RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS) Kesehatan mulai gencar dalam melakukan upaya minimalisir defisit yang terjadi di perusahaan. Salah satunya dengan mengetatkan sanksi terhadap peserta yang masih menunggak iuran.
Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf mengatakan setidaknya perusahaan akan mengetatkan sanksi tersebut terhadap peserta yang termasuk dalam pekerja bukan penerima upah (PBPU/Informal). Sebab segmen tersebut merupakan salah satu penyumbang defisit yang dialami BPJS Kesehatan saat ini (intisari.grid.id, 13/11).
Melihat fakta terkait dengan BPJS Kesehatan membuat kita merasa senantiasa khawatir dan was-was. Pasalahnya ketika di tahun 2017 BPJS Kesehatan memangkas biaya operasionalnya terkait dengan persalinan. Di tahun ini (2019, Red) kembali ada hal yang menyejutkan. Defisit yang kian menggunung membut pihak BPJS Kesehatan memutar otak agar bisa menambalnya. Sanksi super ketat akan dijatuhkan kepada para pelanggan yang terhitung telat dalam membayar iurannya.
Mengapa kejadian tersebut sepertinya terus saja berulang?. Rakyat bagaikan hewan ternak yang selalu diperas tenaganya. Padahal kalau mau dikata, kita (masyarakat) membayar iuran BPJS Kesehatan tersebut untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan dari badan kesehatan tersebut. Kenapa malah seakan-akan kita mengemis untuk mendapatkannya?. Bagaimana seharusnya serta pelaksanaan dari BPJS kesehatan tersebut agar semua lini masyarakat dapat terpenuhi?. Karena sejatinya kesehatan ini adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa diurungkan waktunya, harus segera ditindaklanjuti.
Kesehatan dalam Pandangan Islam
Islam adalah sebuah agama yang tak hanya mengurusi masalah ibadah hamba kepada Robbnya saja. Namun mengatur seluruh permasalahan manusia, baik menyangkut dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain. Islam mengatur akan hal itu. Begitu pula dalam bidang kesehatan, islam sangat peduli terhadapnya. Karena dalam Islam kesehatan termasuk dalam kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi. Bahkan harus dipastikan pemenuhannya sampai pada individu per individu.
Nabi SAW bersabda: “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari hadist diatas didapatkan bahwa penguasa dalam hal ini pemimpin bertanggung jawab atas orang-orang yang dipimpinnya. Wajib memenuhi seluruh kebutuhan pokok rakyatnya tanpa adanya pengecualian. Kesehatan adalah salah satu komponen yang terkait dengan kebutuhan pokok. Dalam hal ini negara lewat pemerintah berkewajiban untuk menyediakan layanan kesehatan yang mempuni kepada rakyatnya.. Kemudian negara wajib memastikan pelayanannya sampai pada individu per individu rakyat.
Tidak seperti kejadian sekarang, selalu saja rakyat menjadi korban. Persisnya adalah korban pemalakan kembali oleh penguasanya sendiri. rakyat selalu jadi bulan-bulanan, diambil tenaganya tanpa mau me-recharge kembali. Kejadian yang hampir terulang setiap tahunnya. Padahal seharusnya itu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, kenapa sampai tidak berjalan dan defisit anggaran. Bagaimana caranya mensejahterakan rakyatnya jika jalan utama yang selalu di lontarkan adalah pemalakan dengan cara halus. Sebenarnya itu adalah buah dari sistem yang diterapkan sekarang. Karena bukan sistem Islam yang diterapkan maka selalu ada yang harus dikorbankan. Ini adalah fakta yang muncul dan memang benar adanya.
Sebenarnya Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang sangat gamblang dan wajib kita tiru. Kala itu sebagai kepala negara di Madinah, beliau mendapatkan hadiah dari seorang raja berupa dokter. Tanpa berpikir panjang, Rasulullah langsung memerintahkan kepada dokter tersebut agar memeriksa rakyatnya. Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa sebagai kepala negara harus bisa bersikap layaknya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin dalam hal ini adalah yang mampu mengayomi serta melindungi rakyatnya. Utamanya dalam bidang kesehatan tadi, karena ini adalah kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi.
Apabila Islam diterapkan secara sempurna dan menyeluruh maka akan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh rakyat. Termasuk di dalamnya adalah sarana dan prasarana untuk berprestasi dalam semua bidang. Di masa lalu ketika Islam berjaya, semua orang belomba untuk melakukan yang terbaik demi untuk ummat. Kala itu negara menyediakan rumah sakit kelas satu dan dokter-dokter ahi dibidangnya.
Sebagai contoh adalah rumah sakit umum Bimaristan al-Mansuri di Kairo. Rumah sakit tersebut mampu menampung sebanyak 8.000 pasien. Disana ada dua petugas yang menangani satu pasien. Hal itu dilakukan agar memberikan pelayanan serta kenyamanan bagi si pasien. Dengan begitu insya Allah pasien akan cepat pulih dari sakitnya.
Kemudian ada klinik dan apotik berjalan. Fasilitas tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik yang tinggal di desa-desa. Khalifah Al-Muqtadir Billah memerintahkan kepada kepada para petugas agar mengunjungi setiap desa dan tetap tinggal disana selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju desa lainnya.
Dari gambaran fakta sejarah di atas maka seharusnya penguasa benar-benar memperhatikan permasalahan utama rakyatnya. Kebutuhan pokok harus dikontrol dan diperiksa agar terpenuhi individu per-individunya. Utamanya masalah kesehatan ini. Karena itu adalah termasuk pada kebutuhan pokok rakyat. Tentunya sistem yang harus diterapkan adalah Islam. Karena hanya dengan Islam semua bisa diwujudkan secara sempurna. Dan satu hal yang perlu diingat bagi penguasa adalah bukan hanya bagaimana menyediakan pelayanan medis, namun yang lebih utama adalah memenuhi kebutuhan rakyat yang dirinya dipercayakan atas mereka.
Semoga sistem Islam dapat segera diterapkan dalam kehidupan kita. Tentunya perlu usaha yang sungguh-sungguh dari semua kaum Musimin. Wujud nyatanya adalah belajar serta berjuang bersama agar tujuan kita tadi bisa segera terwujud. Semoga Allah memberikan kekuatan serta kemudahan agar kita mampu menjalaninya. Wallahu a’lam [ ]
Mulyaningsih, S. Pt
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel










Comment