Islam, Solusi Terbebasnya Palestina dari Genosida

Opini1310 Views

 

Penulis : Nana Juwita Hasibuan, S.Si | 
Aktivis Dakwah dan Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hingga hari ini, upaya membebaskan Palestina dari genosida yang dilakukan oleh Zionis Yahudi belum juga membuahkan hasil. Lahirnya gerakan Global March to Gaza (GMTA) adalah potret nyata ledakan kemarahan umat dunia – sebagai sinyal bahwa harapan kepada lembaga-lembaga internasional dan para penguasa saat ini telah sirna.

Semua jalur perjuangan seolah menemui jalan buntu. Bahkan, GMTA pun mengalami ganjalan serius – lebih dari 30 aktivis dideportasi di hotel dan Bandara Internasional Kairo.

Pihak penyelenggara GMTA mengungkapkan bahwa sedikitnya 170 peserta ditahan atau dihalangi ketika berada di Kairo, meski mereka telah mengikuti seluruh protokol yang ditetapkan pemerintah Mesir. Mereka seperti ditulis kompas.tv (12/6/25) mendesak Mesir agar mengizinkan akses ke Gaza.

Ali Amril, Ketua Aliansi Kemanusiaan Indonesia (AKSI), menyebut GMTA sebagai bentuk “diplomasi jalanan” yang mencerminkan babak baru dunia menyikapi tragedi kemanusiaan. Menurutnya, GMTA lahir dari jeritan penderitaan rakyat Palestina. Sayangnya, kuatnya gembok Rafah justru mempertegas bahwa gerakan kemanusiaan saja tak cukup menyelesaikan krisis Gaza.

Tertahannya peserta GMTA di perbatasan Rafah menjadi bukti nyata bahwa sekat buatan penjajah di negeri-negeri Muslim—bernama nasionalisme dan konsep negara-bangsa—adalah penghalang utama yang sulit ditembus.

Nasionalisme telah merasuki nurani rakyat dan para pemimpin Muslim . Alih-alih membela saudara seiman yang dibantai di depan mata, mereka justru ikut menjaga kepentingan penjajah, demi meraih restu dari negara adidaya seperti Amerika Serikat.

Umat Islam harus sadar bahwa nasionalisme dan negara-bangsa adalah produk pemikiran asing yang sengaja digunakan musuh-musuh Islam untuk memecah kekuatan Islam yang pernah menguasai dunia sejak Rasulullah Muhammad.

Dengan batas nasionalisme inilah, kekuatan Islam semakin melemah sehingga mereka dapat melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Muslim.

Nasionalisme telah memecah belah umat Islam menjadi puluhan negara, yang masing-masing lebih sibuk memuja bangsanya sendiri. Ironisnya, nasionalisme bahkan kerap dijadikan dalih untuk membela kepentingan sebangsa, sambil menutup mata terhadap penderitaan sesama Muslim di negeri lain.

Islam adalah agama universal. Allah SWT menurunkan Islam melalui Nabi Muhammad ﷺ untuk seluruh umat manusia tanpa batas teritorial. Firman Allah SWT dalam surat Saba’ ayat 28 menegaskan:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (TQS. Saba [34]: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam berikut hukum-hukumnya berlaku untuk semua manusia—tanpa memandang ras, suku, bangsa, jenis kelamin, tempat, atau waktu. Islam relevan di masa Rasulullah ﷺ, hari ini, dan di masa depan.

Islam juga menegaskan bahwa setiap Muslim adalah saudara tanpa memandang batas wilayah atau asal bangsa. Ini ditegaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah ﷺ pun bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya dizalimi (musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seruan Islam bukan seruan kebangsaan atau kesukuan. Islam mengajak manusia keluar dari gelapnya fanatisme menjadi penerima cahaya petunjuk. Rasulullah ﷺ dengan tegas melarang ashabiyah (fanatisme golongan), sebagaimana sabdanya:

“Siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Abu Daud).

Nasionalisme adalah ide asing yang ditanamkan Barat sejak masa penjajahan, dimulai sejak abad ke-16. Ini adalah bagian dari strategi penjajahan ideologis mereka: di satu sisi, mereka melemahkan Islam secara politik dan militer; di sisi lain, mereka menyusupkan virus kesukuan dan kebangsaan ke benak kaum Muslim.

Tujuannya jelas, memecah-belah umat Islam agar tidak pernah bersatu dalam kekuatan politik global.

Solusi Nyata: Kepemimpinan Politik Islam global

Maka sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa solusi bagi Palestina bukanlah sekadar aksi kemanusiaan, melainkan langkah politik global. Solusinya adalah menyingkirkan sekat negara-bangsa dan kembali pada satu kepemimpinan Islam global yang dapat melindungi umat di mana pun mereka berada.

Untuk itu, penting bagi umat bergabung dengan gerakan dakwah ideologis yang konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam global—tanpa terhalang oleh batas-batas wilayah atau tekanan kekuasaan.

Hanya dengan Islam sebagai satu-satunya sistem yang adil dan menyatukan umat, Palestina bisa benar-benar merdeka, dan genosida Zionis Yahudi dapat dihentikan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment