Ironi Kemerdekaan dalam Ketidakberdayaan

Opini734 Views

 

Penulis: Diana Nofalia, S.P. | Alumnus IPB

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hari kemerdekaan memang layak dirayakan. Namun, pertanyaannya: kemerdekaan seperti apa yang harus dirayakan rakyat Indonesia hari ini? Menjelang peringatan kemerdekaan, justru berbagai ketidakadilan kian terasa. Kehidupan masyarakat semakin sulit. Teriakan “merdeka” seakan tercekat dalam ketidakberdayaan.

Memasuki pertengahan tahun ini, kelas menengah Indonesia masih pontang-panting mempertahankan hidup. Daya beli melemah dan penghasilan habis hanya untuk kebutuhan pokok serta operasional harian. Narasi pemerintah bahwa perekonomian Indonesia “terus melejit” terdengar bagai ironi—ibarat bonsai: tumbuh, namun tak pernah berkembang.

Data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mencatat penurunan simpanan nasabah perorangan pada triwulan I-2025 sebesar 1,09% secara tahunan.

Banyak warga terpaksa menguras tabungan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Riset Indonesia Economic Outlook Q3-2025 menyebut, dana yang ditarik umumnya untuk membeli makanan, membayar listrik, air, dan transportasi.

Situasi ini diperburuk oleh maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, mulai dari industri tekstil hingga teknologi. Penghasilan stagnan atau menurun, sementara harga-harga terus melambung dan pungutan negara semakin membebani. Kelas menengah terancam jatuh ke jurang kemiskinan. Peringatan 80 tahun kemerdekaan RI pun terasa suram, diselimuti “kabut hitam”.

Di sisi lain, potensi generasi muda dibajak untuk mengokohkan kapitalisme melalui penyebaran ide-ide yang menjauhkan umat dari Islam, seperti deradikalisasi, Islam moderat, dan dialog antaragama yang mengikis pemikiran Islam yang murni. Ini adalah bentuk penjajahan pemikiran, meskipun secara fisik Indonesia sudah merdeka.

Hakikat kemerdekaan seharusnya tercermin dari kesejahteraan rakyat—terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga. Ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sejatinya kemerdekaan belum diraih sepenuhnya. Kemerdekaan hakiki bagi umat Islam juga berarti kebebasan untuk berpikir dan hidup sesuai dengan Islam.

Akar masalahnya terletak pada penerapan sistem sekular-kapitalisme yang lebih melayani kepentingan segelintir kapitalis dibanding menyejahterakan rakyat. Kapitalis semakin kaya, rakyat semakin miskin.

Islam menawarkan solusi hakiki. Dalam sistem ini, negara mengelola kepemilikan umum untuk kemakmuran rakyat, menjamin kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan), membuka lapangan kerja melalui industrialisasi, serta memberikan tanah bagi yang mau menggarapnya. Bagi fakir miskin, negara menyediakan santunan dari Baitul Mal.

Selain itu, Islam menjaga kemurnian pemikiran umat agar selaras dengan syariat, menjadi pondasi kokoh kehidupan bermasyarakat. Untuk meraih kemerdekaan hakiki, diperlukan perubahan yang menyentuh akar masalah, yakni meninggalkan sekularisme kapitalistik yang terbukti gagal memberi kesejahteraan kepada rakyat.

Geliat perubahan belum menyentuh akar persoalan. Perubahan hakiki harus  didukung seluruh elemen masyarakat. Hanya dengan begitu, bangsa ini mampu membangun kemerdekaan hakiki. Wallahu a’lam.[]

Comment