Oleh : Rantika Nur Asyifa, Ibu Rumah Tangga
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Masyarakat kini sedang mengalami penderitaan yang tiada henti. Setelah maraknya kenaikan harga-harga terjadi akhir-akhir ini. Kenaikan harga bahan bakar, bahan pokok, dan lainnya tidak bisa dianggap hal yang lumrah atau sudah biasa mengalami kenaikan.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan komoditas daging ayam, bawang putih, cabai, gula, minyak goreng, daging sapi, telur dan tepung terigu selalu mengalami kenaikan harga tiap jelang Ramadhan.
Komisioner KPPU Dinni Melanie mengatakan, sebagian besar komoditas belum menunjukkan gejala kelangkaan. Hanya saja KPPU menyoroti lonjakan cabai merah yang diduga disebabkan oleh faktor cuaca.
“Tahun ini, kenaikan harga cabai merah teridentifikasi cukup signifikan di berbagai wilayah. Saat ini masih diduga sebagai akibat dari faktor cuaca,” ujar Dinni seperti dikutip kompas.com, Sabtu (2/4/2022).
Persoalan tersebut juga dihadapkan dengan adanya kenaikan pajak dan harga bahan bakar minyak sejak awal April.
KPPU menilai pentingnya mencegah agar pelaku usaha di komoditas pangan tidak memanfaatkan momentum kenaikan dengan mengambil keuntungan secara berlebihan, atau bahkan melakukan tindakan anti persaingan dalam memasarkan produknya.
Menurut KPPU, seperti dikutip Kompas.com (2/4/22), jaminan ketersediaan komoditas pangan memang bukan menjadi tanggung jawab KPPU. Oleh karenanya, KPPU hanya mengimbau agar pemerintah mencegah terjadinya kelangkaan.
Pertamina resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax pada 1 April 2022 lalu. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani menilai kenaikan harga Pertamax memang sudah tidak pilihan bagi pemerintah untuk menahan lebih lama harga BBM.
Sebab harga minyak dunia telah melebihi asumsi yang ditetapkan dalam APBN. Bila terus dipertahankan, maka beban APBN untuk subsidi semakin bengkak.
Dalam sebuah webinar bertajuk: Harga Kian Mahal: Recovery Terganggu?, Kamis (7/4/2022), Hariyadi menegaskan sebuah dilema bahwa kalau tidak dinaikkan APBN ini akan tergerus. Kalau dinaikkan tidak menguntungkan juga.
Kenaikan Pertamax juga dilakukan dalam momen yang tidak menguntungkan. Saat masyarakat Indonesia sebagian besar menjalani ibadah puasa yang biasanya tingkat konsumsi meningkat. Tak heran terjadi kegaduhan di tingkat publik. Kenaikan inflasi diperkirakan akan meningkat lebih tajam ketimbang secara historisnya.
“Ini karena bulan Ramadhan, jadi secara historis pasti akan ada inflasi,” kata dia.
Di sisi lain, seperti dikutip liputan6.com, (7/4/22), kenaikan Pertamax juga diiringi dengan hilangnya Pertalite lapangan. Publik pun makin geram karena mau tak mau terpaksa membeli Pertamax yang kini harganya sudah Rp 12.500 per liter dari sebelumnya hanya sekitar Rp 9.000-an per liter.
Harga bahan pangan terus naik dan pemerintah seolah menganggap hal yang biasa dan mengabaikan penderitaan rakyat. Kenaikan harga-harga yang bisa berbahaya bagi stabilitas ekonomi dan politik bangsa bahkan bisa menyebabkan kekacauan dan krisis politik yang memakan korban jiwa.
Sepatutnya diselesaikan dengan solusi Islam dan diberlakukan sistem ekonomi Islam. Islam menjamin segala aspek kehidupan termasuk ekonomi, menjamin ketersediaannya dan jaminan harga yang stabil, tidak bisa ditentukan oleh pemilik modal seenaknya atau bisa dimainkan oleh para mafia sebagaimana minyak goreng.[]
Wallahu a’lam bisshawab []













Comment