Penulis: Najdah Nashita Alfajri | Aktivis Remaja Muslimah
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Hidup sebagai pelajar di zaman ini penuh warna—kadang menghibur, kadang menyesakkan. Gawai makin canggih, internet makin cepat, dan sekolah makin beragam.
Namun ironisnya, di tengah derasnya arus digital dan modernisasi, berita tentang pelajar justru kerap membuat kita prihatin. Mereka bukan viral karena prestasi, tetapi karena aksi yang mencederai citra dunia pendidikan.
Seperti diberitakan sukabumiupdate.com (03/09/2025), belasan pelajar di Sukabumi dinyatakan positif narkoba saat mengikuti aksi demonstrasi.
Tak lama berselang, sebagaimana dilaporkan radarlambar.bacakoran.co (08/08/2025), media sosial digemparkan oleh video tawuran pelajar di Lampung Barat—bahkan ada yang membawa celurit ke area Taman Makam Pahlawan.
Sementara itu, menurut tribratanews.jabar.polri.go.id (23/08/2025), di Garut seorang pelajar ditangkap karena menjadi pengedar sekaligus pengguna sabu.
Kasus serupa juga terjadi di berbagai daerah: ada siswa yang tewas karena ditusuk temannya gara-gara cemburu, bahkan anak SD yang menusuk pelajar MTs hingga meninggal dunia.
Seperti dirilis pusiknas.polri.go.id (21/02/2025), ratusan pelajar telah terlibat dalam kasus kriminal sejak awal tahun—mulai dari penganiayaan, pencurian, hingga narkoba. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cermin betapa rapuhnya kondisi generasi muda hari ini.
Sekolah yang Kehilangan Jiwa, Lingkungan yang Kian Toksik
Sekolah sejatinya adalah benteng moral terakhir. Namun, sebagaimana banyak diamati, lembaga pendidikan kini sering terjebak pada formalitas: mengejar nilai, akreditasi, dan administrasi. Murid pun diperlakukan layaknya mesin penghasil angka, bukan manusia yang perlu diarahkan dan dikuatkan karakternya.
Pelajaran agama memang ada, tetapi porsinya kecil dan kerap berhenti pada hafalan. Sementara di luar sekolah, gawai menjadi “guru utama”. Platform seperti TikTok dan Instagram membentuk pola pikir dan gaya hidup pelajar. Tak mengherankan jika siswa kini lebih hafal tarian viral daripada ayat Al-Qur’an.
Lingkungan sosial juga memperburuk keadaan. Mal semakin ramai, geng remaja makin brutal, dan dunia maya kian liar. Akibatnya, banyak remaja tumbuh tanpa pegangan nilai yang jelas dan kokoh.
Akar Masalah: Kapitalisme dalam Dunia Pendidikan
Menyalahkan murid sebagai “nakal” atau “bandel” mudah dilakukan, tapi akar masalahnya lebih dalam. Guru pun sering menjadi korban – gaji minim, pemotongan sepihak, dan tekanan administratif. Orang tua pun terhimpit – biaya pendidikan melonjak, sementara sistem penerimaan siswa baru sering menimbulkan polemik karena kurang transparan.
Masalah sesungguhnya terletak pada sistem yang menaungi pendidikan. Pendidikan dijalankan dalam bingkai kapitalisme—berorientasi pada keuntungan, bukan pencerdasan. Sekolah berubah menjadi institusi bisnis. Kurikulum terus berganti, namun makin menjauh dari nilai-nilai agama.
Label “internasional” menjadi alasan menaikkan biaya, bukan kualitas. Akibatnya, murid hanya menjadi objek sistem, bukan subjek pembelajar.
Tak heran, di tengah meningkatnya fasilitas pendidikan, justru makin banyak kasus tawuran, narkoba, dan kekerasan. Kapitalisme gagal melahirkan generasi yang kuat secara moral dan spiritual.
Islam dan Pendidikan yang Menyeluruh
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar tempat mengumpulkan nilai, tetapi amanah besar untuk membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Negara dalam sistem Islam wajib menjamin pendidikan gratis dan berkualitas, serta menanggung kesejahteraan guru karena mereka adalah pilar peradaban.
1. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk syakhsiyah Islamiyah—kepribadian Islam. Seorang pelajar diajarkan untuk:
a) menyadari bahwa hidupnya adalah ibadah kepada Allah,
b) menguasai ilmu agama dan ilmu dunia secara seimbang, dan
c) memiliki kontrol diri serta tanggung jawab sosial.
2. Kurikulum Berbasis Akidah
Kurikulum dalam Islam dibangun di atas akidah. Semua pelajaran, baik agama maupun umum, diarahkan agar siswa memahami bahwa ilmunya bagian dari ketaatan kepada Allah. Sains dipelajari untuk mengenal kebesaran ciptaan-Nya, matematika untuk menata kehidupan umat, dan bahasa untuk dakwah.
3. Peran Guru dalam Sistem Islam
Guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing moral. Mereka dihormati dan dijamin kesejahteraannya agar fokus mendidik tanpa tekanan ekonomi.
4. Lingkungan dan Media yang Terjaga
Islam memahami bahwa pendidikan tidak bisa lepas dari lingkungan. Karena itu, negara berkewajiban mengontrol media agar kontennya mendidik dan selaras dengan nilai Islam. Sekolah dan ruang publik pun diatur agar bebas dari kekerasan, tawuran, dan narkoba.
Bukan Revisi, Tapi Revolusi Sistem
Pendidikan di bawah kapitalisme hanya melahirkan generasi rapuh. Selama sistemnya masih kapitalistik, perbaikan parsial tidak akan cukup. Hal utama yang dibutuhkan bukan revisi kecil, melainkan perubahan menyeluruh—revolusi sistem.
Islam menawarkan solusi komprehensif. Sejarah membuktikan, pada masa kejayaannya, Islam berhasil melahirkan generasi emas—ilmuwan, ulama, dan pemimpin berakhlak tinggi. Itu bukti nyata bahwa sistem Islam mampu mencetak generasi unggul yang seimbang antara ilmu dan iman.
Generasi Z, Jangan Kehilangan Arah
Kita boleh hidup di era teknologi, tapi jangan kehilangan iman. Boleh mengikuti tren, tapi jangan tenggelam dalam arus. Melek digital itu penting, tapi benteng akhlak harus tetap dijaga.
Generasi kita bukan untuk dihabiskan dalam tawuran, narkoba, atau kekerasan, tapi untuk melanjutkan estafet kebaikan umat. Bila kapitalisme terus menjadi pondasi, masa depan akan makin suram. Tapi bila Islam dijadikan dasar pendidikan, insyaallah arah hidup akan terang dan terarah.[]














Comment