Generasi Z dan Ilusi Dua Negara

Opini435 Views

 

Penulis: Murni Al-Gaziyah, S.E  | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia tengah menyoroti gerakan solidaritas internasional yang berlayar menembus Laut Mediterania dalam Global Sumud Flotilla (GSF)—konvoi maritim terbesar dalam sejarah untuk mematahkan blokade Israel di Gaza.

Aksi heroik ini menjadi simbol nyata solidaritas kemanusiaan global bagi Palestina. Sekitar 45 kapal yang membawa politisi dan aktivis dari berbagai negara, termasuk aktivis muda asal Swedia Greta Thunberg (22), berangkat pada Rabu (1/10/2025).

Tujuan mereka hanya satu: menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, dan peralatan medis kepada warga sipil Gaza yang terkepung.

Namun, harapan itu kandas ketika armada GSF diadang militer Israel dan dipaksa berlabuh di pelabuhan Ashdod. Berbagai laporan menyebut, para aktivis kemanusiaan diperlakukan secara tidak manusiawi sebelum akhirnya akan dideportasi.

Tindakan brutal tersebut memicu gelombang kecaman internasional. Demonstrasi pro-Palestina merebak di Amerika Serikat, Prancis, Irak, Lebanon, Iran, Turki, Italia, Spanyol, Inggris, hingga Indonesia. Bahkan sejumlah kelompok Yahudi pencinta perdamaian turut menggugat tindakan pemerintah Israel.

Di tengah arus solidaritas global itu, generasi muda tampil di barisan terdepan. Aksi demonstrasi Gen Z di Maroko menjadi sorotan dunia setelah mereka memprotes keras pencegatan armada flotilla dan kebiadaban Israel yang terus memblokade jalur bantuan ke Gaza.

Blokade ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan akut dan kelaparan massal yang menelan banyak korban setiap hari.

Gelombang semangat serupa juga muncul di Indonesia. Puluhan pemuda dari Student Justice for Palestine (SJP) Unpad, SJP Tel-U, SJP UPI, Komunitas Mujahidah Sahabat Palestina, FYPforPals, dan FSLDK Bandung turun ke jalan.

Dengan mengenakan kafiyeh, membawa poster, dan membagikan selebaran, mereka menyerukan kemerdekaan Palestina dan penghentian genosida.

Gaza terus memanggil. Apa yang terjadi di sana bukan sekadar perang, tetapi upaya pelaparan massal yang terencana dan tersistematis. Dunia, sayangnya, sering memilih bungkam—seolah menutup mata terhadap penderitaan yang terus berlangsung.

Di tengah situasi ini, wacana “two-state solution” atau solusi dua negara kembali mengemuka. Namun, bagi banyak pihak, termasuk generasi muda yang kritis, konsep itu hanyalah ilusi. Mengakui dua negara berarti secara tidak langsung menerima pencaplokan 70–80 persen wilayah Muslim Palestina oleh entitas Zionis.

Dalam sejarah Islam, pemuda selalu menjadi motor perubahan. Mereka memiliki energi, keberanian, dan idealisme untuk menegakkan kebenaran.

Negara Islam sejatinya menyiapkan generasi melalui pendidikan berbasis akidah—membentuk syakhsiyyah Islamiyah (kepribadian Islami)—sehingga pola pikir dan perilaku masyarakat berpijak pada nilai-nilai Islam.

Dari sistem itulah lahir generasi emas seperti Imam Syafi’i, Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Haitsam—tokoh-tokoh yang mengubah peradaban dunia. Sejarah telah membuktikan, kejayaan Islam bermula dari pembinaan pemuda yang berilmu, beriman, dan berakhlak.

Kisah Global Sumud Flotilla menjadi panggilan bagi generasi hari ini untuk bangkit dari euforia semu dan berlayar menuju kebangkitan Islam yang sejati. Sebuah kebangkitan yang berlandaskan keikhlasan karena Allah dan Rasul-Nya semata.

Semoga Allah Ta’ala meneguhkan langkah para pemuda Islam di seluruh dunia untuk terus berjuang membela kebenaran dan membebaskan Al-Aqsa dari cengkeraman penjajahan. Wallahu A’lam Bishshawab.[]

Comment