Gaza Pasca Gencatan Senjata: Pembunuhan Tak Pernah Berhenti

Opini28 Views

Penulis: Wasfah Khofifah | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan diberlakukan sejak Oktober 2025 seharusnya menjadi jalan untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza. Namun kenyataannya, rakyat Palestina masih terus menjadi korban.

Berbagai laporan media internasional menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Ini menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut tidak benar-benar menghentikan agresi, melainkan hanya mengurangi intensitasnya di hadapan dunia.

Di sisi lain, Amerika Serikat yang berperan sebagai penjamin gencatan senjata tetap menjadi sekutu utama Israel. Dukungan politik, ekonomi, dan militer terus diberikan, sehingga wajar jika banyak pihak mempertanyakan netralitas Amerika dalam konflik ini.

Fakta di atas menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak benar-benar menghadirkan perdamaian bagi Gaza. Pembunuhan tetap berlangsung, sementara dunia seolah diyakinkan bahwa situasi sudah lebih baik. Akibatnya, tekanan internasional terhadap Israel pun mereda meski rakyat Palestina terus menjadi korban.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa mengandalkan Amerika Serikat sebagai penjamin perdamaian adalah kesalahan besar. Sulit mengharapkan keadilan dari negara yang selama ini menjadi pendukung utama Israel.

Karena itu, solusi dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan penjajah tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah.

Jika kita menelaah lebih dalam, persoalan Palestina sesungguhnya tidak berhenti pada pelanggaran gencatan senjata. Akar masalahnya adalah tidak adanya kekuatan politik umat Islam yang mampu melindungi negeri-negeri Muslim dari penjajahan dan agresi asing.

Selama umat tidak memiliki perisai yang menjaga kehormatan, darah, dan wilayah mereka, maka tragedi serupa berpotensi terus berulang dalam berbagai bentuk.

Atas dasar itu, umat Islam tidak boleh menggantungkan nasib Palestina kepada kekuatan-kekuatan internasional yang selama ini terbukti gagal menghentikan agresi.

Dukungan diplomatik yang tidak disertai penyelesaian akar persoalan hanya akan menghasilkan siklus perundingan, gencatan senjata, pelanggaran, dan pembunuhan yang terus berulang.

Umat Islam perlu menjadikan Islam sebagai landasan dalam memandang dan menyelesaikan persoalan Palestina. Masalah Palestina bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi juga persoalan penjajahan atas tanah kaum Muslim yang menuntut penyelesaian sesuai tuntunan syariat.

Dalam pandangan Islam, pembebasan wilayah yang diduduki penjajah merupakan kewajiban yang harus diperjuangkan. Karena itu, upaya mengakhiri penjajahan Zionis tidak cukup hanya melalui kecaman atau negosiasi yang berulang, tetapi membutuhkan kekuatan nyata yang mampu menghentikan pendudukan dan melindungi rakyat Palestina.

Kekuatan tersebut hanya dapat terwujud jika adanya sebuah institusi politik yang menyatukan umat Islam dalam kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslimin di dunia.

Dengan begitu, umat Islam akan mampu membela diri dan kehormatannya dengan seluruh potensi yang mereka miliki untuk membela Palestina dan menjaga setiap jengkal tanah kaum Muslimin.

Oleh karena itu, perjuangan untuk mewujudkan kembali kepemimpinan umat yang mampu melindungi kaum Muslim secara menyeluruh harus menjadi bagian dari agenda besar kebangkitan Islam.[]

Comment