Gen Z, Potensi Besar Pembawa Perubahan

Opini514 Views

Penulis: Irohima | Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Gelombang demonstrasi yang melanda berbagai daerah belakangan ini menyisakan fenomena menarik: keterlibatan generasi Z—mereka yang lahir antara 1997–2012—sebagai peserta aktif. Bukan sekadar aksi yang berujung anarki atau harmoni, melainkan keberanian kelompok usia 13–28 tahun ini untuk hadir di garis depan.

Pada 30 Agustus 2025, misalnya, Kompas.com (8 September 2025) melaporkan 14 remaja ditangkap karena diduga membakar pos polisi di Banten dan berencana melempar bom molotov ke Mapolresta Serang. Di hari yang sama, 26 pelajar diamankan akibat demonstrasi rusuh.

Ironisnya, para remaja yang terlibat dikenal sopan dan rajin dalam keseharian. Namun, di tengah kerumunan massa, mereka larut dalam emosi hingga terjebak dalam aksi berbahaya.

Karakter dan Tantangan Gen Z

Gen Z tumbuh dalam ekosistem digital. Internet dan gawai menjadi bagian hidup mereka—untuk belajar, mencari hiburan, berkomunikasi, hingga membentuk opini melalui meme, poster, video, dan estetika visual. Mereka cepat menyerap informasi, kritis, dan berani. Namun, kedekatan dengan dunia digital juga membawa sisi rentan: mudah termakan hoaks, impulsif, dan haus validasi.

Validasi itu kerap diukur dari jumlah like, view, dan komentar. Mereka sangat peka pada tren dan keramaian, diliputi rasa takut tertinggal momen—fenomena yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Dorongan untuk tidak dianggap “kudet” atau penakut membuat sebagian remaja rela hadir di konser musik, kafe, bahkan aksi demonstrasi, meski tak sepenuhnya paham misi dan tujuan gerakan.

Sejumlah pengamat sosial menilai, bagi sebagian Gen Z, turun ke jalan menjadi sarana aktualisasi diri sekaligus pencarian pengakuan, terutama mereka yang masih SMA.

Tantangan Ideologis

Dari perspektif sosial, generasi ini kerap diarahkan agar akomodatif terhadap situasi apa pun, bahkan ketika bertentangan dengan fitrah manusia. Pendekatan psikologis dan kapitalistik cenderung menumpulkan kesadaran politik, menyalurkan energi mereka hanya pada hal-hal praktis, dan menjauhkan dari pemikiran mendasar tentang keadilan.

Padahal, ajaran Islam menegaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk menolak kezaliman dan mencari solusi hakiki. Syariat menjadi pedoman moral dan etika yang utuh, lebih dari sekadar teori psikologi. Ajaran agama menyediakan paket lengkap: panduan hidup, pemenuhan spiritual, dan aturan yang menjaga manusia tetap sesuai fitrahnya.

Jalan Pembinaan

Generasi muda dengan sejuta potensi adalah kunci kebangkitan. Namun, produktivitas mereka mudah terseret arus sistem demokrasi sekuler-kapitalistik. Agar tidak “dibajak” dan kehilangan arah, Gen Z memerlukan pembinaan berbasis akidah dan tsaqafah Islam. Syariat akan menuntun mereka menjadi pribadi beriman, bertakwa, dan berkepribadian Islam.

Sejarah Islam membuktikan betapa generasi muda mampu menjadi pelopor perubahan. Kita mengenang Mush‘ab bin Umair, diplomat muda yang diutus Nabi Muhammad SAW ke Madinah dan berhasil mengislamkan tokoh-tokoh penting hanya dalam waktu singkat.

Ada pula Usamah bin Zaid, panglima perang berusia 18 tahun yang memimpin ekspedisi ke Mu’tah dengan keberanian dan strategi cemerlang.

Transformasi tokoh-tokoh muda ini menegaskan bahwa syariat Islam adalah jalan membentuk generasi tangguh, berwawasan, dan berakhlak yang mampu mengukir peradaban gemilang. Wallahu a‘lam bis shawab.[]

Comment