Idul Adha: Menyembelih Ego, Meneguhkan Ketaatan

Opini21 Views

Penulis: Ita Safitri | Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari Arafah selalu hadir membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian musim ibadah. Di padang luas tempat jutaan manusia berkumpul tanpa sekat jabatan, status sosial, maupun bangsa, umat Islam diajak kembali memahami hakikat penghambaan kepada Allah SWT.

Tidak ada yang pantas dibanggakan selain ketundukan total kepada-Nya. Di hadapan Allah, manusia hanyalah hamba yang datang dengan pakaian sederhana, membawa dosa, harapan, dan amal ketaatan yang dipersembahkan sepenuh jiwa.

Arafah mengajarkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak ditentukan oleh kekayaan, rupa, kedudukan, ataupun pujian manusia. Kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan totalitas ketaatan kepada Rabb-nya.

Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memberikan teladan agung ketika Allah menguji cintanya melalui perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail ‘alaihis salam. Tidak ada bantahan, penolakan, ataupun tawar-menawar.

Ketika perintah Allah datang, Nabi Ibrahim tunduk dengan penuh kepasrahan. Begitu pula Nabi Ismail yang menerima ketetapan tersebut dengan hati yang ridha. Dari peristiwa itulah Idul Adha menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan yang terus dikenang sepanjang zaman.

Sebagaimana ditulis Kementerian Agama RI dalam penjelasan makna Idul Adha, ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi juga simbol ketakwaan dan kepedulian sosial umat Islam.

Karena itu, Idul Adha sejatinya bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, melainkan momentum untuk menyembelih ego, kesombongan, dan hawa nafsu yang selama ini menguasai diri manusia.

Betapa banyak manusia yang mudah tunduk pada keinginan diri sendiri, tetapi berat tunduk pada aturan Allah. Betapa banyak yang rela mengikuti arus dunia, namun enggan menjalankan syariat-Nya secara kaffah. Padahal, ruh Idul Adha terletak pada keberanian menaklukkan “aku” demi meraih ridha Allah SWT.

Di tengah kehidupan dunia yang semakin individualistis, Idul Adha juga menghadirkan pesan persatuan umat Islam. Pada hari raya itu, jutaan kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menghadap kiblat yang sama, melafalkan takbir yang sama, serta merayakan hari besar yang sama.

Tidak ada perbedaan warna kulit, bahasa, maupun kebangsaan. Semua dipersatukan oleh kalimat tauhid: Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.

Momentum ini menunjukkan bahwa umat Islam pada hakikatnya adalah satu tubuh yang diikat oleh iman. Ketika satu bagian terluka, bagian lainnya turut merasakan sakit yang sama.

Karena itu, semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama muslim seharusnya tidak berhenti pada seremoni ibadah tahunan semata, tetapi diwujudkan dalam solidaritas nyata terhadap berbagai persoalan umat di berbagai belahan dunia.

Sebagaimana dilansir berbagai lembaga kemanusiaan internasional, konflik dan krisis kemanusiaan masih menimpa sejumlah wilayah muslim, seperti Palestina, Rohingya, dan Uyghur.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan, kepedulian, dan kekuatan umat merupakan kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhannya, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang menekankan keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum memperkuat ukhuwah, memperbesar kepedulian terhadap sesama, serta menumbuhkan kesadaran bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kemuliaan agamanya.

Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa jalan menuju kemuliaan selalu membutuhkan keikhlasan dan keberanian mengalahkan kepentingan pribadi.

Umat Islam hari ini pun dituntut mampu mengorbankan ego, fanatisme sempit, serta kepentingan golongan demi membangun persatuan dan menghadirkan kemaslahatan bersama.

Di hari raya ini, gema takbir seharusnya tidak hanya menjadi lantunan lisan, tetapi juga panggilan untuk memperbaiki diri dan memperkuat ketaatan kepada Allah SWT.

Sebab sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam pernah menjadi peradaban besar ketika menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan kehidupan, menghadirkan keadilan, serta menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Jalan menuju kemuliaan itu selalu bermula dari satu hal yang sama: ketaatan total kepada Allah SWT, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun berbangsa dan bernegara. Wallahu a’lam bish shawab.[]

Comment