Genosida di Gaza: Dunia Mengecam namun Kekejaman Terus Berlanjut

Opini47 Views

Penulis: Rully, S.E | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  —  Kekejaman yang dilakukan Zionis di Jalur Gaza hingga kini belum juga berhenti. Bahkan, serangan yang terjadi justru semakin brutal. Pemboman, pembantaian, dan pembunuhan terhadap warga sipil Palestina, khususnya di Gaza, masih berlangsung tanpa henti.

Dunia menyaksikan berbagai peristiwa tersebut melalui beragam bukti yang tersebar luas di media sosial maupun pemberitaan media internasional. Namun, di tengah kecaman yang terus disuarakan, penderitaan rakyat Palestina belum juga berakhir.

Korban yang paling memprihatinkan adalah anak-anak. Mereka menjadi sasaran dalam serangan yang dinilai sebagai bagian dari upaya genosida terhadap rakyat Palestina.

Kehilangan orang tua, tempat tinggal, akses pendidikan, hingga hak untuk hidup dengan aman menjadi kenyataan pahit yang harus mereka hadapi setiap hari.

Sebagaimana diberitakan detikNews, gelombang terbaru serangan Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Senin (29/6/2026) waktu setempat.

Serangan tersebut terjadi ketika kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober tahun sebelumnya masih menjadi rujukan.

Dalam serangan itu, sedikitnya delapan warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk seorang ibu dan putrinya yang masih kecil, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Informasi serupa juga disampaikan sejumlah sumber medis setempat yang dikutip Anadolu Agency dan dilansir TRT World pada Selasa (30/6/2026).

Berbagai serangan tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama Zionis adalah menguasai seluruh wilayah Palestina demi mewujudkan cita-cita Israel Raya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara ditempuh, termasuk penggunaan kekuatan militer yang mengakibatkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil, seperti anak-anak, perempuan, dan lanjut usia.

Bahkan, kecaman dari berbagai negara maupun lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dinilai belum mampu menghentikan operasi militer yang terus berlangsung.

Kondisi ini semakin diperburuk oleh sikap sebagian negara Muslim yang memilih menjalin kedekatan politik maupun ekonomi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kepentingan materi dan politik lebih diutamakan dibandingkan pembelaan terhadap keselamatan rakyat Palestina.

Selain itu, sistem nasionalisme dan kapitalisme dipandang sebagai faktor yang turut memperlemah persatuan umat Islam dalam merespons tragedi kemanusiaan tersebut.

Harapan pembebasan Palestina hanya dapat terwujud melalui persatuan islam global dalam satu naungan Islam secara menyeluruh.

Institusi tersebut akan menjalankan jihad fi sabilillah untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis serta memberikan perlindungan menyeluruh bagi anak-anak Palestina, mencakup hak hidup, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, hingga masa depan mereka. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment