Gaza Padam, Dunia Bersuara Tanpa Tindakan Nyata

Opini447 Views

 

Penulis: Yulia Andriyani Syahputri, S.Ak
| Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemadaman listrik total yang melanda Gaza pada Kamis, 18 September 2025, kembali menambah panjang derita warga Palestina. Infrastruktur utama lumpuh, akses internet terputus, rumah sakit dan tim pertahanan sipil kesulitan beroperasi, sementara bantuan kemanusiaan tertahan.

Di tengah kegelapan itu, serangan brutal tentara Israel terus berlanjut, bahkan tank-tank mereka menembus jantung Kota Gaza.

Kecaman terhadap genosida Israel memang mengemuka di forum internasional. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Selasa (23/9/2025), menyerukan penghentian segera.

“Pertama-tama kita harus menghentikan genosida di Gaza. Kemanusiaan tidak bisa membiarkan satu hari pun genosida ini terjadi lagi,” ujarnya lantang.

Langkah lebih tegas ditunjukkan pemerintah Spanyol. Negeri itu menetapkan embargo senjata total terhadap Israel sebagai bentuk sanksi hukum yang mengikat. Keputusan ini memperkuat larangan penjualan maupun pembelian peralatan militer sejak agresi Israel ke Gaza pada 7 Oktober 2023.

Namun, kecaman, penolakan, dan embargo akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada wacana. Israel tetap bergeming. Serangan terus dilakukan, seolah dunia tak berdaya menghadapi kekuatan yang hendak mengosongkan Gaza demi proyek “Israel Raya”.

Hampir dua tahun genosida terjadi, tetapi solusi nyata belum juga hadir. Umat dunia kian terbiasa dengan berita jumlah korban yang berjatuhan, seakan hanya deretan angka tanpa makna. Padahal, di balik angka itu ada nyawa, darah, dan keluarga yang tercerabut masa depannya.

Akar persoalan Palestina tidak bisa dipisahkan dari penjajahan yang berlangsung puluhan tahun, dengan dukungan negara-negara besar Barat. Selama penjajahan itu dibiarkan, penderitaan rakyat Palestina tak akan berakhir.

Karena itu, dukungan internasional semestinya tidak sebatas suara, melainkan langkah konkret yang benar-benar menekan Israel untuk menghentikan kejahatannya.

Sejarah membuktikan, pembebasan suatu bangsa dari penjajahan selalu membutuhkan kepemimpinan, persatuan, dan strategi yang jelas. Umat Islam memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Nilai-nilai Alquran dan Sunnah mengajarkan bahwa Palestina adalah tanah wakaf umat, amanah yang wajib dijaga dan dibebaskan.

Sudah saatnya dunia tidak hanya bersuara, melainkan bertindak. Solidaritas global harus diwujudkan dalam embargo senjata yang konsisten, dukungan nyata bagi bantuan kemanusiaan, dan penguatan langkah diplomasi internasional.

Lebih dari itu, umat Islam mesti kembali kepada Alquran dan Sunnah, menyatukan barisan, dan meneguhkan komitmen untuk membela tanah suci Palestina.[]

Comment