Generasi Rapuh, Potret Kesehatan Mental Pelajar dan Solusi Pendidikan Islam

Opini315 Views

Penulis: Astina | Tenaga Kesehatan

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kondisi kesehatan jiwa anak-anak Indonesia kini menghadapi “lampu merah”. Sebagaimana diberitakan dalam Ameera Republika, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang digelar Kementerian Kesehatan.

Hasilnya, lebih dari dua juta anak di Indonesia saat ini tengah berjuang menghadapi berbagai bentuk gangguan mental. Pemeriksaan yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa itu menyingkap krisis tersembunyi di kalangan generasi muda.

Kesehatan mental sejatinya menjadi bagian penting dari tumbuh kembang pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Namun, situasi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Seperti dilaporkan berbagai media, dua kasus bunuh diri pelajar terjadi pada Oktober lalu — masing-masing di Sawahlunto, Sumatera Barat, dan Sukabumi, Jawa Barat. Dua peristiwa tragis ini menambah daftar panjang kasus serupa yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Sebagaimana dirilis Media Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas dua kasus tersebut. Komisioner KPAI, Aris Adi Leksono, menegaskan bahwa setiap anak yang kehilangan harapan hidup mencerminkan lemahnya sistem deteksi dini terhadap masalah psikologis di lingkungan sekolah dan keluarga.

Ia menyerukan agar sekolah dan pemerintah daerah membangun sistem deteksi dini melalui penguatan fungsi guru BK, pelatihan peer counselor bagi siswa, serta koordinasi berlapis antara sekolah, puskesmas, dan dinas terkait.

Upaya pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan mental memang terus berjalan. Namun, fakta meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan pelajar menunjukkan bahwa ada persoalan yang lebih mendasar: lemahnya kepribadian dan fondasi spiritual remaja.

Tekanan akademik, tuntutan sosial, dan gaya hidup konsumtif kerap memicu stres, kecemasan, bahkan depresi.

Di sisi lain, pelajaran agama yang terbatas hanya dua hingga tiga jam per minggu dan berfokus pada ibadah mahdhah, membuat nilai-nilai pembentuk kepribadian Islam belum tertanam kuat dalam diri pelajar.

Kerapuhan mental remaja bukan semata akibat bullying atau tekanan eksternal. Lebih dalam dari itu, ia mencerminkan lemahnya dasar akidah dan hilangnya arah hidup.

Fenomena ini merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler yang hanya menilai keberhasilan dari aspek fisik dan prestasi akademik, sembari mengabaikan pembinaan ruhani dan akhlak.

Dalam sistem kapitalistik seperti sekarang, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang menuntut banyak, tapi membimbing sedikit.

Berbeda halnya dengan sistem pendidikan Islam. Dalam konsep pendidikan Islam, kurikulum disusun untuk membentuk kepribadian Islam secara menyeluruh — bukan sekadar melahirkan siswa pintar, tetapi juga bermental kokoh dan bertakwa. Aqidah menjadi dasar bagi setiap ilmu dan aktivitas belajar.

Lingkungan sekolah dibangun atas asas kasih sayang (rahmah) dan penghormatan, menciptakan hubungan harmonis antara guru dan murid, sehingga tidak ada ruang bagi kekerasan verbal, bullying, atau diskriminasi sosial.

Selain itu, Islam mengatur agar negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan gratis yang membina akhlak sejak dini. Tekanan sosial akibat persaingan, konsumsi, dan gaya hidup pun dapat ditekan karena sistem ini menanamkan kesadaran halal-haram dan tujuan hidup yang jelas.

Ketika anak dibina secara spiritual, intelektual, dan emosional dalam suasana penuh bimbingan, maka risiko stres, depresi, dan gangguan mental dapat diminimalkan secara signifikan.

Nilai-nilai pendidikan Islam mengajarkan bahwa kesehatan mental peserta didik tidak bisa dipisahkan dari suasana belajar yang penuh adab, ketenangan, dan bimbingan moral.

Jika prinsip-prinsip ini dihidupkan dalam sistem pendidikan nasional, sekolah akan menjadi ruang pertumbuhan yang menenangkan, bukan sumber tekanan. Dengan demikian, kita tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga generasi yang kuat, beriman, dan berkarakter.

Sumber:

Ameera Republika: “Lebih dari dua juta anak Indonesia alami gangguan kesehatan mental.”

Media Indonesia: “KPAI dorong dukungan psikologis awal untuk cegah kasus bunuh diri di kalangan pelajar.”

Comment