Penulis: Dinar Khair | Mahasiswi Psikologi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Alih-alih terbang menuju masa depan yang cerah, sebagian anak muda justru memilih “terbang” dalam halusinasi kebahagiaan semu. Narkoba—monster modern yang pernah dianggap mitos—kini hadir sedekat urat nadi. Kasusnya menghantui generasi bangsa tanpa kenal ruang dan waktu.
Sebagaimana diberitakan Kumparannews, kawasan Jalan Kunti di Kecamatan Semampir, Surabaya, telah lama dijuluki sebagai “kampung narkoba”.
Berulang kali aparat melakukan penggerebekan, namun peredaran barang haram tetap berlangsung. Lebih menyedihkan, hasil tes urine yang dilakukan BNNP Jatim terhadap puluhan pelajar di wilayah tersebut menunjukkan 15 siswa SMP positif narkoba.
Ini bukan sekadar kabar buruk—melainkan tamparan keras bagi masa depan Indonesia. Pada usia ketika mereka seharusnya berkutat dengan PR matematika, mereka justru bersentuhan dengan zat yang merusak fungsi otak.
Pencegahan, Pengawasan, dan Penegakan Hukum yang Lumpuh
Ketika membicarakan narkoba, sorotan pertama jatuh pada lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Aparat sering hanya memotong ranting, bukan mencabut akar persoalan. Para bandar besar tetap bebas bergerak, sementara kasus-kasus kecil dijadikan etalase penindakan.
Lebih ironis lagi, sebagian oknum penegak hukum justru ikut bermain. Laporan ICJR yang mengutip data KontraS menunjukkan, sepanjang 2019–2022 terdapat 106 insiden keterlibatan oknum polisi mulai dari level Polsek hingga Polda.
Jika lembaga yang seharusnya mengayomi justru terjebak dalam kejahatan yang sama, bagaimana generasi muda bisa berharap pada perlindungan negara?
Pengawasan yang lemah dan payung hukum yang tidak diterapkan konsisten membuat persoalan narkoba seperti lingkaran gelap yang tak berujung. Sudah saatnya penanganannya melibatkan seluruh elemen masyarakat—bukan hanya aparat.
Islam: Penjaga Generasi dengan Sistem Preventif
Dalam perspektif Islam, remaja adalah aset negara yang wajib dijaga secara sistematis. Pendidikan pemikiran Islam sejak usia dini menjadi pondasi preventif, menanamkan pemahaman bahwa kebahagiaan sejati lahir dari ketakwaan, bukan dari pelarian semu.
Islam juga menekankan pentingnya kesejahteraan keluarga. Sebagaimana dijelaskan Dr. Francesca Bocca dalam forum perkuliahan IOU, kenakalan remaja dan kriminalitas kerap muncul dari keluarga tidak mampu.
Karena itu, negara wajib menjamin kebutuhan dasar warganya agar tekanan ekonomi tidak menjadi pintu masuk perilaku destruktif.
Dalam aspek penegakan hukum, sejarah Islam mencatat keteladanan generasi salaf yang menjunjung tinggi keadilan tanpa pandang bulu.
Bila Khalifah Ali bin Abi Thalib saja bisa kalah di hadapan hakim ketika berperkara dengan seorang Yahudi, maka mafia narkoba sudah pasti tidak akan lolos dari hukuman berat. Sistem yang adil akan menciptakan efek jera sekaligus memutus mata rantai kejahatan.
Kembali pada Penjagaan Ilahi
Sudah sewajarnya manusia kembali pada fitrah: menjadikan Allah sebagai sumber aturan yang menenteramkan. Islam sebagai rahmatan lil’alamin memberikan mekanisme penjagaan generasi—baik melalui pendidikan, kesejahteraan keluarga, hingga sistem peradilan yang tegas dan adil.
Dengan arah yang benar, potensi besar para pemuda dapat diarahkan untuk membangun peradaban yang berkualitas, bukan malah terkubur oleh gelapnya narkoba. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
—
Footnote
(1) ICJR – Polisi Bermain Narkotika Ilegal: Kewenangan Besar Minim Pengawasan
(2) Kumparannews – Kampung Narkoba di Jalan Kunti Surabaya, 15 Siswa Positif Narkoba











Comment