Irah Wati Murni, M.Pd: Tragedi Anak Bunuh Ibu dan Alarm Bahaya Ruang Digital

Pendidikan, Sosial208 Views

RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA— Pengamat pendidikan dan aktivis dakwah Irah Wati Murni, M.Pd menilai tragedi pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya sebagai peringatan serius bagi masyarakat tentang bahaya laten ruang digital yang tidak terkelola dengan baik, khususnya bagi anak-anak dan remaja.

Demikian Irah Wati Murni, Pengamat Pendidikan Anak ini mengatakan dalam rilis yang dikirim ke Redaksi, Jumat (9/1/2026).

Menurut Irah, kekerasan ekstrem yang melibatkan anak tidak dapat dipahami sebagai peristiwa tunggal, melainkan hasil dari proses panjang yang saling terkait antara kondisi keluarga, pola asuh, dan lingkungan sosial, termasuk paparan konten digital bermuatan kekerasan.

Ia menjelaskan, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan emosional berpotensi mengalami distorsi cara pandang terhadap konflik dan penyelesaian masalah.

Kondisi tersebut lanjutnya, semakin berbahaya ketika anak mengonsumsi konten visual yang menormalisasi kekerasan sebagai bentuk ekspresi atau pelampiasan emosi.

“Ketika anak tidak mendapatkan ruang aman untuk menyalurkan emosi, lalu dibiarkan menyerap konten kekerasan tanpa pendampingan, maka yang terbentuk bukan ketahanan mental, melainkan ketumpulan nurani,” ujar Irah.

Sebagai pengamat pendidikan anak, ia menekankan pentingnya pendidikan karakter yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan spiritual anak.

Menurutnya, sekolah dan keluarga harus menjadi ruang utama pembentukan empati, pengendalian diri, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara sehat.

Irah juga menyoroti lemahnya literasi digital di tengah masyarakat. Ia menilai ruang digital saat ini belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan generasi muda, karena konten bermuatan kekerasan kerap dikemas secara menarik dan mudah diakses oleh anak-anak.

Dalam kapasitasnya sebagai aktivis dakwah, Irah menegaskan bahwa ruang digital tidak bisa dibiarkan bebas nilai. Menurutnya, dakwah memiliki peran strategis dalam menghadirkan panduan moral dan etika di tengah derasnya arus informasi digital.

“Ruang digital seharusnya menjadi sarana pendidikan dan pencerahan, bukan justru menjadi ladang subur bagi nilai-nilai destruktif. Di sinilah peran dakwah, keluarga, dan negara harus saling menguatkan untuk melindungi generasi,” katanya.

Ia menambahkan, tragedi tersebut harus menjadi momentum evaluasi bersama untuk memperkuat pengawasan terhadap konsumsi digital anak, membangun budaya dialog dalam keluarga, serta mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perlindungan anak di ruang digital.

“Tanpa langkah serius dan berkelanjutan, ruang digital berpotensi terus melahirkan krisis kemanusiaan yang berawal dari rumah, namun berdampak luas bagi masa depan bangsa.” Imbuh Irah.[]

Comment