesia.com (23/07/2025) melaporkan penderitaan anak-anak Palestina yang kian menyayat hati. Mereka tidak meninggal karena virus langka atau senjata canggih, melainkan oleh sesuatu yang paling purba: rasa lapar.

Tubuh mereka mengeriput hingga tinggal tulang. Dalam tiga hari terakhir, The Japan Times mencatat 21 anak meninggal dunia di Rumah Sakit Al-Shifa dan Al-Aqsa Martyrs akibat malnutrisi—rata-rata tujuh anak setiap hari.

Kebrutalan Zionis semakin tak terbendung. Kelaparan digunakan sebagai bentuk genosida gaya baru—membunuh perlahan dalam penderitaan yang hening. Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade total pada 2 Maret 2025, bantuan kemanusiaan diperketat.

Truk bantuan hanya masuk dalam jumlah sangat terbatas, jauh dari mencukupi kebutuhan jutaan warga. Lebih dari dua juta jiwa kini terperangkap dalam krisis kelaparan akut.

Menggunakan kelaparan sebagai senjata bukan hanya tindakan biadab, tetapi juga pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.

Namun, kekejaman ini tak bisa dihentikan dengan kecaman diplomatik atau bantuan simbolik. Perlindungan Amerika Serikat melalui hak veto di Dewan Keamanan PBB membungkam berbagai upaya menegakkan keadilan, sementara kemandulan PBB makin terlihat di hadapan penderitaan rakyat Gaza.

Lebih menyedihkan lagi, banyak pemimpin negara-negara Muslim seolah kehilangan empati. Mereka abai terhadap seruan Allah dan Rasul untuk membela kaum tertindas. Umat Islam di berbagai belahan dunia pun kian terpengaruh propaganda Barat yang melemahkan pemikiran, merusak persatuan, dan menjauhkan dari identitas hakiki sebagai satu kesatuan global.

Padahal, kelemahan itu hanyalah ilusi—hasil dari propaganda penguasa yang berkhianat. Sejarah membuktikan, ketika umat Islam berpegang teguh pada akidah dan menegakkan sistem Islam secara kaffah, mereka mampu menjadi pemimpin peradaban dunia: disegani kawan, ditakuti lawan, dan membawa keadilan ke seluruh penjuru bumi.

Situasi hari ini seharusnya menjadi momentum menyadarkan umat akan solusi hakiki bagi Palestina. Bukan sekadar kecaman emosional atau bantuan tambal sulam, tetapi perjuangan terarah melalui jihad dan tegaknya sistem Islam sebagai pelindung umat. Penyadaran ini harus digencarkan seiring semakin terbukanya bukti kejahatan Zionis yang tak henti menumpahkan darah.

Jamaah dakwah ideologis harus berada di garda terdepan, memimpin umat menuju kebangkitan Islam yang hakiki. Kemuliaan hanya akan kembali saat pemerintahan Islam tegak di muka bumi, sebagaimana janji Allah dan teladan Rasulullah.

Karena itu, membangkitkan kesadaran umat menjadi prioritas utama—menghidupkan jati diri Islam, mendorong perjuangan kolektif, dan meniti jalan dakwah sesuai thariqah Rasulullah.

Para pengemban dakwah dituntut tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggugah perasaan, menghidupkan pemikiran, dan menanamkan keyakinan akan kebenaran Islam.

Mereka harus membimbing dengan kelembutan namun tetap kokoh di atas kebenaran, menjaga istiqamah, serta membersihkan niat agar pantas mendapat pertolongan-Nya.

Perubahan sejati hanya lahir dari metode ini. Sejarah telah membuktikan, ketika Islam diterapkan secara kaffah, umat mampu memimpin dunia dengan keadilan, ilmu, dan kekuatan yang disegani.

Dari Madinah hingga Damaskus, Baghdad hingga Istanbul, Islamiyah pernah menjadi mercusuar dan pusat peradaban dunia selama lebih dari 13 abad—sebuah teladan bahwa kebangkitan bukanlah utopia, melainkan janji yang menunggu untuk diwujudkan.[]

Comment