Penulis: Hildayanti Yunus, S.E | Staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena Gen-Z yang kerap menyuarakan pendapat lewat demonstrasi, media sosial, hingga ekspresi kreatif, sejatinya menandakan hadirnya dinamika baru dalam masyarakat.
Generasi ini lahir di tengah tekanan: kesenjangan ekonomi kian tajam, harga kebutuhan melambung, lapangan kerja menyempit, sementara korupsi, eksploitasi sumber daya alam, dan dominasi kapitalis makin terasa.
Namun respons Gen-Z berbeda. Mereka tidak melulu memilih cara lama yang destruktif, melainkan menghadirkannya dengan kreativitas: estetika visual, meme, video singkat, hingga poster yang menyentuh emosi.
Psikolog Anastasia Satriyo menyebutnya sebagai cara Gen-Z “bicara perubahan” tanpa harus merusak. Suara mereka di dunia digital justru lebih lantang, menembus batas ruang dan waktu.
Meski begitu, kewaspadaan tetap perlu. Prof. Rose Mini Agoes Salim mengingatkan bahwa remaja masih rentan terprovokasi karena kontrol diri belum matang. Celah inilah yang sering dimanfaatkan pihak berkepentingan untuk mengarahkan energi muda sesuai agendanya.
Sejarah mengajarkan, kebangkitan selalu bertumpu pada semangat pemuda. Dari Sumpah Pemuda, perlawanan penjajahan, hingga lahirnya berbagai gerakan Islam, semua dimulai dari generasi muda. Tokoh-tokoh Islam seperti Usamah bin Zaid, Muhammad Al-Fatih, hingga Ibnu Abbas membuktikan, jika diarahkan dengan visi benar, potensi pemuda mampu mengguncang dunia.
Kini Gen-Z Indonesia menghadapi tantangan serupa. Mereka melihat ketidakadilan sistem kapitalis: pajak mencekik, SDA dikuasai korporasi, rakyat dipinggirkan. Dari keresahan inilah lahir aspirasi perubahan. Jika potensi ini dipandu kesadaran Islam, mereka bisa menjadi motor kebangkitan umat, sebagaimana pemuda Islam terdahulu yang mengukir peradaban gemilang.
Sayangnya, kajian psikologi kapitalistik kerap menjinakkan potensi tersebut. Gen-Z digambarkan kreatif, ekspresif, tetapi labil—hingga diarahkan untuk sibuk pada identitas, gaya hidup, dan ekspresi personal. Akhirnya, keresahan mereka ditumpahkan dalam bentuk meme atau unggahan media sosial, bukan pada perjuangan struktural menumbangkan kezaliman.
Padahal, Islam memandang manusia memiliki gharizah baqa’ (naluri mempertahankan hidup) dan gharizah tadayyun (naluri beragama). Naluri ini mendorong manusia menolak kezaliman dan mencari aturan hidup dari Sang Pencipta.
Ketika generasi muda merasa terjepit oleh kesenjangan, pajak, dan penindasan, itu sesungguhnya cerminan fitrah mereka menolak kezaliman dan mencari jalan keluar.
Perbedaannya jelas: kapitalisme hanya menyalurkan potensi itu agar berhenti pada ekspresi emosional. Sementara Islam mengarahkan energi muda kepada perubahan mendasar—menyingkirkan sistem zalim dan menggantinya dengan aturan Allah yang adil.
Dari awal dakwah Rasulullah ﷺ, pemuda selalu menjadi garda terdepan perubahan. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Mus’ab bin Umair masih belia ketika menyambut Islam.
Pengorbanan Mus’ab sebagai duta dakwah pertama ke Madinah, keberanian Asma’ binti Abu Bakar menanggung risiko besar, hingga Ali yang rela mempertaruhkan nyawa saat hijrah, semua membuktikan bahwa pemuda bukan sekadar pengikut, melainkan benteng risalah.
Hari ini, tantangan berbeda rupa namun sama hakikatnya. Kapitalisme sekuler menjerat pemuda dengan hiburan tanpa batas, gaya hidup hedonis, dan pemikiran pragmatis.
Padahal sejarah menunjukkan: perubahan besar hanya lahir ketika pemuda bangkit dengan kesadaran politik Islam, berani menolak kezaliman, dan mengembalikan Islam sebagai jalan hidup paripurna.
Maka, wahai pemuda muslim, jangan biarkan masa mudamu terbuang sia-sia. Lihatlah Ali, Mus’ab, Zubair, Asma’, dan Usamah—mereka seumuran denganmu ketika mengukir sejarah. Mereka menjadikan iman sebagai energi, pengorbanan sebagai kebanggaan, dan perjuangan sebagai jalan hidup.
Jika engkau mendambakan taghyir hakiki—perubahan sejati menuju tegaknya keadilan—maka jalan itu terbuka dengan meneladani semangat pemuda di masa Rasulullah ﷺ. Bangkitlah dengan ilmu, semangat, dan keberanian. Jadilah generasi yang bukan sekadar pengikut zaman, melainkan pengubah zaman.
Sejarah telah membuktikan, peradaban Islam berdiri di atas pundak pemuda. Dan sejarah akan kembali terukir jika pemuda hari ini mengambil peran yang sama. Wallahu a’lam bishshawab.[]









Comment