Gaza Makin Mencekam, Bagaimana Solusinya?

Opini1432 Views

Penulis: Ernawati | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kondisi Gaza kembali memburuk. Betapa tidak, pengeboman terbaru oleh tentara Israel di jantung kota Gaza seperti ditulis tribunnews.com (18/9/2025),  menyebabkan putusnya seluruh jaringan telekomunikasi. Padahal, komunikasi menjadi satu-satunya harapan warga Gaza untuk menyampaikan kepada dunia tentang situasi mencekam yang mereka alami (Tribunnews.com, 18/9/2025).

Bukan kali ini saja kekejaman itu terjadi. Laporan Doctors Without Borders (MSF) seperti dilaporkan Al Jazeera (9/8/2025). menyebutkan lebih dari 1.300 warga Palestina dirawat akibat luka tembak. Rumah sakit hancur, stok makanan habis, air bersih langka. Kondisi ini menelan sedikitnya seratus korban jiwa akibat kelaparan, dan masih banyak lagi penderitaan yang tak terhitung akibat tindakan brutal militer Israel.

Krisis kelaparan kini menjadi pemandangan biasa di Gaza. Video-video yang beredar memperlihatkan anak-anak kurus kering menahan lapar—sebuah bukti nyata bahwa kelaparan dijadikan senjata senyap untuk melancarkan genosida. Sebanyak 1,1 juta anak di Gaza terancam punah, sebuah tragedi kemanusiaan yang seharusnya mengguncang nurani dunia.

Namun tragisnya, tak satu pun lembaga internasional atau kekuatan dunia berani mengambil langkah nyata menghentikan kekejaman ini. Kecaman datang silih berganti, tapi semua berhenti di tataran kata. Padahal, mereka memiliki kekuatan untuk bertindak—sayangnya, kekuatan itu tak pernah digunakan untuk Gaza.

Lalu bagaimana dengan para penguasa Muslim? Sebagian besar memilih diam, seolah tidak melihat dan tidak mendengar. Mereka sibuk memainkan drama politik, berkoar membela Palestina demi simpati rakyatnya.

Tapi pada kenyataannya, tangan dan kaki mereka terikat perjanjian internasional. Lihatlah sebagian pemimpin di Timur Tengah—alih-alih membantu Gaza, justru menutup rapat gerbang perbatasan mereka. Mereka takut berseberangan dengan “tuan-tuan” besar yang menaungi mereka.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan berakhir? Selama para penguasa Muslim enggan bersikap tegas, selama itu pula penderitaan rakyat Palestina tak akan usai. Kecaman, doa, dan aksi solidaritas kemanusiaan memang penting, tapi tidak cukup untuk membebaskan Gaza dari penjajahan Israel.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wujud cinta sejati adalah kesediaan untuk berkorban demi saudaranya — menghapus penderitaannya, menyelamatkannya, dan memuliakannya.

Sejarah telah mencatat bagaimana pemimpin Muslim sejati bersikap. Khalifah Abdul Hamid II pernah didatangi Theodore Herzl, tokoh pendiri Zionis, yang menawarkan uang besar untuk membeli tanah kaum Muslimin.

Sang Khalifah menolak tegas, meski tahu penolakannya akan menimbulkan konsekuensi politik besar. Itulah ketegasan seorang pemimpin yang berani mempertahankan kehormatan umat.

Kini, umat Islam membutuhkan kembali kepemimpinan yang demikian — yang berani, tegas, dan siap berkorban demi kemuliaan Islam dan keselamatan umatnya.

Karena sejatinya, solusi satu-satunya bagi Palestina bukan sekadar kecaman atau bantuan kemanusiaan, melainkan mengembalikan tatanan dunia di bawah kepemimpinan Islam yang adil dan melindungi seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment