Islam dan Kemerdekaan Hakiki

Opini415 Views

 

Penulis: Siti Aminah |  Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEW.COM, JAKARTA – Setiap manusia mendambakan kehidupan yang sejahtera dan penuh keadilan. Itulah sebabnya, umat dan bangsa di berbagai belahan dunia berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah.

Namun, merdeka dari penjajahan fisik tidak otomatis berarti meraih kemerdekaan hakiki. Banyak bangsa yang secara formal telah merdeka, tetapi sejatinya masih berada dalam cengkeraman penjajahan gaya baru.

Penjajahan modern hadir bukan lagi melalui senjata, melainkan lewat sistem, hukum, politik, ekonomi, hingga budaya. Penjajah menggunakan orang-orang terdidik yang dijadikan komprador untuk melayani kepentingan mereka.

Sistem ekonomi pun didesain sedemikian rupa agar kekayaan negeri terhisap menuju para kapitalis dan negara asing. Akibatnya, rakyat tetap miskin di tanah airnya sendiri.

Hari ini, kebijakan kapitalistik lebih berpihak pada asing dan kapital besar, bukan pada rakyat. Kerusakan tampak di seluruh aspek kehidupan. Lapangan kerja semakin sempit, sementara pengangguran terus meningkat.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi menyebut, dalam periode Agustus 2024 hingga Februari 2025 saja, terjadi pengurangan tenaga kerja signifikan.

Berdasarkan data BPS (Sakernas), seperti diungkap metrotv (8/8/25) terdapat 939.038 pekerja terkena PHK di 14 sektor usaha. Meski ada penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 523.383 orang, tetap terjadi pengurangan bersih hingga 415.655 orang. Sektor tekstil menjadi yang paling terpukul, apalagi ditambah banjirnya barang impor murah yang menghantam pasar domestik.

Situasi kian ironis menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan RI. Di bidang ekonomi, PHK melanda berbagai sektor, pendapatan masyarakat stagnan bahkan menurun, sementara harga kebutuhan pokok terus meroket. Banyak keluarga terpaksa menguras tabungan hanya untuk bertahan hidup. Kondisi ini membuat kelas menengah terancam jatuh miskin.

Tak hanya ekonomi, generasi muda pun tengah dijauhkan dari pemikiran Islam melalui program deradikalisasi, wacana Islam moderat, dialog antaragama, dan sejenisnya. Penjajahan pemikiran ini membuat umat semakin lemah, tidak mampu berpikir jernih dan solutif. Maka, meski Indonesia telah merdeka secara fisik, sejatinya bangsa ini masih terjajah secara hakiki.

Makna Kemerdekaan Hakiki
Kemerdekaan sejati mestinya tampak dalam kesejahteraan rakyat: terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, maupun keamanan. Ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, berarti hakikat kemerdekaan belum tercapai.

Sayangnya, sistem sekuler kapitalistik yang diterapkan justru memperlebar kesenjangan. Kapitalis semakin kaya, rakyat makin terpuruk. Karena itu, penerapan sistem Islam secara kaffah menjadi kebutuhan mendesak sekaligus solusi hakiki.

Islam menata kepemilikan umum, memastikan hasilnya kembali untuk kesejahteraan rakyat. Negara membuka lapangan kerja melalui industrialisasi, memberikan tanah bagi yang mau menghidupkan, serta menyalurkan santunan dari baitulmal bagi fakir miskin.

Lebih dari itu, sistem Islam menjaga agar umat berpikir sesuai tuntunan syariat, hidup dalam ketaatan kepada Allah, dan terbebas dari dominasi manusia. Inilah kemerdekaan hakiki: bebas dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, serta perbudakan oleh sesama manusia.

Islam Membawa Cahaya Kemerdekaan
Sejarah mencatat, misi Islam adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran, yang salah satunya berisi seruan:

“Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah, bukan kepada sesama hamba. Aku menyeru kalian untuk berada dalam kekuasaan Allah, bukan dalam kekuasaan manusia.” (Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553).

Dialog serupa juga diungkapkan Rab’i bin ‘Amir saat berhadapan dengan Jenderal Rustum dari Persia: “Allah mengutus kami agar mengeluarkan siapa pun yang mau dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari sempitnya dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman berbagai sistem menuju keadilan Islam.” (Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II/401).

Allah SWT pun menegaskan misi Islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya:

“Alif, laam raa. (Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS Ibrahim [14]: 1).

Kemerdekaan hakiki hanya akan terwujud dengan penerapan Islam secara totalitas. Itulah jalan untuk menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kehidupan yang benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan. Inilah tanggung jawab kita sebagai hamba Allah sekaligus amanah kita kepada umat manusia.[]

Comment