Global March To Gaza: Hubungan Diplomatik Penghalang Aksi Perjuangan Pembebasan Palestina

Opini1122 Views

 

Penulis : Neta Susanti | Komunitas Muslimah Coblong

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah Mesir dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan dengan tujuan melawan blokade Israel di Jalur Gaza. Aksi Global March To Gaza bertujuan menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023.

Seorang pejabat Mesir menyatakan, lebih dari 30 aktivis telah dideportasi di hotel dan bandara internasional Kairo oleh pemerintah setempat. Pejabat itu menyebut para aktivis dideportasi karena tidak mengantongi izin yang diperlukan.

Pemerintah Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza dan mendesak gencatan senjata segera. Namun, Kairo juga getol membungkam pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel.

Hubungan tersebut merupakan isu sensitif di Mesir karena pemerintah tetap menjaga hubungan dengan Israel kendati publik secara luas bersimpati dengan masyarakat Palestina.

Pihak kementerian mengaku menerima banyak sekali permintaan akses menuju perbatasan Mesir-Gaza. Kementerian Luar Negeri Mesir juga menyatakan peserta Global March to Gaza harus mengantongi izin terlebih dulu.

Dikutip Associated Press, Rabu (11/6/25),  Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan, “Mesir berhak melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional, termasuk meregulasi keluar-masuk dan pergerakan individu di wilayahnya, khususnya di daerah perbatasan yang sensitif,” .

Aktivis dan advokat yang berencana mengikuti Global March to Gaza mengatakan, pemerintah Mesir memulai proses razia dan deportasi pada Rabu (11/6) tanpa mengungkapkan alasan secara eksplisit.

Advokat asal Aljazair, Fatima Rouibi menyebut tiga koleganya ditahan di bandara pada Rabu (11/6) sebelum dideportasi sehari kemudian. Sedangkan aktivis Tunisia yang tinggal di Jerman, Bilal Nieh mengaku dirinya turut dideportasi bersama tujuh rekannya asal Afrika Utara yang juga memegang paspor Eropa.

“Tidak menyampaikan alasan atau dokumen yang menyatakan alasan deportasi.” Tulis Bilal Nieh di media sosialmya tentang pemerintah mesir.

Penyelenggara mengaku telah mengikuti protokol yang ditetapkan pemerintah Mesir dan mendesak Kairo mengizinkan akses masuk. Penyelenggara Global March to Gaza juga melaporkan setidaknya 170 peserta ditahan atau dihambat saat berada di Kairo.

“Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang dibutuhkan otoritas Mesir untuk memastikan long march ini bisa berlanjut dengan damai sampai perbatasan Rafah seperti yang direncanakan,” demikian pernyataan penyelenggara.

Munculnya gerakan March To Gaza ini menandakan betapa geramnya dunia terhadap apa yang terjadi di Gaza, baik kalangam umat muslim itu sendiri bahkan nonislam.

Hal ini menunjukkan putusnya harapan terhadap lembaga-lembaga internasonal dan para penguasa muslim yang telah terkooptasi oleh nasionalisme sempit.

Dengan peristiwa ini kita menjadi tahu bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah menjadi solusi untuk permasalahan Palestina.

Dari peristiwa ini kita temukan apa yang disebut wahn di dunia islam yaitu cinta dunia dan takut mati. Hal inilah yang menjadikan hati nurani para penguasa pudar dan membiarkan pembantaian di Gaza terjadi di depan mata.

Mereka seolah diam dan bungkam bahkan ikut andil menjaga kepentingan atas dasar hubungan diplomatik.

Sebagai umat islam harusnya kita mengerti betul betapa bahaya nasionalisme yang menjadikan negara muslim tersekat-sekat sehingga hilang ikatan persaudaraan sesama muslim. Selain itu muncul individualisme dan kebangsaan sempit antar umat muslim itu sendiri.

Pemikiran nasion state dalam arti sempit inilah yang oleh musuh dijadikan sebagai alat untuk meruntuhkan kesatuan global umat islam menjadi negara – negara kecil sehingga dengan leluasa mereka menjajah umat islam wabil khusus di Palestina.

Untuk melihat bagaimana kondisi umat islam saat ini kita bisa bercermin pada Palestina yang terjajah dan porak poranda karna kita kehilangan induk kepemimpinan (raain) yang bertindak sebagai junnah bagi umat dan negri-negri kaum muslimin.

Saat ini umat belum memiliki sosok pembebas seperti Ammar bin Ash ataupun Salahuddin Al-Ayubi – sosok pemimpin politik dan militer yang berani maju terdepan ke medan perang demi membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah pada tahun 1187 yang hampir 90 tahun berada di bawah kendali tentara zionis.

Sebagai umat islam kita harus paham betul arah pergerakan mereka, karna solusi dari pembebasan Palestina ada pada permasalahan politiknya, yaitu mengilangkan sekat antar negri-negri kaum muslimin karena Rosulullah bersabda: “Umat islam itu bagaikan satu tubuh. Satu bagian tubuh maka bagian tubuh yang lain merasakan demam.”

Sejarah memang akan berulang karena itu hadits dan janji Allah. Oleh karna itu sangat penting bagi kita mendukung dan memperjuangkan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik islam secara global.[]

Comment