Penulis: Sarah Ainun, M.Si | Pegiat Literasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa tahun terakhir, jalanan kota besar hingga lini masa media sosial kerap dihiasi aksi demonstrasi anak muda. Mereka datang bukan dengan molotov atau pembakaran fasilitas umum, melainkan dengan poster kreatif, meme satir, dan ilustrasi penuh estetika visual—ekspresi kritis khas Generasi Z.
Fenomena ini menimbulkan beragam respons. Di satu sisi, banyak yang mengapresiasi karena anak muda memilih jalur damai untuk menyuarakan keresahan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran lantaran remaja, bahkan yang masih di bawah umur, ikut turun ke jalan tanpa bekal kontrol diri yang matang.
Lantas, bagaimana sebaiknya kita membaca fenomena ini? Apakah sekadar gaya generasi, atau justru tanda lahirnya kesadaran politik yang lebih mendalam?
Ekspresi Gen Z: Kreatif tapi Rentan
Survei Katadata Insight Center mencatat, 80,1% anak muda Gen Z dan milenial di Indonesia tertarik mengikuti berita politik—angka yang membantah anggapan apatis. Dari jumlah itu, 28,9% bahkan menyatakan siap mengawal pemilu, bukan sekadar berkomentar di media sosial.
Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., menilai Gen Z punya cara unik menghadapi tekanan. “Alih-alih destruktif, mereka memilih berbicara lewat media sosial, meme, atau poster kreatif. Itu cara mereka menunjukkan pendapat tanpa harus membakar fasilitas,” ujarnya.
Sementara itu, psikolog UI, Prof. Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan potensi bahaya bagi remaja yang ikut turun ke jalan. “Demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan aspirasi. Tapi kontrol diri remaja belum matang, sehingga mereka rentan terprovokasi,” jelasnya.
Dua pandangan ini menggambarkan ambiguitas – kreativitas Gen Z memang positif, tapi sekaligus menyimpan kerentanan. Pertanyaannya, apakah cukup memahami fenomena ini hanya lewat kacamata psikologi generasi?
Kapitalisme dan Konstruksi Generasi
Dalam dekade terakhir, klasifikasi generasi (Baby Boomers, Gen X, Milenial, Gen Z) marak digunakan sebagai kacamata analisis sosial. Tapi pertanyaan kritisnya: siapa sebenarnya yang diuntungkan?
Sejumlah pengamat menilai, pembagian generasi justru memudahkan kapitalisme mengelola pola pikir masyarakat. Gen Z diarahkan agar tetap kritis tapi jinak — boleh ekspresif lewat poster atau meme, tapi jangan sampai menumbuhkan kesadaran politik radikal yang mengganggu status quo.
Dengan begitu, energi perlawanan dialihkan ke kanal-kanal aman—media sosial, seni visual, debat identitas—sehingga kritik terlihat indah, tapi tetap tak membahayakan kekuasaan.[]














Comment