Gen Z Antara Perubahan dan Potensi Besar Kebangkitan Umat

Opini451 Views

 

Penulis: Rahmi Ummu Naqiya |
Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Gelombang aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga suara lantang di media sosial belakangan ini menunjukkan respons generasi Z (Gen Z) terhadap tekanan yang menimpa masyarakat namun sangat disayangkan, aksi tersebut diwarnai kerusuhan.

Salah satunya pembakaran gedung DPRD Makassar yang menelan tiga korban jiwa, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan di rumah anggota DPR dan seorang menteri, sebagaimana diberitakan detikNews pada 13 September 2025.

Rentetan peristiwa ini merupakan ekses dari akumulasi kekecewaan rakyat terhadap kebutuhan pokok yang kian mahal, biaya pendidikan yang melambung, pajak yang mencekik, hingga kenaikan tunjangan anggota DPR.

Ironisnya, di tengah penderitaan rakyat, sejumlah wakil rakyat justru menunjukkan perilaku yang dianggap kurang empathi terhadap kondisi tersebut. Puncaknya, publik tersentak ketika driver ojol, Affan Kurniawan, tewas terhantam mobil rantis Brimob saat unjuk rasa.

Gen Z tidak tinggal diam. Selain turun ke jalan, mereka juga menjadikan media sosial sebagai panggung aspirasi. Kreativitas mereka dalam membuat video, meme, tulisan, maupun konten singkat mendorong kesadaran masyarakat.

Dengan gaya segar dan khas, Gen Z mengemas perlawanan terhadap kondisi yang dianggap tidak memihak rakyat. Ini membuktikan bahwa pada hakikatnya mereka menyimpan potensi besar sebagai motor perubahan bangsa.

Fenomena ini juga dikaji dari sisi psikologis. Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., menjelaskan bahwa mekanisme otak Gen Z jauh lebih maju dibanding generasi sebelumnya—mulai dari Boomer, Gen X, hingga Milenial. Menurutnya, Gen Z memiliki cara unik dalam merespons tekanan, baik melalui ekspresi kreatif di ruang digital maupun keterlibatan langsung dalam aksi sosial.

Namun, di sisi lain, seperti ditulis kompas (5/9/25), keterlibatan remaja yang masih labil adalah risiko terseret dalam konflik tanpa pemahaman utuh atas isu yang diperjuangkan.

Jika ditelaah lebih dalam, cara pandang terhadap Gen Z sering kali dibingkai oleh perspektif psikologi modern yang sarat dengan pola pikir kapitalis. Generasi ini kerap digambarkan hanya sebagai sosok “ekspresif, kreatif, dan damai”, yang diarahkan pada pencarian identitas, hiburan, dan konsumsi.

Potensi perlawanan mereka seolah diredam agar tidak berkembang menjadi kesadaran politik yang mengancam sistem. Padahal, secara fitrah, manusia memiliki naluri mempertahankan diri (gharizah al-baqa) yang mendorongnya menolak penindasan dan menuntut keadilan.

Demonstrasi di jalan maupun di dunia digital bukan sekadar ekspresi, tetapi merupakan wujud alami dorongan manusia untuk melawan terhadap sistem dan kondisi poleksosbud yang rusak dan jauh dari nilai nilai sosial kemanusiaan.

Islam datang memberi arah yang jelas bagi naluri ini. Dorongan melawan kezaliman hanya akan bermakna jika dipandu syariat. Karena itu, Islam menekankan muhasabah lil hukkam—kewajiban mengoreksi penguasa sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar tanpa aksi perusakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pemimpin para syuhadā’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. al-Hakim).

Sejarah pun membuktikan, pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam perubahan. Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, hingga Usamah bin Zaid adalah contoh sahabat muda yang berani mengambil peran strategis. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi pelopor perubahan mendasar (taghyir) menuju tegaknya Islam kafah.

Maka, jika kapitalisme berusaha menjinakkan energi Gen Z agar tetap berada di jalur aman, Islam justru menuntun potensi mereka untuk menjadi kekuatan sejati. Gen Z harus meneladani para pemuda sahabat Rasulullah—menjadi generasi yang berani berjuang, istiqamah, dan teguh memperjuangkan kebenaran.

Kebangkitan umat dan tegaknya Islam kafah tidak akan terwujud tanpa peran mereka. Gen Z adalah energi, semangat, sekaligus ujung tombak perubahan. Saatnya mereka mengambil peran bukan hanya sebagai pengikut arus, melainkan sebagai pelaku sejarah yang menuntun umat menuju kejayaan.[]

Comment