Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Opini57 Views

Penulis: Nur Octafian NL., S.Tr.Gz. | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemuda selalu identik sebagai motor penggerak perubahan dalam setiap fase sejarah peradaban. Hampir seluruh perubahan besar lahir dari keberanian generasi muda yang memiliki visi, cita-cita, dan keyakinan yang kuat.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah saw. membangun dakwah bersama para pemuda yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak. Karena itu, kondisi Generasi Z (Gen Z) hari ini bukan sekadar menggambarkan keadaan satu generasi, melainkan juga menjadi indikator masa depan sebuah bangsa.

Ironisnya, ketika dunia menawarkan kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, serta berbagai fasilitas modern, Gen Z justru menjadi generasi yang paling rentan mengalami krisis kesehatan mental. Di tengah kehidupan yang tampak semakin maju, semakin banyak anak muda mengaku kehilangan ketenangan, arah hidup, dan harapan terhadap masa depan.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Sebagaimana ditulis Kompas.id (18 Juni 2026), hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat sebanyak 34,8 persen atau sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.

Dari jumlah tersebut, 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan mental. Berbagai persoalan itu dipicu oleh banyak faktor, mulai dari masa pubertas, perubahan emosional, hingga tekanan sosial.

Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi persoalan yang tidak kalah serius. Sebagaimana dilansir Goodstats.id (8 April 2026), sekitar 60 persen Gen Z mengaku cemas menghadapi masa depan mereka. Ketidakpastian karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global menjadi penyebab utama meningkatnya gangguan mental.

Selain itu, tekanan finansial turut menyumbang 57 persen, ekspektasi sosial 42 persen, serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi di luar kendali mencapai 36 persen.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara. Ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya angka pengangguran usia muda, konflik geopolitik, kerusakan lingkungan, hingga derasnya arus media sosial menjadi sumber tekanan yang terus membayangi generasi muda.

Media sosial bahkan melahirkan budaya perbandingan sosial yang membuat banyak anak muda merasa kurang sukses, kurang menarik, atau kurang berharga dibandingkan orang lain.

Namun, di balik meningkatnya kecemasan tersebut, muncul gejala lain yang patut dicermati. Semakin banyak Gen Z mulai mempertanyakan berbagai ketimpangan yang mereka saksikan.

Mereka mempertanyakan mengapa pekerjaan semakin sulit diperoleh meski tingkat pendidikan semakin tinggi. Mereka juga mempertanyakan mengapa biaya hidup terus meningkat sementara kesejahteraan tak kunjung membaik.

Di sisi lain, mereka semakin vokal menyuarakan isu kemanusiaan, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga berbagai kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kegelisahan pribadi perlahan berkembang menjadi kesadaran sosial. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan semata-mata akibat kelemahan individu, melainkan berkaitan dengan tata kehidupan yang lebih luas.

Dari sinilah tumbuh resistensi, yakni sikap kritis dan penolakan terhadap sistem yang dinilai melahirkan ketidakadilan serta krisis yang terus berulang.

Sayangnya, resistensi tersebut kerap berhenti pada kritik tanpa arah. Sebagian memilih menarik diri dari kehidupan sosial, sebagian meluapkan kemarahan melalui media sosial, sementara yang lain mencari pelarian melalui hiburan, gaya hidup konsumtif, maupun berbagai bentuk pelampiasan yang justru memperburuk kondisi mental mereka.

Hal ini terjadi karena mereka mampu melihat adanya kerusakan, tetapi belum menemukan solusi yang benar.

Sesungguhnya, krisis yang dialami Gen Z bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Krisis mental, ketidakpastian ekonomi, rusaknya relasi keluarga, menurunnya kualitas pendidikan, hingga krisis moral merupakan bagian dari persoalan sistemik.

Akar persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dominasi sistem sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan manusia.

Dalam sistem tersebut, keberhasilan diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, dan pencapaian duniawi. Manusia didorong untuk terus berkompetisi tanpa pernah merasa cukup.

