Penulis: Minah, S.Pd.I | Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Guru adalah ujung tombak pelaksanaan pendidikan. Jasa mereka sudah seharusnya mendapat apresiasi dan dukungan dari penguasa. Bahkan guru-guru sukarelawan banyak mendedikasikan diri untuk mengajar anak-anak agar dapat memberikan ilmu kepada anak didiknya supaya menjadi cerdas dan saleh.
Pendidikan sebagai jalan untuk mewujudkan generasi unggul, sudah seharusnya menjadi perhatian penguasa. Selain menerapkan kurikulum unggul, negara juga menyediakan sarana dan prasarana pendidikan termasuk guru yang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Penguasa yang berperan sebagai pengurus rakyat akan menjamin kecukupan guru yang berkualitas untuk kelangsungan proses belajar mengajar bagi seluruh rakyat.
Berdasarkan Surat Edaran Mendikbudristek Nomor 36927/NPK.A/TU.02.03/2023, seperti ditulis laman Tribunnews (20/11/2023), seluruh instansi pemerintahan, termasuk bidang pendidikan, diinstruksikan untuk melaksanakan Upacara Hari Guru pada Sabtu, 25 November 2023. Tema yang diusung tahun ini adalah “Bergerak Bersama, Rayakan Merdeka Belajar”.
Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) kali ini seolah ingin menegaskan bahwa pemerintah benar-benar serius menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Kurikulum yang digagas bertujuan untuk menghasilkan lulusan siap kerja dan dapat memenuhi kebutuhan industri.
Namun sayang, peringatan ini harus bersanding dengan kondisi generasi sekarang. Generasi penerus bangsa yang sedang terpapar banyak problematika seperti maraknya kasus bunuh diri pada generasi muda.
Alasannya beranekaragam – ada yang karena cinta, terlilit utang, hingga permasalahan keluarga. Selain itu, Masalah lain seperti perundungan, perkelahian, perzinaan, narkoba, hingga pembunuhan yang dilakukan pemuda.
Berbagai macam kerusakan generasi ini harusnya menjadi pengingat bagi penguasa. Mereka perlu introspeksi untuk menemukan akar masalahnya. Namun, alih-alih menemukan penyebabnya, mereka justru fokus pada hal hal seremonial peringatan hari guru untuk memuluskan program Merdeka Belajar. Wajar jika banyak yang prihatin karena pemerintah tampak tidak serius mengatasi permasalahan generasi.
Fenomena kerusakan generasi mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dalam proses pembelajaran selama ini. Setiap ganti menteri, kurikulum ikut berganti. Akan tetapi, bukannya generasi bertambah baik, yang ada justru mengalami degradasi. Sudah sepatutnya kita mengoreksi akar masalah sebenarnya.
Tugas guru itu berat. Di tangan merekalah kualitas dan masa depan generasi ini dipertaruhkan. Jika kualitas guru bagus tentu akan mencetak generasi cerdas. Bagaimana guru bisa meningkatkan kualitasnya sedangkan negara tidak mensupport hal tersebut. Beban kerja guru yang semakin berat, kesejahteraan terutama guru honorer, dan kehidupan yang semakin liberal membuat guru semakin susah mendidik muridnya.
Padahal guru adalah salah satu penentu faktor kemajuan bangsa melalui pendidikan. Sebagus apapun guru yang tercetak, jika tidak disokong sistem pendidikan yang baik, maka kualitas guru tidak akan tampak secara signifikan.
Islam Solusi Tuntas
Guru termasuk orang yang berilmu yang akan Allah angkat derajatnya. Juga merupakan amal jariyah sedangkan bagi umat, peran guru adalah untuk membangkitkan umat.
Paradigma Islam menempatkan pendidikan sebagai komponen penting dalam membangun sebuah negara. Oleh karena itu, perhatian Islam terhadap pendidikan sangat serius, mulai dari konsep kurikulum, infrastruktur, hingga kesejahteraan guru.
Islam memandang generasi sebagai aset besar bagi bangsa dan negara. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang akan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini. Islam memiliki konsep khusus untuk mewujudkan generasi emas yang berkepribadian Islam.
Islam menerapkan sistem pendidikan dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan. Adapun tujuan dari penerapannya adalah untuk memuliakan manusia agar memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Khalifah sebagai pemegang kebijakan akan membuat kurikulum sesuai dengan pandangan Islam, bukan berorientasi materi belaka.
Begitu pula dengan para pendidiknya, penghargaan untuk mereka tidak sekadar dengan mengadakan hari guru. Negara juga tidak akan membiarkan gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, melainkan akan memuliakan dan memberikan gaji yang senilai dengan kerjanya.
Guru merupakan ujung tombak bagi sebuah peradaban. Kualitas guru sangat menentukan bagaimana generasi ini mampu menyerap ilmu. Dari peran strategis inilah Islam memberi perhatian yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Islam memberikan tempat mulia dan istimewa kepada seorang guru.
Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Lubab al-Hadits menuliskan bahwa pahala memuliakan guru tidak lain adalah surga. Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa memuliakan orang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku. Barang siapa memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah. Barang siapa memuliakan Allah, maka tempatnya di surga.”
Seperti Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al-Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di Kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Masya Allah.
Jadi, guru pun akan berupaya sebaik mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan menjalankan amanahnya dengan baik. Pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan murid untuk menghormati guru mereka.
Islam jauh lebih unggul dan matang dalam mempersiapkan generasi terbaik. Bukan hanya siswa yang terjamin haknya, akan tetapi, guru pun bisa sejahtera dan mulia. Generasi terbaik tidak akan lahir dari peradaban kapitalisme dan sekularisme yang rusak dan merusak. Generasi terbaik hanya lahir dari peradaban mulia dengan sistem pendidikan Islam yang sudah terbukti kegemilangannya. Wallahu a’lam bishawab.[SP]









Comment