Penulis: Nur Rahmawati, S.H. | Pendidik Generasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap kali kabar dari Gaza muncul, dada ini remuk. Gambar-gambar di layar bukan sekadar berita, melainkan potret nyata penderitaan: ledakan, puing bangunan, dan wajah-wajah mungil penuh debu. Rumah, sekolah, rumah sakit, bahkan masjid porak-poranda dihantam tanpa henti. Hidup terasa begitu rapuh, seolah tidur malam adalah pertaruhan nasib: “Apakah esok masih bisa bangun?” Banyak nyawa kembali kepada Rabb-Nya; Al Jazeera mencatat pada 27 Agustus 2025 bahwa serangan terasa bukan sekadar mematikan, tapi berupaya mengosongkan Gaza dari penduduknya — secara sistematis dan mengerikan.
Namun di balik tragedi itu lahir cahaya: anak-anak dan pemuda Gaza menunjukkan keteguhan luar biasa. Tidak putus asa, mereka membubung kuat dengan cita-cita—ingin menjadi dokter, insinyur, atau penghafal Al-Qur’an. Meski dentuman bom bergema, mereka masih tersenyum, menyatakan tegas: “Kami tidak akan meninggalkan tanah ini.” Semangat seperti itu membuat dunia terdiam—kagum sekaligus malu.
Dua Dunia Bertolak Belakang
Kini kita beralih ke negeri damai seperti Indonesia. Di kampus, mahasiswa hidup tanpa ancaman bom. Ironisnya, banyak justru terjerat fenomena duck syndrome—mahasiswa yang tampak ceria, berprestasi, namun menyimpan kecemasan tinggi. Kompas (22 Agustus 2025) mengulas bagaimana mereka tampak kuat secara eksternal, namun rapuh di balik layar. Istilah ini pertama kali digunakan di Stanford, dan kini meresap ke kampus-kampus Indonesia: tampak tenang tapi bergelut di dalam, tersiksa oleh ekspektasi diri dan sosial media.
Faktor utamanya? Menurut psikolog UGM, Anisa Yuliandri, duck syndrome bermula dari tekanan mencapai ekspektasi berlebihan—menjaga citra sempurna, terus berprestasi tanpa jeda. Banyak mahasiswa merasa harus ambil semua kesempatan, takut tertinggal, hingga mengabaikan batas diri. Meski terlihat tangguh, di dalam banyak yang terbakar—burnout, insomnia, bahkan depresi.
Studi dari IPB menambahkan dimensi ekonomi: fenomena ini juga mencerminkan tekanan kelas menengah yang terjepit tuntutan sosial dan krisis ekonomi. Keterbatasan akses pada dukungan psikologis dan stigma mental health semakin memperkuat beban itu.
Keretakan di Bawah Kapitalisme
Kapitalisme menanamkan nilai bahwa hidup hanyalah soal materi—agama disingkirkan dari ranah publik, menjadi lipstik sosial semata. Generasi yang lahir dari sistem ini cenderung goyah, kehilangan pegangan, dan sulit memaknai penderitaan.
Maka tak heran jika banyak mahasiswa mencari pelampiasan: binge-watch, lari ke dunia maya, atau terapi. Tapi seperti yang ditunjukkan studi mental health di Indonesia, hanya sedikit yang benar-benar mendapat akses—kurang dari 2% remaja menggunakan layanan kesehatan mental meski banyak merasa butuh.
Ironisnya, menjaga citra sukses jadi bentuk defensif, bukan bentuk pertumbuhan.
Dalam Bayang Runtuhnya Gaza, Tersimpan Pegangan Iman
Anak-anak Gaza, meski hidup dalam keterbatasan, tetap kuat karena memiliki fondasi iman. Mati syahid dianggap kemuliaan, penderitaan sebagai ujian, dan ilmu sebagai pengabdian. Saat dunia jatuh, mereka tetap berdiri—karena iman bukan sekadar idealisme, melainkan realitas yang menumbuhkan ketabahan.
Jurnal lokal menegaskan bahwa kampus perlu memperkenalkan pemahaman tentang duck syndrome, menanamkan keterampilan koping, dan membangun layanan konseling yang inklusif.
Islam sebagai Jalan Pemulihan
Duck syndrome bukan sekadar masalah psikologis—ia adalah krisis makna. Sekolah-sekolah dan universitas perlu mendidik bukan hanya untuk bersaing, tapi menjadi pribadi yang menyadari perannya sebagai hamba Allah dan makhluk sosial. Fokus kesuksesan harus bergeser dari IPK ke kebermanfaatan—meraih ridha-Nya, bukan pengakuan manusia.
Sejarah peradaban islam pernah menunjukkan bagaimana kepemimpinan Islam bisa menyatukan umat, bukan demi materi, tapi demi melindungi dan membangun peradaban. Gaza mengingatkan kita: penjajahan tak cukup dihentikan oleh belas kasihan—yang diperlukan adalah kekuatan iman dan komitmen politik kolektif.
Cermin yang Tak Boleh Dilewatkan
Generasi Gaza adalah cermin bagi umat Muslim: jika anak-anak yang hidup di antara runtuhan masih berani bermimpi dan belajar, bagaimana dengan pemuda di negeri yang nyaman?
Jawabannya sederhana: iman. Gaza memegangannya dengan tegas; generasi di bawah bayang sistem kapital perlu kembali menancapkannya.
Penutup: Pilihan Ada di Depan Mata
Kisah Gaza bukan hanya lukanya, tapi kekuatan luar biasa. Mereka membuktikan bahwa iman mampu menumbuhkan keberanian luar biasa dalam situasi terburuk. Sebaliknya, duck syndrome memperingatkan bahwa sistem yang menilai manusia dari citra bisa menciptakan generasi rapuh yang kehilangan arah.
Saatnya kita memilih: tenggelam dalam tuntutan kapitalisme atau kembali menenun hidup dengan tenang, kokoh, dan penuh makna—dengan Islam di hati dan Gaza sebagai inspirasinya. Apakah kita mau belajar?[]









Comment