Akibatnya, ketika gagal memenuhi standar tersebut, banyak orang mengalami kecemasan, kehilangan harga diri, bahkan kehilangan makna hidup. Sekularisme menjadikan asas manfaat sebagai tolok ukur setiap perbuatan. Ketika manfaat duniawi tidak diperoleh, kehidupan pun terasa hampa.

Bagi Gen Z, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Mereka lahir di lingkungan mayoritas Muslim, tetapi tumbuh dalam sistem pendidikan, ekonomi, media, dan budaya yang dibangun di atas asas sekularisme.

Islam lebih banyak diajarkan sebatas ibadah ritual, sedangkan cara memandang kehidupan dibentuk oleh nilai-nilai sekularisme-kapitalisme. Akibatnya muncul krisis identitas. Mereka beriman kepada Islam, tetapi memandang kesuksesan dan kebahagiaan dengan standar yang tidak berasal dari Islam.

Di sisi lain, negara lebih banyak berfungsi menjaga stabilitas ekonomi daripada menjalankan tanggung jawab sebagai ra’in yang mengurus urusan rakyat.

Berbagai persoalan Gen Z lebih sering dipandang sebagai masalah psikologis individu yang cukup diselesaikan melalui konseling atau terapi, padahal berbagai tekanan tersebut lahir dari persoalan yang jauh lebih mendasar.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa pemuda merupakan motor penggerak perubahan peradaban. Banyak nama pemuda yang tercatat dalam tinta emas sejarah.

Usamah bin Zaid, misalnya, dipercaya memimpin pasukan kaum Muslim pada usia yang sangat muda. Begitu pula Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia muda karena dibentuk oleh akidah yang kokoh, ilmu yang benar, serta lingkungan yang melahirkan generasi pemimpin. Masih banyak lagi generasi emas Islam yang membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari tangan para pemuda.

Islam memandang bahwa ketenangan hidup tidak bersumber dari banyaknya materi maupun pengakuan manusia. Allah Swt. berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati lahir dari keimanan dan pemahaman yang benar mengenai tujuan penciptaan manusia.

Karena itu, solusi atas krisis mental tidak cukup hanya memperkuat kondisi psikologis, tetapi harus dimulai dengan membangun kepribadian Islam yang menjadikan akidah sebagai dasar berpikir dan bertindak.

Namun, Islam tidak berhenti pada pembinaan individu. Islam juga menawarkan solusi yang bersifat sistemik. Negara dalam Islam bertanggung jawab menjaga akidah umat, menyelenggarakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, menjamin kebutuhan pokok rakyat, membuka lapangan pekerjaan yang halal, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung lahirnya generasi bertakwa. Rasulullah saw. bersabda:

“Imam adalah pemelihara (ra’in) dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, berbagai persoalan yang membelenggu Gen Z hari ini tidak akan selesai selama akar sistemiknya tetap dipertahankan. Program kesehatan mental, pelatihan motivasi, maupun kampanye optimisme hanya akan mengurangi gejala apabila sistem yang melahirkan tekanan tersebut tidak berubah.

Allah Swt. telah mengingatkan, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit” (QS Thaha: 124).

Di sinilah resistensi Gen Z Muslim seharusnya menemukan arah yang benar. Resistensi tidak cukup dimaknai sebagai penolakan terhadap berbagai ketidakadilan, tetapi harus berkembang menjadi kesadaran ideologis bahwa hanya Islam yang mampu menghadirkan solusi menyeluruh bagi problem kehidupan manusia.

Kesadaran tersebut selanjutnya melahirkan dakwah dan perjuangan untuk menghadirkan kembali syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Pemuda tidak boleh berhenti sebagai generasi yang cemas, apalagi menjadi generasi yang putus asa. Mereka juga tidak cukup menjadi generasi yang sekadar kritis terhadap berbagai persoalan.

Gen Z Muslim harus menjadi generasi yang mampu mengubah kegelisahan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi resistensi terhadap sistem yang rusak, dan resistensi menjadi perjuangan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sebab, sepanjang sejarah, kebangkitan umat selalu dimulai oleh pemuda yang memiliki akidah yang kokoh, pemikiran yang jernih, serta keberanian memperjuangkan kebenaran. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment