Gen Z di Persimpangan Zaman: Krisis Mental dan Ikhtiar Mencari Jalan Keluar

Opini60 Views

Penulis: Na’ima Kamila | Mahasantriwati Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Isu kesehatan mental menjadi salah satu persoalan yang paling dekat dengan kehidupan Generasi Z saat ini. Berbagai survei menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental di kalangan remaja dan dewasa muda terus meningkat.

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sekitar 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Sebagian besar di antaranya memilih mencari bantuan profesional melalui layanan konseling, terapi, hingga pengobatan.

Berbagai faktor menjadi pemicu kondisi tersebut. Survei pada 2026 menunjukkan bahwa kecemasan terhadap masa depan, tekanan sosial, persoalan ekonomi, dan tingginya ekspektasi lingkungan menjadi penyebab utama meningkatnya gangguan kesehatan mental pada Gen Z. Fakta ini menggambarkan bahwa generasi yang saat ini mendominasi usia produktif sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Namun, di balik berbagai tekanan tersebut, mulai tumbuh kesadaran untuk mencari solusi dan melakukan perubahan sebagai bentuk resistensi terhadap kondisi yang mereka alami.

Persoalan mental yang dihadapi Gen Z tidak lahir dari satu faktor saja. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang kompleks, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Media sosial menghadirkan standar keberhasilan, kecantikan, hingga gaya hidup yang sering kali tidak realistis.

Akibatnya, banyak anak muda merasa harus terus membandingkan diri dengan orang lain demi memenuhi ekspektasi yang dibangun lingkungan.

Di sisi lain, pendidikan karakter belum sepenuhnya mampu membekali generasi muda agar siap menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Peran keluarga pun menghadapi tantangan tersendiri.

Tidak sedikit anak yang tumbuh dengan pengalaman luka emosional akibat pola asuh yang keras, tuntutan berlebihan, atau kurangnya kemampuan orang tua dalam mengelola emosi. Trauma masa kecil semacam ini sering terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental mereka.

Ironisnya, Gen Z juga kerap menerima stigma negatif dari generasi sebelumnya. Mereka sering dicap sebagai generasi yang lemah, mudah mengeluh, atau kurang tangguh. Padahal, sebagian persoalan yang mereka hadapi merupakan dampak dari pola pengasuhan dan perubahan sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, banyak orang tua sesungguhnya telah berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Namun, tuntutan ekonomi membuat mereka harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja sehingga kesempatan mendampingi tumbuh kembang anak menjadi terbatas.

Persoalan lain muncul ketika biaya pendidikan semakin tinggi, sementara dunia kerja menuntut kompetensi yang semakin besar. Saat masalah kesehatan mental membutuhkan penanganan profesional, tidak semua keluarga mampu mengakses layanan kesehatan karena biaya yang mahal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan semata-mata persoalan individu atau keluarga, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan dan sistem yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, terdapat satu sisi positif yang patut diapresiasi. Gen Z memiliki keberanian untuk mengakui kondisi mental yang mereka alami. Mereka lebih terbuka dalam membicarakan kecemasan, depresi, maupun tekanan hidup, sekaligus berupaya mencari jalan keluar. Kesadaran inilah yang menjadi modal penting bagi lahirnya perubahan.

Dalam perspektif Islam, persoalan kesehatan mental tidak hanya diselesaikan melalui pendekatan psikologis, tetapi juga melalui pembinaan akidah, akhlak, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

Pertama, Islam mengajarkan konsep qadha dan qadar. Banyak kecemasan muncul karena manusia terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Islam mengajarkan bahwa masa depan merupakan ketetapan Allah SWT, sedangkan manusia diperintahkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin.

Pemahaman ini diharapkan mampu menghadirkan ketenangan batin sekaligus mengurangi kecemasan berlebihan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali manusia.

Kedua, Islam membangun hubungan sosial yang berlandaskan adab dan akhlak mulia. Setiap individu diperintahkan untuk saling menghormati, menyayangi, tidak merendahkan, tidak memberi stigma negatif, dan tidak membanding-bandingkan seseorang dengan yang lain.

Lingkungan yang sehat diyakini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter serta menjaga kesehatan mental generasi muda.

Ketiga, penulis berpandangan bahwa persoalan kesehatan mental juga memerlukan penyelesaian pada level kebijakan.

Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat yang menjamin kebutuhan dasar, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan, sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dirinya tanpa terbebani persoalan biaya.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga menyangkut lingkungan, keluarga, pendidikan, dan kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, membangun generasi yang kuat tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan akademik atau keterampilan kerja, tetapi juga dengan menghadirkan nilai-nilai yang mampu memberikan ketenangan jiwa dan arah hidup.

Dengan kesadaran tersebut, diharapkan semakin banyak generasi muda yang saling menguatkan, peduli terhadap sesama, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Dengan demikian, masa depan tidak hanya menjadi harapan, tetapi dapat diperjuangkan melalui ikhtiar yang terarah dan berlandaskan keyakinan.[]

Comment