Ilmu Membumi di BG Farm: Kolaborasi Petani dan Akademisi Bangun Model Kemandirian Pangan

RADARINDONESIANEWS .COM, KUDUS — Kebun percontohan BG Farm yang dikelola Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya mulai menunjukkan arah pengelolaan yang terukur. Baru berjalan 17 hari, namun konsep yang diterapkan sudah disusun berbasis sistem, standar operasional prosedur (SOP), serta perhitungan produksi yang realistis.

Pengelola kebun, Mas Warno, mengatakan langkah awal ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan model pertanian terpadu ke depan.
“Ini baru kita mulai 17 hari lalu, semoga bisa konsisten,” ujarnya, Minggu, 15 Februari 2026.

Pola Tanam dan Perhitungan Produksi
BG Farm menerapkan pola tanam jagung sebanyak 28 lubang per hari. Dalam 30 hari, jumlah itu setara dengan 840 tanaman. Dengan asumsi satu tongkol menghasilkan sekitar 500 biji, dan 1 kilogram setara kurang lebih 3.000 biji, maka 28 tongkol diperkirakan menghasilkan 4,5 hingga 5 kilogram jagung. Jika 840 tanaman panen optimal, produksi dapat mencapai sekitar 140 kilogram.

Dengan pola tanam bertahap tersebut, panen ditargetkan bisa berlangsung setiap hari secara bergilir dalam kurun sekitar 70 hari atau dua bulan lebih.
Integrasi Tanaman dan Ternak
Perhitungan kebutuhan pakan ternak menjadi bagian penting dari sistem yang dibangun.

Untuk tiga domba, kebutuhan batang jagung diperkirakan mencapai 12 kilogram per hari. Dengan asumsi satu batang berbobot sekitar 250 gram, diperlukan sedikitnya 48 batang jagung setiap hari untuk menjaga kestabilan pakan.

Sementara itu, 21 ayam kampung membutuhkan sekitar 1,26 kilogram jagung per hari, atau setara delapan tongkol. Dalam sebulan, kebutuhan mencapai sekitar 240 tongkol. Jika tersedia 840 tongkol, maka stok tersebut cukup untuk sekitar 105 hari atau 3,5 bulan.

Konsep yang dibangun tidak sekadar menggabungkan tanaman dan ternak, melainkan menciptakan ekosistem terpadu. Batang jagung dimanfaatkan untuk pakan domba, bijinya untuk ayam. Kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik, yang kemudian menyuburkan kembali tanaman. Hasil ternak berupa telur dikonsumsi santri dan warga, sementara ayam juga dikembangbiakkan atau dijual.

Model ini dirancang sebagai siklus produksi yang saling menopang.
Penguatan Hortikultura dan ZPT Alami
Penguatan sektor hortikultura turut menjadi perhatian. Rochmad Taufiq mendorong pemanfaatan zat pengatur tumbuh (ZPT) alami berbahan air leri fermentasi. Cairan tersebut difermentasi bersama buah dalam galon yang telah disiapkan untuk memperkaya nutrisi tanaman.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan dan menjaga produktivitas jagung agar target ketersediaan 48 batang per hari untuk pakan domba dapat tercapai.

Dalam Bimbingan Akademisi
Pengembangan BG Farm juga mendapat pendampingan sejumlah akademisi dan praktisi. Di antaranya Dr. Murtono yang dikenal sebagai pakar kewirausahaan, Dr. Carto, rektor sekaligus pakar hukum yang menaruh perhatian pada sektor pertanian, serta Rochmad Taufiq, petani sekaligus alumnus santri BSM.

Setiap Sabtu pagi dan Minggu sore, diskusi rutin digelar di gubuk kebun. Dari obrolan informal tersebut lahir evaluasi, perbaikan sistem, serta penyempurnaan rencana pengembangan.

Berangkat dari tiga domba dan 21 ayam kampung, BG Farm berupaya membangun model ekonomi riil berbasis kebun: terukur, berbasis SOP, dan dikelola secara kolektif.

Model ini diharapkan dapat berkembang menjadi kebun percontohan yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat Pati Raya dan para santri penerus.[]

Comment