IRI Indonesia Konsolidasikan Gerakan Lintas Iman untuk Perlindungan Hutan Tropis

Nasional1071 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia memasuki Fase 3 gerakan perlindungan hutan tropis. Langkah itu ditegaskan dalam Workshop Visi, Strategi, dan Perencanaan Program IRI Indonesia Phase 3 yang berlangsung pada 9–11 Februari 2026 di Jakarta.

Forum tersebut mempertemukan pemimpin lintas agama, tokoh masyarakat adat, ilmuwan, organisasi masyarakat sipil, mitra internasional, serta perwakilan pemerintah.

Pertemuan ini menjadi ajang konsolidasi arah strategis gerakan perlindungan hutan sekaligus penguatan advokasi hak masyarakat adat.

Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, mengatakan fase ketiga menjadi momentum mempertegas identitas IRI Indonesia sebagai bagian dari gerakan global dengan pendekatan khas Indonesia. “Fokus kami bukan hanya pada jumlah kegiatan, tetapi pada dampak nyata yang bisa dikawal bersama,” ujar Hening dalam keterangan tertulis.

Indonesia masih memiliki sekitar 120 juta hektare hutan tropis. Namun dalam dua dekade terakhir, jutaan hektare hutan primer hilang akibat ekspansi industri ekstraktif, kebakaran, dan lemahnya tata kelola. Kondisi ini dinilai mempercepat krisis iklim, memicu konflik lahan, serta mengancam keberlanjutan hidup masyarakat adat.

Anggota Advisory Council IRI Indonesia, Prof. Dr. Pilip K. Widjaja, menilai kerusakan hutan sebagai persoalan keadilan lintas generasi.

“Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pohon, tetapi juga ruang hidup dan masa depan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya pengakuan hak masyarakat adat, akuntabilitas negara dan korporasi, serta aksi nyata komunitas agama.

Senior Policy Adviser Indonesia and PNG Programme, Agung Sudrajat, menyoroti pentingnya konsistensi dan akuntabilitas program. Menurut dia, posisi Indonesia strategis dalam jejaring lima negara pemilik hutan tropis utama dunia. “Kerja kolaboratif dan pelaporan yang kuat menjadi kunci menjaga kepercayaan dan dukungan,” ujarnya.

Sementara itu, IRI Program and Grants Manager Ana Osuna Orozco menyebut kerja IRI Indonesia terhubung langsung dengan gerakan global. Ia menilai kekuatan IRI terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai kelompok lintas iman dan latar belakang untuk tujuan bersama. “Perlindungan hutan menjadi ruang pertemuan antara nilai keagamaan dan tindakan kolektif,” katanya.

Workshop tersebut menyepakati sejumlah agenda prioritas 2026, antara lain penguatan advokasi kebijakan pro-hutan dan pro-hak masyarakat adat, integrasi data ilmiah dalam pesan keagamaan, serta pengembangan kampanye publik “No Forest, No Future” berbasis komunitas dan rumah ibadah.
Di tengah meningkatnya tekanan krisis iklim, IRI Indonesia menegaskan perlindungan hutan sebagai agenda moral sekaligus kebijakan publik yang mendesak.

Interfaith Rainforest Initiative (IRI) merupakan forum kolaborasi lintas iman yang melibatkan pemimpin agama, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan pemangku kepentingan lain untuk melindungi hutan hujan tropis dan mendorong keadilan iklim.

Di Indonesia, IRI bergerak sebagai forum non-partisan yang menghubungkan nilai keagamaan dengan perlindungan hutan dan advokasi kebijakan publik. Kampanye utamanya, “No Forest, No Future”, menekankan bahwa keberlanjutan hutan berkaitan langsung dengan masa depan manusia.[]

Comment