Gen Z di Persimpangan Zaman: Antara Kecemasan dan Perlawanan

Opini38 Views

Penulis: Novita Darmawan Dewi | Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Terbuka

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Generasi Z hidup di tengah paradoks zaman. Mereka tumbuh sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi, tetapi juga menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan dan tekanan mental. Kemudahan akses informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup.

Sebagaimana dilaporkan GoodStats Data (8 April 2026), sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Kecemasan itu dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian masa depan, tekanan ekonomi, tuntutan sosial, hingga rasa tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali.

Sementara itu, Tirto.id (15 Januari 2026) mengungkapkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 yang menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi.

Fenomena tersebut tentu tidak muncul tanpa sebab. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental generasi muda dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Eny Qurniyawati, menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga munculnya keinginan bunuh diri akibat budaya membandingkan diri dan mengejar validasi melalui jumlah likes maupun followers.

Senada dengan itu, Peneliti Psikologi Sosial Universitas Indonesia, Wawan Kurniawan, menilai meningkatnya kecemasan remaja dipengaruhi oleh tekanan akademik, dinamika keluarga, pola asuh, media sosial, serta perundungan, sebagaimana dikutip Mojok.co (30 April 2026).

Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara mulai muncul apa yang disebut sebagai “gelombang resistensi Gen Z”, yaitu meningkatnya sikap kritis generasi muda terhadap mahalnya biaya hidup, sempitnya peluang kerja, hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dinilai berpotensi menggantikan peran manusia.

Kompas.id (25 Mei 2026) juga menyoroti kondisi tersebut, sementara Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan sekitar 262 juta penduduk dunia berusia 15–24 tahun berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (Not in Employment, Education, or Training/NEET).

Di tengah tekanan itu, banyak anak muda memilih bersuara, mengkritik ketidakadilan, dan menunjukkan bentuk-bentuk perlawanan sosial.

Kecemasan Gen Z Lahir dari Krisis Multidimensi

Kecemasan yang dialami Gen Z tidak cukup dipahami sebagai persoalan psikologis individu semata. Masalah ini lahir dari krisis multidimensi yang meliputi tekanan ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, terbatasnya lapangan pekerjaan, budaya digital yang semakin kompetitif, hingga hilangnya orientasi hidup.

Dalam perspektif penulis, sistem sekuler kapitalistik telah menempatkan nilai manusia pada ukuran produktivitas, popularitas, dan materi. Akibatnya, banyak anak muda merasa harus memenuhi standar kesuksesan yang ditentukan pasar, sementara kesempatan untuk mencapainya justru semakin sempit. Kondisi inilah yang memicu rasa frustrasi, kehilangan arah, dan krisis identitas.

Ironisnya, Gen Z kerap diberi stigma sebagai generasi yang rapuh, mudah mengeluh, dan tidak tahan menghadapi tekanan. Padahal, sebagaimana diulas Mojok.co, generasi ini justru sedang berusaha bertahan di tengah dunia yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Mereka lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, berani mengkritik ketidakadilan, dan mempertanyakan sistem yang dianggap tidak berpihak. Sikap kritis tersebut semestinya tidak dipandang negatif, melainkan diarahkan menjadi energi perubahan yang konstruktif.

Pemuda dalam Islam: Aset Kebangkitan Peradaban

Islam memandang pemuda sebagai aset utama peradaban, bukan beban sosial. Sejarah Islam menghadirkan banyak teladan tentang peran strategis generasi muda, seperti Mush’ab bin Umair sebagai duta dakwah, Ali bin Abi Thalib yang dikenal karena keberanian dan keluasan ilmunya, hingga Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia muda.

Keberhasilan mereka tidak lahir dari budaya yang bebas nilai, melainkan dari sistem pendidikan Islam yang membentuk kepribadian berdasarkan akidah yang kokoh, ibadah yang kuat, penguasaan ilmu, serta kepedulian terhadap umat.

Menurut pandangan Islam, solusi atas berbagai persoalan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui pendekatan individual, tetapi memerlukan perubahan secara menyeluruh. Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat tersebut dipahami sebagai seruan agar ajaran Islam diterapkan secara utuh dalam seluruh aspek kehidupan. Islam juga memberikan tujuan hidup yang jelas sebagaimana firman Allah Swt.: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dengan orientasi hidup yang demikian, seorang muslim diyakini memiliki landasan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Dalam pandangan Islam, negara juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan prinsip tersebut, negara berkewajiban menyediakan pendidikan yang membangun keimanan sekaligus ilmu pengetahuan, membuka lapangan pekerjaan yang layak, menjaga ruang publik dari konten yang merusak, serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara adil.

Karena itu, resistensi Gen Z semestinya tidak berhenti pada ekspresi protes atau luapan emosi sesaat. Dalam perspektif penulis, sikap kritis generasi muda perlu diarahkan menjadi kesadaran ideologis yang melahirkan solusi mendasar atas berbagai persoalan kehidupan.

Dengan menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh, masa depan yang adil, tenteram, dan bermartabat diyakini bukan sekadar cita-cita, melainkan dapat diwujudkan melalui perubahan sistem yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment