Generasi Tanpa Visi, Butuh Solusi

Opini1455 Views

 

 

Oleh : Eka Purwaningsih, S.Pd, Pegiat literasi, Muslimah peduli Ummat

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Indonesia merupakan negara dengan jumlah generasi muda yang sangat banyak. Namun sangat disayangkan pula kondisi saat ini mendorong mereka untuk melepaskan diri dari nilai-nilai keutamaan dan idealisme.

Prinsip-prinsip yang menyeru kepada kebebasan juga menambah kusut kepribadian remaja dan pemuda. Bebas melakukan apapun asalkan tidak mengganggu orang lain, asalkan suka-sama suka, asalkan tidak di tempat umum, tanpa memandang itu halal ataukah haram dalam kacamata agama.

Kapitalisme-sekuler membuat generasi hari ini menjadi generasi pengekor, generasi followers. Baik kalau lingkungan baik, buruk saat lingkungan buruk. Generasi ikut-ikutan, generasi ima’ah. Generasi yang kebaikannya tidak menancap kuat. Kurang ajeg dalam hal pendirian.

Ditambah dengan sistem pendidikan yang carut marut, mahal, pelajaran dan pendidikan agama di sekolah yang semakin tidak optimal dan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Dari sini kemudian muncul degradasi moral pemuda dan masyarakat yang mengakibatkan ekses berbagai kasus terhadap mereka seperti penyimpangan  narkoba, sex bebas, plagiat, aborsi,  tawuran, dan lain-lain.

Kasus geng motor misalnya, belum lama ini Polres Purwakarta berhasil menangkap 14 orang yang diketahui merupakan bagian Gengster. Enam di antaranya adalah anak di bawah umur.

Geng motor tersebut telah melakukan pengeroyokan terhadap warga di Gang Buana Indah, Desa Mulyamekar, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta pada Minggu (15/1/2023) dini hari.

Penyerangan tersebut menyebabkan pria bernama Yordhi Dwi Rezika (29) meninggal dunia dan Eko Wahyu Nughroho (28) mengalami luka berat. (Tribunjabar/20/01/2023).

Sistem pendidikan kapitalisme-sekuler jelas-jelas telah gagal membentuk generasi berakhlak mulia.

Tentu berbanding terbalik dengan generasi terdahulu yang memiliki izzah. Memiliki arti kehormatan, kemuliaan, teguh dalam kebaikan walaupun sendirian. Generasi penuh izzah yang disegani lawan, dihormati kawan. Generasi berkarakter kuat yang dipuji Rosulullah SAW.

Apa yang membuat generasi terdahulu memiliki izzah? Tentu karena mereka teguh berdiri di atas landasan Islam.

Pemuda-pemuda seperti Saad bin Abi Waqqash yang masuk Islam saat berumur 17 tahun. Muhammad Al-Fatih, seorang Pemuda yang menjemput janji Rasulullah dan akhirnya mampu menaklukan Konstantinopel, sehingga namanya selalu menjadi motivasi untuk kita semua. Dia merupakan pemuda visioner yang memiliki semangat luar biasa.

Hal itu terjadi karena keyakinan yang mendalam terhadap aqidah Islam, Mush’ab bin Umair yang dikenal sebagai duta Islam pertama, masuk Islam ketika berumur 18 tahun, terkenal dengan kezuhudannya dan terlibat aktif dalam menegakkan panji-panji Islam semasa hidupnya sampai mati syahid di perang Uhud.

Potret pemuda seperti inilah yang mampu membawa sebuah kebangkitan yang hakiki. Seorang matematikawan bernama Al- Khawarizmi dan ahli kedokteran seperti Al- Kindi bukan hanya pintar dan ahli di bidang keilmuan sains namun mereka juga ahli fiqih dan juga seorang ulama. Mereka merupakan contoh output system pendidikan Islam.

Pemuda memiliki potensi dan peran yang sangat besar dalam bernegara. Potensi yang dimliki pemuda benar – benar dijaga dan dioptimalkan untuk meraih kebangkitan hakiki yang hanya dapat diperoleh dari Islam sebagai mabda.

Semangat menggebu-gebu, sikap gigih, berani, bertanggung jawab dan energi juang yang tinggi, merupakan potensi alami yang dimiliki setiap pemuda. Potensi inilah yang kemudian dioptimalkan bagi keberlangsungan dakwah Islam.

Tentunya potensi-potensi ini dilandasi dengan akidah yang lurus kepada Allah SWT dan kontribusi aktif dalam perjuangan dakwah Islam. Ikhlas dalam mengemban amanah, selalu berstrategi dalam melakukan aktivitas serta tujuannya hanya mengharap keridhoan dari Allah SWT , ta’at dan takut hanya kepada Allah SWT bukan yang lain.

Pemuda merupakan salah satu yang memiliki potensi dan peran yang sangat besar untuk merubah dan mewujudkan generasi yang ada menjadi generasi pemimpin.

Generasi pemimpin adalah generasi yang penuh harapan, semangat meraih cita-cita, cerdas menentukan pilihan, kreatif dalam memecahkan masalah, inofatif dalam menemukan hal baru, sehat fisik dan psikis, pandai menjaga kesucian diri, serta ta’at dan takut hanya kepada Allah.

Untuk mencetak generasi pemimpin berkualitas, harus ada kerjasama yang apik antara keluarga, masyarakat (dalam hal ini sekolah), dan negara. Hanya dengan kembali pada pangkuan Islam sajalah solusi untuk generasi. Wallahu’alam bishawwab.[]

Comment