Gen Z: Krisis Mental, Krisis Sistem, dan Jalan Kebangkitan

Opini44 Views

Gen Z: Krisis Mental, Krisis Sistem, dan Jalan Kebangkitan

Penulis: Yuli Yana Nurhasanah | Aktivis Muslimah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Generasi Z yang seharusnya berada pada fase paling produktif justru menghadapi tantangan besar berupa krisis kesehatan mental. Berbagai survei dari KPAI, Kementerian Kesehatan, hingga sejumlah lembaga internasional menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan, stres, burnout, dan overthinking.

Fenomena ini bukan sekadar data statistik, melainkan potret nyata tentang generasi yang tumbuh dalam tekanan psikologis yang semakin berat.

Penyebabnya pun tidak tunggal. Media sosial menjadi salah satu faktor dominan melalui algoritma yang terus menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Kondisi ini memicu fear of missing out (FOMO), tekanan untuk selalu tampil bahagia, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Di sisi lain, tuntutan keluarga, lingkungan pendidikan, standar ekonomi yang terus meningkat, serta banjir informasi negatif membuat ruang istirahat mental semakin sempit.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih skeptis dibandingkan generasi sebelumnya. Ketidakpastian ekonomi, mahalnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan, hingga pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) melahirkan pesimisme terhadap masa depan.

Tidak sedikit anak muda yang mulai mempertanyakan makna perjuangan ketika masa depan dipandang semakin sulit diprediksi.

Meski demikian, di tengah tekanan tersebut mulai muncul gelombang resistensi. Banyak Gen Z memilih melakukan digital detox, menerapkan pola hidup sederhana (soft living), kembali membangun komunitas nyata, memperdalam spiritualitas, meningkatkan literasi keuangan, serta berbicara secara terbuka mengenai kesehatan mental tanpa rasa stigma.

Kesadaran ini menjadi harapan baru bahwa mereka tidak sekadar menjadi korban keadaan, tetapi mulai berusaha mendefinisikan kembali makna kesuksesan yang lebih sehat dan bermakna.

Krisis multidimensi yang melanda dunia menjadi faktor utama yang memperparah kondisi tersebut. Krisis ekonomi meningkatkan biaya hidup, sementara kesempatan kerja semakin terbatas.

Krisis sosial dan politik turut menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap berbagai institusi. Akumulasi berbagai persoalan ini menciptakan ketidakpastian yang terus membayangi kehidupan generasi muda, terutama mereka yang baru memasuki usia produktif.

Di sisi lain, banyak anak muda mengalami kekosongan makna hidup. Mereka memiliki akses informasi yang sangat luas, tetapi kehilangan arah dan tujuan hidup.

Dalam pandangan penulis, kondisi ini dipengaruhi oleh arus peradaban sekularistik-kapitalistik yang menjadikan materi, popularitas, dan kepuasan instan sebagai ukuran keberhasilan.

Akibatnya, jumlah pengikut di media sosial, gaya hidup, dan daya beli lebih dihargai dibandingkan karakter, ilmu, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Industri hiburan dan media pun dinilai turut memperkuat budaya hedonisme, individualisme, dan hubungan sosial yang bersifat pragmatis.

Penulis juga menilai negara belum sepenuhnya hadir dalam menjawab persoalan tersebut. Kebijakan yang berpihak pada pendidikan, penyediaan lapangan kerja, maupun ruang berekspresi bagi generasi muda dinilai masih belum optimal.

Tidak jarang Gen Z justru memperoleh stigma sebagai “generasi stroberi” atau “generasi rebahan”, tanpa melihat bahwa mereka tumbuh dalam sistem yang penuh tekanan. Akibatnya, jarak antara negara, masyarakat, dan generasi muda semakin melebar.

Namun demikian, di balik kecemasan tersebut tersimpan potensi besar. Kepedulian Gen Z terhadap ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan kemanusiaan menunjukkan bahwa nurani mereka belum padam.

Jika diarahkan melalui ilmu, pembinaan, dan kepemimpinan yang tepat, sikap kritis tersebut dapat menjadi energi perubahan. Berbagai komunitas sosial, gerakan literasi, pendidikan finansial, hingga pencarian nilai-nilai spiritual yang berkembang di kalangan anak muda menjadi indikasi lahirnya harapan baru menuju generasi yang lebih berkarakter dan beradab.

Dalam perspektif Islam, penulis memandang berbagai persoalan tersebut berakar pada sistem kehidupan yang memisahkan agama dari urusan publik.

Islam diyakini menawarkan solusi yang menyeluruh (kaffah), mengatur tidak hanya aspek ibadah, tetapi juga ekonomi, politik, sosial, pendidikan, hingga akhlak.

Dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, penulis meyakini akan terwujud kehidupan yang menghadirkan ketenangan jiwa, keadilan sosial, dan kemaslahatan bagi seluruh manusia sebagai manifestasi rahmatan lil ‘alamin.

Sejarah Islam juga menghadirkan teladan tentang lahirnya generasi emas yang memiliki kepribadian kokoh, amanah, jujur, berani membela kebenaran, sekaligus menguasai berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat bagi umat. Generasi seperti inilah yang diyakini mampu mengangkat peradaban manusia menuju puncak kemuliaan.

Dalam pandangan penulis, kehadiran negara memiliki peran sentral dalam membangun peradaban. Negara semestinya menjadi pelindung sekaligus pelayan rakyat dengan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok secara adil, mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat, menyediakan lapangan kerja sesuai kompetensi, serta memastikan akses pendidikan dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Dengan demikian, ketimpangan sosial dapat diminimalkan dan kesejahteraan masyarakat lebih merata.

Pada akhirnya, pemuda perlu disadarkan akan besarnya tanggung jawab yang mereka emban. Sebagai generasi penerus, mereka dituntut untuk tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan umat, melainkan memiliki kepedulian, semangat berpikir, dan keberanian untuk berkontribusi bagi perubahan.

Dari tangan generasi muda yang memiliki ilmu, akhlak, dan visi yang jelas, harapan menuju masa depan yang lebih baik akan terus menyala. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment